Hot Questions

Peluit Panjang dan Badai Keikhlasan Fikri Budiman

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Rabu, 29 Des 2021 14:02 WIB
Jakarta -

Peringatan: Silakan menyiapkan tisu terlebih dahulu sebelum membaca.

Jumat, 29 Juli 2016, bisa jadi menjadi hari yang biasa saja bagi sebagian orang. Mungkin juga, menjadi hari yang teramat bahagia. Sebagian lagi, kemungkinan menjadi hari paling menyedihkan. Sedangkan bagi Fikri Budiman, di hari dan tanggal itu dia belajar keikhlasan.

Sebab ayahnya, Freddy Budiman, gembong narkoba terbesar di Indonesia, dihukum mati dini hari tersebut di hadapan regu tembak di Lapas Nusakambangan, Cilacap. Dan, tiga hari sebelumnya, adalah momen-momen paling berat yang harus dilalui remaja berusia 17 tahun tersebut.

Fikri membuka kenangannya dengan cerita pertobatan dan hijrah sang ayah. Narcos kelahiran Juli 1977 itu ternyata mendapat mimpi dari orang tuanya, yang meminta dirinya untuk berhenti dari seluruh aktivitas terkait narkoba dan keburukan lainnya.

Fikri budimanFikri Budiman Foto: dok detikhot

"Papa cerita, bapaknya dia bilang di mimpi, 'Fred, cukup, sudah stop.' Kerena dimimpiin itu akhirnya bokap gue full berhenti dari sekitar 2013-an itu. Nggak pernah menyentuh narkoba, bahkan ngerokok pun berhenti. Tato, dia punya tato se-punggung penuh yang jadi identitas dia, dihapus pakai setrika di Lapas. Segitu Islaminya dia. Tapi setelah itu media masih aja ngeberitain papa punya pabrik narkoba dalam Lapas, padahal sudah setobat itu," kenang Fikri dengan nada kecewa.

Kepada detikHOT, Fikri melanjutkan ceritanya menuju tiga hari terakhir bersama sang ayah. Bersama dengan om-tantenya yang juga kakak Freddy Budiman, serta neneknya, ibu Freddy Budiman, merapat ke Nusakambangan. Berlima, berkumpul untuk terakhir kalinya. Di hari ke-2, om dan neneknya pulang lebih dulu ke Jakarta, rencananya ingin menyiapkan pemakaman. Namun ternyata, saat itu Freddy memilih untuk disemayamkan di kampung halamannya, Surabaya.

Jadilah, hari terakhir menyisakan Fikri, dan tantenya yang selama ini menjadi wali, menggantikan ibu kandungnya. Fikri menceritakan semuanya dengan rinci, rasanya, suhu ruangan, aroma tubuh ayahnya, dan semua suasana di ruangan mereka malam itu kembali dia rasakan.

Anak Fredy BudimanAnak Fredy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

"Ketika salat Maghrib petugas datang, 'Pak Fred, mohon maaf waktunya sudah habis.' Bokap gue minta izin ngomong, akhirnya kita dibolehin sampai salat Isya berjamaah. Ya udah itu perpisahan. Itulah tamparan paling keras di hidup gue kali ya, dan itu jadi titik terendah. Momen ketika gue pisah sama bokap. Pisahnya itu dalam arti pisah dunia. Gue udah nangis, di situ bokap masih terus nyemangatin, terus peluk," kenang Fikri. Dia mengulang lagi perkataan ayahnya malam itu.

"Dede inget, dede boleh nangis sekarang, silakan dede keluarin air mata dede semuanya. Tapi dede janji sama papa setelah dede keluar dari pintu itu, dede harus jadi laki-laki yang kuat. Nggak boleh keluar air mata. Sudah, ini saatnya papa pergi nggak usah nangis, de! Papa mau ke Amerika kok kayak dede, papa mau jalan-jalan, habis ini pengen ketemu opa".

"Akhirnya gue melangkah menjauh, bokap masih yang kayak terus kasih gesture semangat. Kalau nonton film 'Miracle in Cell No.7', ya kurang lebih kaya gitu. Bokap gue ngeliatin, dadah-dadah, sampai gue mau melangkah keluar pintu bokap teriak, "Papa sayang dede, papa sayang kalian semua, kita pasti ketemu lagi suatu saat nanti," sambungnya.

Meskipun hanya Fikri yang ada di lokasi, Freddy tidak melupakan seluruh anak dan keluarganya. Dia menghubungi satu per satu untuk minta maaf dan berpamitan. "Waktu sebelum dieksekusi, papa minta dikirimin otak-otak sama rendang dari Bangka. Waktu pamit, papa bilang minta maaf kalau ada salah, tolong jangan ada dendam. Bilang juga supaya didoakan pergi dengan tenang," adik Fikri, dari istri ke-3 Freddy Budiman, Akbar, menambahkan kenangannya. Kebetulan Akbar sedang berlibur ke Bandung saat detikHOT mewawancarai abangnya.

Anak Fredy BudimanAnak Fredy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

Setelah keluar dari lapas, cerita malam terakhir itu belum usai. Fikri mengatakan bahwa di jam-jam terakhir sebelum eksekusi sekitar pukul 00.45 WIB, terjadi badai besar di Kota Cilacap. Disertai hujan deras dan listrik padam.

"Sampai waktu itu ada badai, ini terkesan kayak sinetron drama gitu ya. Cuma emang bener waktu itu Cilacap mati lampu, hujan. Ada sebelas keluarga yang menunggu, ditaruh di tenda kawinan, tiba-tiba badai tendanya terbang. Jadi kita semua, masuk ke dalam ruangan kecil, kita nunggu semuanya di situ. Sekitar nunggu 3 jam, pas badai selesai baru ditelepon kalau bokap sudah meninggal. Ya gue anggap itu sebagai pertanda aja sih dan orang yang pertama dieksekusi tuh bokap gue."

Pintu keluar ruangannya malam itu, menjadi gerbang pembuka Fikri untuk mengikhlaskan sepenuhnya kepergian sang ayah. Mengubah hidupnya secara total, sekaligus menguatkan. Dia tak ingin larut lagi dalam kesedihan, justru kini dia muncul, menjadi juru bicara atas hal-hal baik yang tersembunyi dan orang tidak ketahui tentang mendiang Freddy Budiman.

"Setelah melangkah dari pintu itu, gue nggak berhenti ngeliat jam. Sampai akhirnya ya Alhamdulillah gue sadar, bahwa bokap gue ini dicintai banyak orang, pemakamannya diantar ribuan orang. Di situ gue merasa lebih tenang, lebih dewasa. Semakin ikhlas lagi ketika gue turun ke liang lahat, mengazankan bokap gue. Itu lah momen bener-bener ikhlas banget sama bokap gue.

Anak Fredy BudimanAnak Fredy Budiman, Fikri Foto: Muhammad Ridho

Namun, yang Fikri juga tidak tahu ternyata sang ayah juga meniup peluit panjang menjelang kematiannya sebagai pertanda. Sinyal bagi seluruh anak buahnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Apakah itu?

"Gue diceritakan sama satu orang loyalis bokap. Dia bilang, sebelum papa meninggal, kalau bahasa mereka, papa meniup peluit. Katanya papa bilang, "saya boleh meninggal, saya boleh terluka, tapi anak saya, jangan pernah ada tergores sedikit pun. Di mana pun anak saya berada di situlah kalian berada."

Tanpa mengurangi rasa hormat, jika bicara kartel narkoba, rasanya kurang lengkap tanpa membicarakan pundi-pundi rupiah. Baik saat masa jayanya dulu, ataupun warisannya kini. Selengkapnya hanya di detikHOT.

(mif/nu2)