"Novelnya saya dapatkan di tahun 1996," ungkap sutradara asal Malaysia berdarah Padang Indonesia dalam narasi cerita film 'Gunung Emas Almayer' beberapa waktu lalu.
Film ini disulapnya menjadi sebuah film luar biasa dengan mengkombinasikan antara seniman Indonesia dan Malaysia sebagai pemeran penting dalam cerita. Novel yang diangkat ke layar lebar ini merupakan rumah produksi kerjasama antara Media Desa Indonesia, dengan eksekutif produser Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dan rumah produksi Tanah Licin dengan eksekutif produser U-Wei Bin Haji Saari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Impian Almayer untuk menemukan gunung emas, tak terlalu mudah. Ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi, baik dari para pedagang Arab, manuver politik ketua suku adat setempat, tentara militer Kolonial Inggris, pejuang kemerdekaan maupun dari keluarganya sendiri.
(kmb/tia)











































