Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Nasri Cheppy meninggal dunia Minggu (19/12/2010) malam pukul 22.25 WIB di RS Sari Asih Ciledug, Jakarta Selatan. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam usia 60 tahun. Meninggalkan seorang istri Lily Amelia dan lima anak. Juga tentu puluhan karyanya yang sebagian pernah dicatat sebagai film laris.
"Keluhannya sakit perut. Menurut dokter, Bang Cheppy mengalami pendarahan di usus," kata Lily ditemui di rumah duka, Komplek Taman Asri Ciledug, Jakarta Selatan, Senin (20/12/2010) pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi karena sakitnya sudah tidak bisa dia tahan, kami pun menggotongnya ke RS," cerita Lily lagi.
Nasri Cheppy lahir di Banda Aceh pada 16 Oktober 1950. Di masa kanak-kanak, Cheppy gemar nonton film. Tapi sebelum terjun ke dunia film hingga mencapai posisi penting, Cheppy terlebih dulu bergelut dalam dunia teater. Di akhir tahun 70-an hingga awal 80-an Cheppy membentuk grup teater remaja. Ia berhasil membawa grupnya menjuarai Festival Teater Remaja se-Jakarta Timur, kemudian menjuarai tingkat DKI Jakarta. Setelah itu ia bergabung dengan Teater Ketjil, pimpinan Arifin C Noer.
Di dunia film Cheppy mengawali karier dari bawah sekali. Di bagian kostum dalam film 'Pencopet'. Lalu menjadi pencatat scrip dalam film 'Suci Sang Primadonna' karya sutradara Arifin C Noer.Β Kariernya kemudian meningkat menjadi asisten sutradara Wim Umboh dalam film 'Sesuatu yang Indah'. Dia juga pernah menjadi astrada Sjumandjaja dalam film 'Yang'.
Debutnya sebagai sutradara dimulai lewat film 'Ranjau-Ranjau Cinta' pada 1984. Tahun 1987 ia kemudian menyutradarai film 'Catatan si Boy'. Film itulah yang melambungkan namanya mencapai posisi sutradara film muda yang cukup penting dalam sejarah film Indonesia. Dia termasuk di antara hanya sedikit sutradara yang harus antri lama bagi produser film untuk dapat kontrak kerjasama. Apalagi sukses komersil yang dicapai film tersebut sebagai film laris, membuatnya harus melayani penyutradaraan 'Catatan si Boy' untuk beberapa sekuel.
Dari film itu Cheppy melahirkan bintang cemerlang Onky Alexander yang sempat beberapa waktu jadi idola remaja. Film itu juga mengangkat nama Didi Petet yang bermain sebagai banci Emon. Juga almarhum Ida Kusumah yang diberi peran sebagai ibu Boy dengan gaya kaum the haves yang congkak. Dalam peran itulah Ida mengaduk-aduk bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda. Dalam salah satu serialnya, pengambilan gambar 'Catatan si Boy' dilakukan di Los Angeles, AS.
Cheppy juga tercatat sebagai sineas produktif. Sekitar 30 judul film dan belasan sinetron berhasil dia sutradarai. Pada 2003 ia kembali mengulang suksesnya membuat film laris lewat 'Eiffel I'm In Love'. Film ini juga dibuat serial. Film itu turut mencuatkan nama Shandy Aulia dan Samuel Rizal sebagai bintang.
Dunia film Indonesia jelas berkabung kehilangan sineas pontensil Nasri Cheppy yang amat langka, yang tidak selalu bisa lahir satu dalam satu dasawarsa. Di atas pembaringan, saat disemayamkan di rumah duka, wajah Cheppy tampak teduh dan tenang dalam diam. Semoga Allah SWT memberinya tempat yang lapang, nyaman dan indah. Selamat jalan, kawan.
* Ilham Bintang, wartawan senior, pemimpin redaksi Cek&Ricek.
(yla/yla)











































