Bahasa Ngapak Tegal Didorong Masuk Kurikulum Sekolah

Imam Suripto - detikHot
Minggu, 13 Des 2020 09:53 WIB
walikota tegal
Walikota tegal ingin Bahasa ngapak masuk kurikulum Foto: Imam Suripto/detikhot
Kota Tegal -

Bahasa ngapak Tegal akan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di Kota Tegal, Jawa Tengah. Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono beralasan, hal tersebut untuk melestarikan budaya lokal buat generasi muda.

Bahasa tegalan memiliki ciri yang khas dan selalu menarik. Selain dialeknya yang berbeda dengan bahasa daerah lain, bahasa daerah pesisir utara barat ini juga dikenal lugas.

Tidak mengherankan, sebuah yayasan dari Semarang membahas secara khusus mengenai bahasa Tegal. Acara dengan tema Pemberdayaan Dialek Tegalan ini diselenggarakan oleh Yayasan Podhang pada Sabtu (12/12/2020) di sebuah hotel di kawasan pantura Kota Tegal.

Sejumlah tokoh baik dari kalangan pejabat, akademisi maupun budayawan tampil sebagai pembicara. Mereka antara lain Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono, Dr M Suryadi MHum (dosen FKIB) Universitas Diponegoro Semarang, Dr Maufur Marghub Abdul Azis MPd (penulis buku Tegalan yang juga dosen UPS) serta Atmo Tan Sidik (pegiat literasi sekaligus Budayawan Pantura).

Walikota Tegal, Dedy Yon mengatakan, kegiatan saresehan ini sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga kearifan lokal yakni bahasa Tegalan. Bahasa daerah Tegal, kata Walikota harus dilestarikan dengan cara digunakan sebagai bahasa sehari hari.

Lebih lanjut, Walikota berjanji akan membuat kebijakan untuk menjaga kelestarian bahasa Tegal dengan cara memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

"Saya harap nanti Dinas Pendidikan memasukan pelajaran bahasa Tegal dalam kurikulum pendidikan di Kota Tegal," kata Walikota Tegal kepada wartawan usai acara saresehan.

Terkait soal perlunya melestarikan bahasa daerah, Budayawan pantura, Atmo Tan Sidik mengatakan, bahasa daerah sangat memunculkan kedekatan emosional psikologis. Menurut Atmo ada kehangatan psikologis saat berkomunikasi menggunakan bahasa daerah.

"Ketika berkomunikasi tidak hanya mengedepankan logika, tapi estetika, bukan hanya rasio tapi roso (rasa), dan bahasa daerah sangat memunculkan itu, kedekatan emosional psikologis," terang Atmo.

Mengenai bahasa Tegalan lanjut Atmo tidak hanya dipakai oleh orang Tegal, namun juga beberapa kota lain. Seperti Pemalang, Kabupaten Tegal dan Brebes.

Sebagai budayawan, Atmo mengaku, selama ini bahasa Tegalan kerap distigma sebagai bahasa yang kasar dan dijadikan lelucon sehingga tak sedikit anak muda yang malu dan minder menggunakan bahasa Tegalan.

"Dari pengalaman saya keliling daerah, sekarang banyak anak muda yang kurang fasih dalam bahasa ibu, tidak paham silsilah dan sejarahnya. Inilah yang disebut pertahanan kebudayaan," ungkapnya.



Simak Video "Nadiem: Kurikulum Nasional Tahun 2021 Tak Diubah"
[Gambas:Video 20detik]
(nu2/nu2)