Hot Questions

Patah Hati dan Air Mata Nadine Kaiser

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Selasa, 18 Jan 2022 08:49 WIB
Jakarta -

Semua orang bilang, mempertahankan dan melanjutkan jauh lebih sulit dari mendapatkan. Apalagi, jika itu adalah cerita-cerita dan warisan baik dari prestasi. Saat ini, Nadine Kaiser, sedang ada di dalam fase itu, bersama dengan nama besar Susi Air yang dibangun sejak 2004.

Saat ini, Nadine menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas keberlangsungan penerbangan pesawat perintis itu. Pengembangan bisnisnya, puluhan karyawan di kantor, lebih dari 150 pilot dan ratusan rute komersial maupun ekspedisi. Sebuah hal yang kepada detikHOT, Nadine mengungkapkan dia tak pernah terbayangkan akan melakukan itu semua.

"A lot of responsibility, a lot of pressure. Sebelumnya aku hidup tuh bener-bener by moment aja. Take each day and very spontaneous. Sekarang, semuanya harus berubah karena bisnis penuh kalkulasi dan memiliki target. I still need a lot of help from other people, from my staff, especially. Dan ada staff yang for me, she is a mentor. Walaupun dia staf, tapi dia punya pengalaman yang jauh daripada aku. My staff are more valuable than me in the company. Much more valuable, if somebody is a replacement, you can replace me easily. But those people, they are the foundation dan aku sangat menghargai itu."

Nadine kaiser, anak Susi PudjiastutiNadine kaiser, anak Susi Pudjiastuti Foto: Rafida/detikHOT

Posisinya hari ini, membuat anak ke-2 Susi Pudjiastuti itu belum akan lupa bagaimana dia mengambil keputusan berat di masa pandemi terkait untuk terus membayarkan gaji para karyawan secara penuh.

"Di masa pandemi ini, apalagi di awal, aku yakin semuanya mengalami krisis, kami juga. Tapi, aku mengambil keputusan untuk membayar 100% gaji mereka walaupun nggak langsung, little by little, month by month. When we realize that we're out of the crisis and we can go into the mode of restructuring. Those really good feelings. So that was a good achievement," kenangnya.

Nadine menyadari betul, bahwa dia bukanlah sang ibu yang memang sudah lebih dulu berada di lingkup kerja seperti itu. Birokrasi dan seluruh turunannya, cukup membuat Nadine gemas.

"Ibu it's a natural instinct, she can calculate what can happened, what scenario can happen at each time, and from me, I have to learn that. Jawab telepon atau telepon orang kadang-kadang it's quite nervous, I don't know how I sound, I hope not that bad or immature kayak anak-anak gitu ya. Ibu juga nggak suka kalau aku sudah bicara dengan nada tinggi," sambungnya.

Hot Questions Nadine KaiserHot Questions Nadine Kaiser Foto: Rafida

Wawancara sore itu, di kediamannya di Pangandaran, matahari terbenam begitu indah. Langit merah merona, semilir angin laut bertiup. Entah dari mana datangnya, suasana obrolan berubah kala Nadine mengingat betapa besarnya tanggung jawab yang bersandar di pundaknya. Matanya mengembang, air matanya mengalir. "I just don't want to disappoint my mom," ucapnya lirih.

Dia bicara betapa kuatnya sang ibu. Bahkan ketika kebenaran yang dipegang teguh sedang dikhianati oleh kekuasaan. Sebelum wawancara berlangsung, memang beberapa kali terdengar Nadine membahas sedikit masalah terkait pekerjaan, ada pencurian bahan bakar, juga soal hanggar di Malinau, Kalimantan Utara.

"Kami cuma ingin bantu orang, do the right things. Tapi masih ada saja yang dipersulit. Kita pernah di Papua, cuma bantu buat bawa obat-obatan, itu orang-orang dari gunung, dari mana saja datang, because they need it."

Patah hati terhadap Indonesia? "Iya, it broke my heart. Sudah seharusnya everybody is the same, just because in life you were born to different privileges, but to treat people the same."

Nadine mengelap air di pipinya, memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan. Sambil senyum dia berkata, "Okay, next questions?" Selanjutnya kita akan bicara soal masa kecilnya di Pangandaran yang katanya, sama seperti anak kampung lain. Selengkapnya hanya di detikHOT.

Hot Questions Nadine KaiserHot Questions Nadine Kaiser Foto: Rafida
(mif/nu2)