ADVERTISEMENT

Terlihat Keren itu Katro

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Kamis, 31 Mar 2022 18:04 WIB
Thrifting
Foto: Sepatu Campess dokumen YouTube channel Isser James
Jakarta -

Thrifting, streetwear, sepatu, apapun merek dan jenisnya, sedikit-banyak adalah usaha seseorang untuk tampil keren sesuai dengan karakter dan gayanya masing-masing. Tapi bagi seorang Isser 'Whitey' James, dia punya pandangan sendiri.

Isser James, kerap kali memberikan komentar terkait streetwear dan sneakers. Selain memang berkecimpung di dalamnya sejak lama, komentar Isser berhubungan dengan tren yang seharusnya keren, tapi justru terkesan norak.

Tanpa bermaksud menganggap dirinya yang paling keren di antara yang lain, Isser berpendapat, bahwa keren itu tidak boleh sekadar ikut-ikutan. Keren harus lebih dari 'terlihat keren'.

ThriftingTerlihat Keren itu Katro Foto: Sepatu Campess dokumen YouTube channel Isser James

"Keren orang itu beda-beda, tapi kalau kita sudah pengen terlihat keren, kita katro (norak, kampungan, tidak keren). Keren itu representasi diri lo aja, jadi diri lo aja, nggak usah berlebihan, itu keren. Kalau lo sudah pengen jadi somebody else, itu katro," jelasnya saat dihubungi detikHOT melalui sambungan telepon.

"Kayanya kalau gue bisa merepresentasikan diri gue tanpa brand dan orang masih bilang keren, itu lebih asik sih. Apapun merek yang ada di badan lo, yang menempel di gue nggak harus mahal, nggak harus populer, karena keren itu bukan soal harga," lanjut Isser lagi.

Bicara soal 'terlihat keren' daripada keren itu sendiri, pemilik toko streetwear ritel Badass Monkey ini kemudian merujuk pada Sepatu Compass. Merek sepatu asli Indonesia asal Bandung yang berdiri sejak 1988. Sepatu Compass yang sempat kehilangan pamor bertahun-tahun, tiba-tiba kembali populer di sekitar 5 tahun terakhir dan menjadi salah satu sepatu yang paling banyak dicari.

Ketersediaannya yang terbatas, dengan proses pembelian yang rebutan, turut membuat harga jualnya menjulang, ratusan ribu menjadi jutaan. Sentimen negatif bermunculan mengatakan bahwa Compass adalah sepatu setan alias sepatu yang tidak kelihatan wujudnya. Hanya dapat dimiliki oleh kelompok sosial tertentu, utamanya para selebriti.

Isser James mengkritisi hal tersebut. Menurutnya ini kesenangan yang membabi buta sehingga tidak lagi punya akal sehat dan kehilangan unsur keren. Pada 2020, dia merilis sepatu parodi, dengan desain yang menyerupai, diberi nama Campess.

"Gue nggak berpikir 100% negatif terhadap Compass, bener atau nggak marketingnya mereka, satu poin, Compass merek sepatu nasional yang berhasil. Gue benci, tapi ya kita harus mengakui, mereka sampai bisa kolaborasi sama Tame Impala dan lain-lain. Bener atau nggak caranya, itu strategi bisnis."

Terlihat Keren itu Katro Foto: Sepatu Campess dokumen YouTube channel Isser James

"Gue melakukan itu (kritik), bukan artinya gue nggak mendukung. Tapi, apakah barometer dinilai bagus dan keren cuma dilihat dari segi penjualan saja? Tapi yang jadi perhatian faktor etika di situ."

Tanpa bermaksud menggurui, Isser juga mengungkapkan buah pikirannya yang lain. Bisa dibilang mungkin sebuah ugly truth atau kebenaran yang pahit untuk diterima. Setidaknya menurut dirinya sendiri.

Orang Indonesia juga mudah sekali terbakar sama istilah 'nasionalisme' sehingga kemudian lupa melihat lagi kualitas dan lainnya. Gue ngomong kaya gini, setidaknya buat followers gue yang sudah ngikutin gue, apakah keren itu harus lo pake baju yang semua orang pake? Kita di-direct sama media sosial. Kita harus berpikir sehat, banget barang yang kita beli hanya karena sekadar nasionalitas kita," pungkasnya.



Simak Video "Momen Danny 'The Script' Telepon Mantan Kekasih Penonton Konser"
[Gambas:Video 20detik]
(mif/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT