Hot Questions

10 Menit Jadi Anak Freddy Budiman, Kartel Narkoba Indonesia

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Rabu, 29 Des 2021 09:01 WIB
Jakarta -

Cerita tentang menjadi anak orang kaya sering dimuat di berbagai media massa. Cerita perjuangan anak yang berangkat dari keluarga di bawah garis kemiskinan, yang kemudian berhasil meraih mimpinya, juga sudah kita dengar. Tapi cerita dari anak seorang pimpinan kartel narkoba terbesar di Indonesia?

Kali ini, detikHOT akan mengajak detikers untuk menjadi Fikri Budiman. Anak dari Freddy Budiman, gembong narkotika paling tersohor yang dihukum mati pada 2016 silam. Silakan menelusuri sepak terjang Freddy Budiman di pencarian detikcom. Pada tulisan ini, yang jika dibaca mungkin sekitar 6-10 menit, detikers akan merasakan bagaimana menjalani hidup seperti Fikri Budiman-begitu dia dikenal. Mulai dari masa kecilnya sampai kehidupannya sekarang di usia 21 tahun.

detikHOT mendatangi Fikri Budiman ke Kota Kembang, Bandung, untuk mendapatkan cerita hidupnya. Fikri, lahir di Bandung 1999, dari istri ke-2 Freddy Budiman. Dia juga memiliki empat ibu sambung lainnya. Kakak perempuannya dari istri ke-1 Almarhum ayahnya, saat ini menetap di Pulau Kalimantan. Adik laki-lakinya, dari ibu sambungnya yang ke-3 menetap di Bangka Belitung. Adik selanjutnya seorang perempuan. Sedangkan ibu sambungnya yang terakhir masih mendekam di tahanan sebagai kaki tangan mendiang ayahnya.

Anak Fredy BudimanAnak Freddy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

"Wah masa kecil ya, gue tuh hidup berpindah-pindah, pindah kota dan keluarga. Umur dua bulan gue udah dibawa dari Bandung ke Surabaya secara paksa karena pada saat itu, cerita dari nyokap, bokap gue ini diculik. Diculik sama orang yang nggak tahu itu polisi atau partner kerjanya atau CIA. Jadi ada mobil datang ke rumah gue, digrebek bokap gue diambil, dari situlah bokap gue terpisah sama nyokap gue (tahun 1999). Dua minggu kemudian gue diambil sama bokap gue, ternyata bokap gue dari Bandung dibawa paksa ke Surabaya," Fikri mengawali ceritanya.

"Dan, dari situ juga gue terpisah sama ibu kandung. Sampai umur 17 tahun gue tidak pernah mengenal ibu kandung. Tidak pernah tahu fotonya, tidak pernah tahu mukanya dan tidak pernah ngobrol. Dari umur dua bulan itu gue dibawa akhirnya ke Bangka belitung, karena bokap gue menikah lagi sama istri ketiganya. Gue pikir itu bakal indah banget di Bangka Belitung, ternyata bokap gue harus pindah lagi ke Jakarta. Gue dibawa lagi secara paksa, padahal di saat itu gue udah merasakan namanya kasih sayang seorang ibu, indahnya berkeluarga. Karena nyokap tiri gue baik banget, nangis dong gue sampai Jakarta. Tapi kemudian nenek gue bilang, itu bukan ibu kandung gue. Hancur dong. Jadi siapa nih ibu kandung gue? Dari situ gue mulai mencari siapa sebenarnya?"

Saat itu usianya sekitar 10 tahun, duduk di jenjang SD kelas 4. Di antara teman-teman seusianya yang sibuk bermain, Fikri hidup dengan keinginan terpendam atas ibu kandungnya. Iya benar, dia dikelilingi oleh kemewahan, apapun yang dia minta dapat terpenuhi. Dua supir dan lima Asisten Rumah Tangga (ART) siap siaga membantu. Akan tetapi, apakah kemudian membuat semua hal jadi menyenangkan?

"Akhirnya ketemu, setelah umur 17 tahun itu adalah kado yang dikasih bokap dari rutan BNN yang di Cawang. Bokap kalo ulang tahun selalu nanya, "mau kado apa?" Gue bilang nggak mau apa-apa tapi pengen ketemu sama ibu kandung. Dia langsung minta ke petugas kertas dan pulpen. Dia nulis alamat, silsilah keluarga nyokap kandung, beserta nomor telepon. Padahal bokap tuh nggak pernah kontakan selama 17 tahun tapi nomornya tuh masih diingat sama dia. Nomor itu mengarah ke Bandung. Sampai bandung, gue ke satu rumah yang ternyata rumah keluarga nyokap. Nenek, kakek gue, tante-tante meluk semua dong, nangis. Terus mereka bilang kalau nyokap itu tinggal di Jakarta."

"Sebelum ketemu, di rumah itu untuk pertama kalinya gue dengar suara nyokap gue. "Halo, ini benarkan anak mami, Fikri Budiman, anak mami?" Besoknya gue ke Jakarta, ketemu nyokap di daerah Condet. Sampai sekarang hubungan sama beliau masih baik dan beliau sudah menikah lagi."

Anak Fredy BudimanAnak Freddy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

Di cake shop miliknya di daerah Buah Batu bernama Farel Patisserie Cafe, Fikri mengungkapkan alasan mengapa hari ini dia terlihat sebagai satu-satunya juru bicara atau anak dari mendiang Freddy Budiman. Karena, dari tiga saudara sambungnya, hanya dialah yang tinggal bersama sang ayah dan dipisahkan dari ibu. Sedangkan saudaranya yang lain, tumbuh besar bersama ibu kandungnya masing-masing.

