ADVERTISEMENT

Putri Nurul Arifin soal Tato dan Piercing: Jadi Anak Politisi Tak Gampang

Tim detikcom - detikHot
Kamis, 27 Jan 2022 16:00 WIB
Maura Magnalia Madyaratri dalam kenangan.
Maura Magnalia dan bentuk kebebasan yang tak mau dilarang. Foto: dok. Instagram
Jakarta -

Sosok Maura Magnalia dikenal sebagai anak yang mempunyai pemikiran antimainstrem. Nurul Arifin menceritakan soal tato dan piercing.

Nurul Arifin memuji Maura Magnalia adalah anak yang cantik dan pintar. Bahkan Maura pernah menjadi juara essay.

"Kalian pasti tahu semua, Maura anak yang sangat cantik, sangat pintar. Maura anak yang sangat cantik, sangat pintar, dan sangat cerdas," puji Nurul Arifin ditemui di Cinere, Depok, Jawa Barat.

Maura Magnalia tumbuh menjadi sosok yang eksentrik. Tato dan piercing menghiasi tubuh Maura Magnalia.

"Mungkin karena cerdasnya menjadi eksentrik. Tatonya ada di seluruh badan. Jadi tidak mau dibatasi, ada piercing juga," tuturnya.

Ternyata, tato dan piercing menjadi cara Maura Magnalia mengekspresikan kebebasannya. Nurul Arifin menceritakan momen saat dirinya coba melarang Maura Magnalia untuk menindik dan mentato tubuhnya.

"Ketika saya melarang, 'Jangan melarang, itu bagian dari kepuasan saya.' Karena menjadi anak seorang politisi itu nggak gampang. Jadi dia harus membatasi, berpikir, dan sebagainya," jelas Nurul Arifin.

"Akhirnya dia larinya ke tubuhnya sendiri," sambungnya.

Maura Magnalia mempunyai keinginan menjadi seorang dosen. Sebelum pandemi Maura sempat menjadi pengajar science.

"Iya, dia pengin jadi dosen. Kan dia sebelum pandemi dia ngajar tentang science. Nah dia menemukan passion-nya di situ. Jadi ngajar kayak bapaknya, cita-citanya mau jadi dosen," kata Nurul Arifin.

Maura Magnalia meninggal dunia karena henti jantung. Nurul Arifin mengatakan Maura Magnalia juga mengalami tekanan selama pandemi COVID-19.

"Situasi yang under pressure karena dia tidak bisa menyalurkan bakatnya. Sebelum pandemi kan dia mengajar ekskul di sekolah internasional gitu ya karena hobinya ngajar. Kemudian pas itu dia ambil S2 tuh mau berangkat ke Sydney. Tahunya pandemi dan sekolahnya online sampai dia selesai. Bulan Maret yang akan datang dia akan diwisuda," cerita Nurul Arifin.

"Jadi apa yang saya lihat sekarang memang ini bentuk frustrasi ya. Mungkin salah satunya ada unsur akibat dari pandemi. Banyak larangan ini itu jadi membuat dia tidak bisa berekspresi, berteman. Jadi kelihatannya frustrasinya agak dalam," tegasnya.



Simak Video "Pemakaman Putri Nurul Arifin yang Penuh Haru"
[Gambas:Video 20detik]
(pus/dal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT