Hot Questions

Aero Aswar, Penguasa Jet Air

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Selasa, 29 Mar 2022 07:30 WIB
Jakarta -

Aero Sutan Aswar adalah seorang pembalap jet ski paling berprestasi yang dimiliki negeri ini. Ratusan gelar terbaik dalam bentuk trofi, medali dan piala telah dikumpulkan pria yang telah balapan sejak usia 4 tahun. Lima tahun kemudian, dia mengangkat piala pertamanya.

Hampir seluruh hidupnya sampai usia 27 tahun saat ini didedikasikan untuk jet ski. Sangat tidak mengherankan jika Aero, meraih gelar Juara Dunia sebanyak tiga kali, pada 2014, 2016 dan 2019 untuk kategori mahatinggi, Pro Runabout. Dilengkapi dengan juara-juara lainnya di kancah nasional Indonesia, Asia Tenggara, Asia dan Amerika Serikat, termasuk Medali Perak Asian Games 2018 yang digelar di Indonesia.

Tidak habis membicarakan kemenangannya, tulisan ini juga mungkin tidak akan mampu menuliskan satu per satu. Tapi, yang menjadi cerita menarik adalah bagaimana seorang Aero Aswar mampu melesat di atas air menjadi yang tercepat. Menguasai berbagai medan lomba sehingga sukses menjadi yang terbaik.

Aero Sutan Aswar - Hot QuestionsAero Sutan Aswar - Hot Questions Foto: Pradita Utama

detikHOT mengunjungi Aero Aswar, Sabtu siang di area Indonesia Jetsport Boating Association (IJBA), Ancol, Jakarta Utara. Kawasan pelatihan, bengkel, tempat komunitas, arena lomba skala nasional dan internasional (Asian Games). Mungkin lebih tepat disebut sanctuary. Di tempat itu, Aero, bersama adiknya Aqsa Sutan Aswar yang berprofesi dan kehebatan yang sama, mewujudkan mimpi menjadi juara dunia.

"Ini sih basically tempat latihan, tempat nongkrong. Jadi enak nih, kalau sore jam-jam sunset-an itu gila enaknya. Kita nongkrong di pasir, kadang BBQ (barbekyu). Ya disini kaya akademinya semua, di atas juga kaya stadium arena, bisa buat nonton, ada VIP nya juga, race control, bawahnya ada lobi, kantor. Tempat kita duduk ini lounge-nya, itu paddock ada 14, terus ada bengkel juga, bengkel ngurusin jet ski."

"Jadi gini, IJBA itu kan organisasinya, Indonesia Jetsport Boating Association, punya ini Jetski Indonesia Academy, Jetski Indonesia Academy ini punya Jetski Indonesia Racing Team. Targetnya yang berlatih di tempat ini, masuk di sini nih. Anyone bisa training di sini. Tapi, gue nggak mua orang datang ke sini karena cuma pengen kenal. Kalau lo datang ke sini as family, ya datang as family. Tapi kalau ke sini karena mau latihan balap, ayo serius."

Kepada detikHOT, Aero bercerita ternyata, di awal perjalanan latihannya justru sang ayah, Saiful Sutan Aswar, menerapkan pola pikir yang santai dan bermain-main.

"Gue itu di-drill-nya pelan sama bokap. Karena bokap anggap jetski main-main dulu deh, jadi di otak gue itu ditanamkan bahwa jet ski itu main-main, suka dulu. Basically, gue tuh latihan, bokap bilangnya kaya 'sana main track'. Di otak ketika SD, jadinya beda dong kalo main-main, walaupun jadinya latihan secara tidak langsung."

Aero Sutan Aswar - Hot QuestionsAero Sutan Aswar - Hot Questions Foto: Pradita Utama

Mengendarai jet ski pertama kali pada usia 4 tahun, pembalap kelahiran Desember 1994 ini juara pertama kali di usia 9 tahun. Pada usia 11 tahun, dia melakoni pertandingan internasional perdananya. Pada usia 13 tahun, dia mengalami kecelakaan fatal, patah tulang rusuk sebanyak tiga buah, yang hampir membunuh seluruh mimpinya.

"Pokoknya tulang rusuk gue pernah pata saat lagi balap di Amerika Serikat. Pas gue nanya ke dokter berapa lama sembuhnya, 'ya kamu fully recover 2 tahun'. Gue nggak bisa menengok ke kiri, kalau napas rasanya kayak ditusuk. Terlalu lama kan, akhirnya gue latih sendiri, ngelatih otot dan waktu itu gue masih kecil nggak boleh dioperasi, jadi tulangnya masih numbuh. Gue latihan benar-benar tiga bulan non-stop, dengan track yang belok kiri semua, gue pulang latihan nahan sakit dan segala macem. That mindset what doesn't kill you make you stronger, masa iya gue selesai."

"Cerita ini bikin gue inget apa yang gue pikirin waktu itu. Gue sembuh iya, gue cuman mikir 'gue harus lebih jago lagi' karena what happened to me karena kurang jago. And, I prove it to myself. Kalau orang bilang standart juara dunia itu gue, ya bisa dibilang seperti itu."

Dari perjalanan karirnya yang juga menarik untuk dibahas adalah sebetulnya, nama Aero Aswar tiba-tiba populer sejak persiapan Asian Games 2018 di Indonesia. Label 'atlet tampan' bersanding pada namanya dan sang adik. Kemunculan Aero secara fisik di Indonesia, tepatnya Jakarta memang baru terekspos pada periode tersebut. Sebelumnya, baik Aero maupun Aqsa lebih banyak menghabiskan waktu di Amerika Serikat untuk tinggal, sekolah, kuliah dan bertanding.

Di media sosial, wajahnya lalu-lalang dan kebetulan seringkali bersama jejeran selebriti. "Those celebrities actually are my friends. Memang gue undang karena sudah kenal lama. Walaupun jujur karena Asian Games 2018 itu gila sih, to be honest gue kurang suka gue jalan dimintain foto, lagi makan ditungguin. Tapi ya nggak mau ambil pusing sih."

Tidak hanya menjadi pembalap, Aero pun punya tanggung jawab untuk melatih orang lain. Ketika detikHOT berada di kawasan tersebut, kebetulan seorang anak laki-laki berusia 9 tahun sedang berlatih. Baru berlangsung dua bulan katanya. Cetakan hasil latihan Aero tidak main-main. Dua di antaranya adalah Rafa Miza (13) peraih podium 3 kejuaraan dunia 2019 kelas amatir. Serta, Wisnu Dwihutomo yang berada di peringkat ke-7 pada kejuaraan yang sama.

Aero Sutan Aswar - Hot QuestionsAero Sutan Aswar - Hot Questions Foto: Pradita Utama

"Jadi kalau yang masih baru banget ada temen yang urusin. Kalo udah mulai serius bokap turun tangan, Kalau sudah bener-bener rapih bawanya, udah bisa bawa ngebut, baru gue turun tangan. Gue turun tangan untuk memoles cara balap, bukan skill, udah spesifik balap. kalau mau balap baru ke gue, kalau cuman mau bisa, jangan. Pada saat gue ngomong balap, targetnya langsung internasional. Jadi latihan dari segala sisi, otak, fisik."

Jika detikers bertanya-tanya bagaimana jet ski bisa memasuki kehidupan Aero dan Aqsa Aswar, perlu diketahui bahwa sang ayah, Saiful Sutan Aswar adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam organisasi IJBA sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat. Ditarik mundur ke medio tahun 1990 akhir, Om Fully-sapaan akrabnya-adalah pionir komunitas jet ski di Indonesia.

"Bokap usia 65 tahun masih kuat main jet ski, buat dia jet ski itu raga, refreshing dia. Kalau lagi kusut, dia jalan ke pulau, makan di keramba, terus pulang," cerita Aero sembari tertawa.

Meskipun tidak ikut wawancara bersama, detikHOT meminta Aero menggambarkan hubungannya dengan sang adik. Kami juga berbicara tentang kegiatan Aero selain menjadi pembalap profesional, seperti, menjadi bagian dari pergaulan Jakarta dan pebisnis. Simak selengkapnya hanya di detikHOT.

(mif/nu2)