Pencerahan soal Rachel Vennya Diduga Sempat Masuk Wisma Atlet

Febriyantino Nur Pratama - detikHot
Kamis, 21 Okt 2021 15:58 WIB
Jakarta -

Rachel Vennya mengaku tidak pernah sama sekali menginap di RSDC Wisma Atlet Pademangan. Akan tetapi, pengakuan itu diragukan lantaran tersebar foto diduga Rachel Vennya bersama manajernya tengah berada di kamar Wisma Atlet.

Hal itu kembali membuat Rachel Vennya dianggap berbohong. Bahkan dia diduga berbohong demi melindungi oknum-oknum yang membantunya.

Kapendam Jaya Kolonel Herwin menjelaskan soal dugaan Rachel Vennya sempat berada di RSDC Wisma Atlet. Akan tetapi, benar atau tidaknya pengakuan Rachel Vennya belum bisa dipastikan.

"Ya itu masih dipelajari, ya memang informasinya sempat datang, namun dia keluar lagi. Seperti itu," kata Kapendam Jaya Kolonel Herwin di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (21/10/2021).

Sudah diketahui saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Rachel Vennya dibantu oleh oknum TNI berinisial FS. Kini, diketahui, saat berada di RSDC Wisma Atlet Pademangan ada satu lagi oknum yang membantunya diduga berinisial IG.

"Yang pertama yaitu FS, yang terbaru hasil laporan dari staf intel adalah IG. IG di Pademangan," jelas Kolonel Herwin.

Soal pengakuan Rachel Vennya yang mengatakan tidak pernah melakukan karantina tapi ada foto diduga dirinya di Wisma Atlet, semua diserahkan kepada polisi. Hari ini, Rachel Vennya bersama Salim Nauderer memenuhi panggilan polisi untuk memberikan klarifikasi terkait kabur dari karantina.

"Itu nanti ditanyakan ke pihak kepolisian saja. Itu baru diperiksa oleh Polda Metro," kata Kolonel Herwin.

Awal mula kisruh Rachel Vennya kabur dari karantina, dalam sebuah utas disebut sang selebgram yang seharusnya tidak berhak karantina di Wisma Atlet memilih tempat tersebut sebagai tempat karantinanya. Kemudian, Rachel Vennya diketahui hanya 3 hari melakukan karantina.

Oleh karena itu, Rachel Vennya dianggap melanggar UU tentang wabah penyakit dan kekarantinaan. Jika terbukti bersalah, Rachel Vennya, Salim Nauderer, dan manajernya terancam hukuman penjara selama satu tahun dan denda Rp 100 juta.

(pus/nu2)