ADVERTISEMENT

Salman Rushdie Ditikam di New York, Bukan Pertama Kalinya Dicoba Dibunuh

Tia Agnes Astuti - detikHot
Sabtu, 13 Agu 2022 15:04 WIB
Siapa Salman Rushdie, penulis novel Ayat-Ayat Setan yang ditikam di atas panggung?
Foto: BBC World
Jakarta -

Novelis The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan dikabarkan ditikam di bagian leher dan perut saat sedang manggung di acara New York pada Jumat (12/8/2022). Dia pun langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi dan menggunakan ventilator.

Ini bukan pertama kalinya Salman Rushdie mendapatkan kecaman, ancaman, sampai percobaan pembunuhan. Pada 2016, ia pernah diancam dibunuh oleh kelompok garis keras Iran.

Sebuah organisasi keagamaan Iran akan memberikan hadiah senilai U$2,7 juta atau sekitar Rp 36 miliar bagi mereka yang bisa membunuhnya.

Tiga tahun lalu, hadiah tersebut ditingkatkan lagi menjadi $3,3 juta atau sekitar Rp 44 miliar. Pamflet yang berisi imbalan tersebut diketahui disebarluaskan di jalanan-jalanan Iran.

Kantor berita Fars menyebutkan ada 40 pamflet yang diketahui tersebar. "Pamflet menyebutkan imbalannya ditingkatkan U$ 600 ribu dan ingin menegaskan bahwa aturan fatwa itu masih berlaku," ucap Mansour Amiri, penyelenggara pameran teknologi digital saat mengumumkannya, seperti dilansir dari Reuters.

Pada 1989 silam, pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan fatwa atau perintah agama untuk membunuh Rushdie. Bukunya The Satanic Verses dikutuk dan dihujat karena dianggap menyerang Islam. Berpidato di radio kala itu, Rushdie dan penerbit bukunya dituduh telah murtad.

Pada 1989, pemerintah Inggris mulai melindungi Rushdie. Setahun berikutnya tepat tanggal 7 Maret, Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris karena masalah ini.

Pada 1990, Rushdie menulis esai, mencoba membuktikan ia masih beriman pada Islam. Di tahun 1998, Presiden pro-reformasi Mohammad Khatami menyatakan fatwa tersebut tidak berlaku karena Rushdie tidak bersalah.

Selama 34 tahun, ia hidup bersembunyi. Setelah dinyatakan tidak bersalah, ia tinggal normal di New York.

Selama hidup bersembunyi, ia menggunakan nama samaran dan jarang muncul ke hadapan publik. Namun tiga tahun setelah ancaman matinya dicabut pada 11 September 2001 ia mulai muncul lagi di berbagai acara.

"Kita hidup di dunia yang kadang subyek berubah dengan sangat cepat. Ini adalah subyek yang sangat tua. Sekarang ada banyak hal lain yang perlu ditakutkan dan orang lain bisa saja dibunuh," pungkasnya.

(tia/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT