Gerakan yang diberi nama Save JIFFest itu muncul di situs jejaring informasi Twitter seiring dengan digelarnya jumpa pers "Save Our JIFFest" di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (14/10/2010) pukul 11.00 WIB.
Twit-twit yang menunjukkan dukungan terhadap JIFFest ditandai dengan hashtag (tanda pagar) #SaveJIFFest. Berbagai kalangan yang peduli, dari artis, penulis skenario, produser hingga intelektual ikut ambil bagian dengan antusias dan penuh emosi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Shanty, dukungan publik adalah yang paling utama bagi JIFFest yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-12. "Occupancy rate setiap tahunnya selalu di atas 70%," ungkap dia seraya mengakui bahwa pendanaan JIFFest selama ini datang dari funding asing, yang bertujuan untuk mengadakan pertukaran budaya.
"Enampuluh persen dana asing, 20% sponsor lokal, 10% pemerintah dan 10% penjualan tiket," papar Shanty sambil membandingkan dengan skema pendanaan Pusan International Film Festival yang lebih banyak didukung oleh pemerintahnya.
"Kalau di Pusan, 30 % budget festival di-cover oleh pemerintah pusat, 30 % pemerintah kota, sisanya melalui tiket (publik) dan sponsorship (swasta)," terang dia.
Pemikir muda Islam dari NU Ulil Abshar Abdalla melalui akun Twitter-nya mendukung penuh gerakan #SaveJIFFest. "Mempertahankan ruang yang cukup untuk kesenian, termasuk film, adalah bagian dari 'jihad' untuk membangun ruang publik yang sehat," ujar dia.
JIFFest 2010 dijadwalkan 27 November - 3 Desember. Namun, jika hingga 1 November dana yang dibutuhkan belum juga mencukupi, besar kemungkinan tahun ini akan berlalu tanpa JIFFest.
(mmu/mmu)











