Kehidupan berpindah-pindah itu terus dijalani hingga remaja. Walaupun saat itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta, meski terus berpindah rumah, Kawasan Lebak Bulus, Puri, Pantai Mutiara, Pondok Indah dan BSD, Tangerang. Tidak hanya jumlah rumahnya yang banyak, tapi juga akta lahirnya lebih dari tiga buah.

"Ada lebih dari tiga akta lahir. Karena kan rada sulit, bokap sering kan nggak tahu ke mana. Jadi ada yang beda nama, ada yang beda orang tua. Pakai nama tante gue, om gue. Tapi KTP tetap satu kok sekarang," selorohnya sembari tertawa.

Ketidakhadiran sang ayah secara fisik sebetulnya sangat dirasakan Fikri remaja. Ditambah dia pun tidak tahu menahu apa yang dilakukan ayahnya di luar sana. Hanya melalui sambungan telepon 1-2 kali dalam seminggu mereka berkomunikasi. Jika waktu memihak dan sang ayah pulang, mereka berdua menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan berbelanja mainan.

Anak Fredy BudimanAnak Freddy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

"Gue tahu pertama kali itu di TV lagi di Surabaya umur 14 tahun. Setiap Lebaran tuh gua selalu pulang ke Surabaya. Lagi ngumpul keluarga di salah satu restoran Chinese food di dekat Tugu Pahlawan, di meja bundar itu lagi makan, happy semuanya. Terus tiba-tiba di TV beritanya ngomong 'kasus narkoba hari ini Freddy Budiman bla... bla... bla.' Dengar nama Freddy Budiman gua langsung diem dong. Di situ posisi yang tau tentang kerjaan bokap tuh cuma tante, om dan nenek gue."

Gue di-distract sama mereka, gue tetep fokus fokus, sampai akhirnya muncul muka bokap gua di TV. Hancur, nangis pulang dari restoran ke rumah. Sampai rumah gua riset, lihat media sosial, pokoknya gua kunci kamar. Diketok-ketok diem, gue riset siapa Freddy Budiman. Ternyata itu, akhirnya gua tahu dari internet. Penangkapan itu yang kasus mengimpor 1,4 juta pil ekstasi."

"Selama ini nggak tahu karena tiap satu minggu sekali bokap gue nelepon ke rumah. 'Halo, dek, lagi ngapain? Udah makan belum? Gimana sekolahnya?', Gua selalu nanya, 'papah di mana?', 'Papah lagi kerja ya, nanti kita ketemu.' Selalu begitu, 'lagi butuh apa? Mau mainan apa?' Kayak, ah nggak mungkin nih bokap gue bandar. Pas gue tahu bokap gua bandar ya, sehancur itu."

Sejak kejadian itu, Fikri yang sedang duduk di bangku SMP secara instan menjadi anak yang tertutup. Bahkan bunuh diri sempat terlintas di kepalanya.

"Jelas suicide tuh sempet jadi opsi. Kepikiran untuk pakai narkoba juga. Gue capek dihujat sama segitu banyaknya orang, di umur itu ya. Orang tuh ngomong secara dari hatinya, dan semua orang tuh ngehujat, ngejelek-jelekin. Cuma pada akhirnya bokap gue sendiri yang menguatkan gua. Bokap bilang, hidup itu berat, tapi bisa indah kalau kamu itu ngerti menikmatinya. Makannya kalimat itu selalu gua ucapin ketika di manapun gua berada."

Hari ini, Fikri yang juga akrab disapa Aceng berusia 21 tahun, berusaha menjalani semuanya dengan normal. Menyelesaikan pendidikan SMA hanya dua tahun karena percepatan dan melakukan pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Fikri menyandang gelar sarjana dari Universitas Telkom Bandung jurusan Administrasi Bisnis. Dirinya juga sempat bekerja di perusahaan media Trans TV. Urusan bisnis, selain cake shop, bersama dengan teman-temannya dia juga membuka bisnis Plataran Kampung Korea di Bandung dan aktif sebagai content creator. Ketika ditanya urusan pacar, dia menjawab dengan tertawa yang multitafsir.

Lantas, apakah setelah kepergian ayahnya, dia pernah mendapatkan teror atau justru mendapatkan pengawalan dari loyalis sang narcos seperti yang ada di film?

Anak dari Fredy BudimanAnak Freddy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

"Musuh nggak ada, tapi oknum ada," candanya sembari tertawa.

"Banyak orang yang datang, gue nggak tahu siapa, pada bilang, 'udah deh gua ikut lu aja, nggak usah dibayar, ini bentuk loyalitas gua'. Ada yang kayak, 'gua nggak butuh duit, gua cuma butuh lu aman'. Ada juga yang gue keluar dari tempat makan gitu misalnya, terus ada orang yang udah nungguin di depan, pas gue keluar, nyamperin, cuma sekadar cerita dulu sama bokap. Ujung-ujungnya ya bilang, 'kalau ada apa-apa kabarin'," Sambungnya lagi.

Mungkin tidak berlebihan jika membandingkannya dengan kehidupan keluarga Pablo Escobar. Pimpinan kartel narkoba dunia dari Medellin, Kolombia. Anak tertua Escobar, juga belum lama ini mengungkapkan banyak cerita dari kehidupan mereka. Namun yang berbeda, mereka sampai berganti nama dan pindah negara. Mengapa Fikri Budiman tidak melakukan hal yang serupa?

"Ada satu perbedaan antara ceritanya Pablo Escobar dan Freddy Budiman. Escobar itu punya saingan, bokap gue tidak punya," tutupnya.

Masih akan sangat banyak warisan Freddy Budiman yang diceritakan oleh Fikri. Soal cinta kasih sang ayah pada keluarga, perjalanan mendapatkan keikhlasan dan tentu saja, warisan kekayaan. Ikuti selengkapnya hanya di detikHOT.

(mif/nu2)