Kementrian Pariwisata Sarawak, Malaysia menyelenggarakan festival film bertajuk ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2015 pada 9-11 April lalu di kota Kuching yang letaknya berbatasan langsung dengan Kalimantan. AIFFA 2015 merupakan kali kedua festival ini diadakan. Pengamat perfilman Shandy Gasella yang juga kontributor detikHOT diundang bersama sejumlah penggiat film untuk merasakan langsung kemeriahan festival yang terbilang unik tersebut. Ada atmosfer berbeda bila dibandingkan dengan festival-festival film lain yang pernah dihadirinya. Berikut bagian pertama dari laporannya.
AIFFA menjadi cukup istimewa dan berbeda lantaran digerakkan sepenuhnya oleh pemerintah setempat, dalam hal ini Kementrian Pariwisata Sarawak. Fungsi utama dari kementrian ini di antaranya pastilah untuk memajukan sektor pariwisata daerah. Lantas, bagaimana ruang lingkup pariwisata ini berkelindan dengan dunia film amatlah menarik untuk kita cermati bersama.
Rombongan delegasi Indonesia tiba di bandara Kuching pada 9 April sekitar pukul 17.00 waktu setempat, setelah sebelumnya menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan sebab harus dua kali naik pesawat untuk mencapai kota ini dari Jakarta. Di pintu keluar bandara Kuching kami dikejutkan oleh sekelompok sukarelawan AIFFA yang menyambut kedatangan kami dengan begitu hangat dan riang gembira. Kelelahan kami pun terbayarkan ketika kami disambut dengan penuh suka cita seperti itu. Di hadapan kami mereka menari-nari sambil diiringi musik, yang membuat kami tak bisa tinggal diam dan cuma menonton aksi tarian mereka; kami pun ikut sedikit bergoyang dan tertawa-tawa terbawa suasana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sambutannya kepada segenap delegasi tamu undangan negara-negara Asia Tenggara, Datu Ik Pahon Anak Joyik menyatakan bahwa festival film yang digelar dua tahunan ini masihlah muda sekali, masih dalam tahap belajar dan fase menemukan posisinya dalam peta festival film di dunia. Di gedung Sarawak Tourism Complex ini sejumlah seminar tentang film diadakan, termasuk kelas coaching akting yang diasuh oleh Thierry Bleu.
Yang paling membedakan AIFFA dengan festival-festival film lain di antaranya bahwa sepanjang hari festival ini diadakan tak ada venue atau ruang auditorium yang semestinya disediakan untuk memutar film-film para peserta dari tiap-tiap negara yang filmya masuk seksi kompetisi. Dalam setiap festival film di mana pun hal tersebut lumrah adanya, namun tidak di AIFFA yang memiliki rancangan program sendiri. Film-film yang dinominasikan pada festival ini diputar secara marathon pada malam hari hingga menjelang pagi di hari kedua di Sarawak Cultural Village, kawasan hutan tropis Borneo yang didesain sedemikian rupa hingga membuat saya begitu takjub bahwa ternyata sebuah pesta akbar dapat dihelat di tengah hutan yang letaknya jauh dari pusat kota.
Ide membuat program nonton film secara marathon di kawasan hutan tropis memang boleh juga, terdengar sangat eksotis dan keren. Namun, sulit juga untuk menikmati rangkaian program nonton marathon ini pada waktu yang bersamaan ketika di dalam hutan tropis itu juga diadakan atraksi utama berupa hiburan pertunjukan yang gemerlapan. Ada pertunjukan drama panggung kisah rakyat Sarawak yang dipentaskan dengan begitu memukau, ada pula penyanyi legendaris asal Indoensia Emilia Contessa yang ikut memanaskan suasana malam itu dengan bernyanyi lagu dangdut. Dan, yang paling penting di antara semuanya adalah film-film yang masuk nominasi diumumkan untuk pertama kalinya. Sambil menikmati rangkaian hiburan yang disuguhkan, kami pun dijamu oleh makanan-makanan santap malam, di antaranya masakan khas Sarawak yang menggugah selera.
Selepas mengisi perut sekitar pukul 21.30 waktu setempat, saya penasaran juga ingin melihat lokasi menonton film marathon di hutan tropis itu. Akhirnya saya tinggalkan sesaat kemeriahan malam penuh bintang antarbangsa itu demi mencari lokasi tempat film-film yang dinominasikan diputar. Setelah bertanya arah pada sukarelawan, saya mendapati bahwa lokasi pemutaran film yang dimaksud ternyata diadakan di aula bangunan tradisional, dengan menggunakan layar berukuran sedang dan sistem suara dari speaker seadanya. Selera menonton saya pun kandas. Pada malam itu tak banyak pula yang hadir untuk menonton, saya hitung hanya ada sekitar tiga puluhan orang yang duduk di lantai kayu aulia itu.
