Dilan Janiyar ikut menyoroti kondisi ekonomi yang tengah menjadi perbincangan publik, mulai dari nilai tukar dolar AS yang menguat hingga harga BBM Pertamax yang disebut naik menjadi Rp16.250 per liter.
Dilan mengaku cukup terkejut mendengar kabar tersebut.
"Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Pusing banget. Naiknya tuh langsung, langsung berapa ribu. Kenapa nggak naiknya pelan-pelan ya?" kata Dilan Janiyar di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan pada Rabu (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku baru mengetahui kabar kenaikan harga Pertamax pada malam hari. Informasi tersebut pertama kali ia dengar dari sopir pribadinya saat hendak bepergian.
"Aku juga cukup syok karena itu beritanya baru tadi malam. Begitu masuk mobil langsung driver aku bilang, 'Bu, Pertamax naik jadi sekian'. Ya ampun cukup meresahkan, cukup mengkhawatirkan," lanjutnya.
Menurut Dilan, kenaikan harga BBM bukan hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok lainnya. Ia berharap kondisi ekonomi Indonesia bisa segera membaik dan nilai tukar dolar dapat kembali terkendali.
"Semoga Indonesia segera pulih lagi ekonominya, semoga bisa ditekan lagi. Eh dolarnya jangan sampai nembus Rp18.000 gitu. Kalau bisa, ya Allah. Gue panik banget," ungkapnya.
Dilan menilai dampak kenaikan BBM biasanya tidak dirasakan secara langsung. Akan tetapi, kondisi itu perlahan akan memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Soal langkah yang bisa dilakukan sebagai masyarakat menghadapi kondisi tersebut, Dilan mengatakan hanya bisa terus bekerja, bersyukur, dan berdoa agar keadaan segera membaik.
Dilan menegaskan soal kenaikan dolar tetap memberikan dampak kepada seluruh masyarakat Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ia kembali mengungkapkan harapannya agar perekonomian nasional bisa segera pulih.
"Jadi pasti ya makanya aku, aduh ya ampun semoga deh, semoga segera balik Indonesia pulih. Soalnya gaji juga nggak naik, UMR nggak naik, ya kan," sambungnya.
"Dan ini di ekonomi anak-anak Gen Z memang bergantung hanya pada Allah gitu kan. Ya ini deh, hari-hari minum es kopi susu, es kopi susu, terima nggak makan daripada nggak ngerokok sama nggak ngopi, ya kan?" ucapnya.
Ia juga menilai fenomena pusat perbelanjaan yang tetap ramai di tengah kondisi ekonomi sulit berkaitan dengan kebutuhan masyarakat untuk mencari hiburan yang masih terjangkau.
"Jadi kenapa ekonomi kita tuh lagi kayak gini parah-parahnya, tapi mal tuh tetap jaya? Karena kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa dibeli dengan harga murah itu mereka tuh pelariannya ke situ," ungkap Dilan.
"Jadi rakyat tuh pada stres, eh mereka konsumtif secara harga ecerlah, harga-harga murah gitu yang bisa dibeli untuk kayak beli makanan kekinian yang Rp60 ribu satunya, beli matcha yang segelas Rp60 ribu, Rp70 ribu, ya kan," katanya.
Menurut Dilan, kebiasaan tersebut belum tentu memberikan manfaat yang cukup bagi kesehatan masyarakat.
(fbr/pus)











