Saya pun kembali ke keriuhan pesta malam itu. Saya hampiri Lasja F Susatyo, sutaradara 'Sebelum Pagi Terulang Kembali' yang filmnya diikutkan ke AIFFA ini. Saya tanya pendapat dia mengenai festival ini. "Gue salut bagaimana festival film yang mana merupakan acaranya kementrian pariwisata di sini didukung oleh begitu banyak sukarelawan, dan mereka begitu bersemangat. Gue rasain semangat mereka, dan itu bikin gue pengen nangis," ujarnya. Ada rasa takjub, senang, haru dan kesal yang bisa saya rasakan ketika melihat raut wajahnya. "Kita bisa bikin event seperti ini, bisa bikin yang lebih keren, kita punya banyak seniman yang hebat-hebat yang mampu membuat pertunjukan tak kalah heboh dari ini," tambahnya. Lalu, ia buru-buru menyambung lagi, seolah mementahkan perkataannya sendiri sebelumnya. "Ya, tapi kita tahulah kerja pemerintah kita kayak gimana dalam memperlakukan film, yang itu bikin gue kesel. Tapi, kita lupain dululah soal itu. Datang ke festival ini setidaknya gue bisa belajar banyak, gue bisa ketemu filmmaker-filmmaker dari negara-negara tentangga dan saling bertukar ide, walau belum maksimal, tapi festival ini sudah berusaha untuk menjembatani hal itu."
Kuching tempat festival film ini diadakan adalah kota kecil yang letaknya terpisah jauh melintasi lautan dengan Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia. Kuching memiliki penduduk sekitar 700.000 jiwa, di sini keadaan cukup tenang dan jarang ditemui kemacetan di jalanan kota. Ada bioskop kecil di sebuah mall yang juga kecil yang terletak tak jauh dari tempat saya menginap. Di bioskop itu tengah diputar film lokal berjudul 'Hantu Bungkus Ikat Tepi', semacam film pocong-pocongan di Indonesia. Dan, setelah saya berkorespondensi dengan beberapa warga lokal baik yang menjadi sukarelawan AIFFA maupun yang bukan, nampaknya budaya menonton film belum tumbuh di Kuching. Beberapa panitia penyelenggara bahkan tak tahu atau belum menonton film-film Malaysia yang diikutsertakan dalam AIFFA, apalagi film-film dari negara tetangga.
Festival film amatlah perlu diselenggarakan dan diatur oleh orang-orang yang paham atau memiliki rasa penuh kecintaan terhadap film, apalagi festival ini berskala internasional. Di luar pihak penyelenggara, pengisi acara seminar, dewan juri, dan delegasi-delegasi yang diundang dari tiap-tiap negara di Asia Tenggara memang adalah insan-insan para penggiat film yang terdiri atas sutradara, produser, eksekutif produser, hingga para pemain film. Namun, agar para penggiat film dari lintas negara ini dapat saling bertemu dan membicarakan film, pihak penyelenggara festival perlu jadi jembatan yang dapat menghubungkan mereka. Salah satu caranya dengan mengadakan pemutaran film di audiotorium yang memadai sebagai tempat eksibisi film, sepanjang hari. Serta, ini yang penting, selepas pemutaran film diadakan sesi tanya jawab dengan para pembuat film, agar dialog-dialog tentang permasalahan film dapat terkuak dan didiskusikan bersama, hingga (permasalahan) dunia film di Asia Tenggara ini dapat terpetakan. Saya kira ini yang paling penting untuk diberi perhatian lebih ketimbang acara nonton marathon di tengah hutan yang hanya terdengar keren di telinga itu, namun minim manfaat nyata.
Sepanjang festival film berlangsung, diskusi-diskusi soal film, budaya pop, isu-isu sosial yang terjadi di belahan negara Asia Tenggara nyaris absen dibicarakan. Terkecuali, bila sesama penggiat film itu bertemu muka langsung dan berani saling sapa saat berpapasan di sekitar lokasi festival diadakan. Tak ada forum khusus agar dialog-dialog ini terwadahi. Pihak pariwisata Sarawak memang amat diuntungkan dengan terlaksananya AIFFA ini, misalnya terwujudnya MoU dari beberapa rumah produksi film yang berkomitmen untuk membuat film dengan Sarawak sebagai lokasi syuting. Ada pula komitmen yang diberikan oleh pihak negara China untuk bekerja sama dengan pemerintahan Sarawak membangun infrastruktur pariwisata dan rencana pembangunan themepark yang sudah tentu bakal mendorong pertumbuhan pariwisata makin melesat di masa-masa mendatang.
Sebagai tamu undangan, alih-alih merasakan secara langsung ambience sebuah festival film, kunjungan saya ke Kuching lebih terasa sebagai acara melancong ke luar negeri. Ini pekerjaan rumah bagi pihak penyelenggara yang harus segera ditangani agar porsi promosi wisata dan cita-cita luhur membangun perfilman se-Asia Tenggara dapat imbang dan co-exist. Sebab bila di tahun-tahun mendatang program festival ini masih mengadopsi format yang kini ada, dikhawatirkan "festival film" hanya sekedar tempelan bagi hajatan turisme.
Shandy Gasella pengamat perfilman Asia
(mmu/mmu)











































