Solo Terlalu Istimewa, Buat Para Musisi Ini Ogah Pindah

Tim detikcom - detikHot
Rabu, 05 Mei 2021 20:35 WIB
Pulang Kampung Digital bersama detikcom ke Solo
Pulang Kampung Digital bersama detikcom ke Solo Foto: dok. Capture Pulang Kampung Digital detikcom
Jakarta -

Kali ini, Pulang Kampung Digital bersama detikcom berangkat ke Solo, Jawa Tengah. Saat pulang kampung digital ini perantau bisa mendengar cerita soal Solo dan jalan-jalan virtual menikmati Kota Solo.

Pulang Kampung Digital bersama detikcom ke Solo berangkat pada pukul 15.00 WIB. Para perantau kali ini dihibur dengan penampilan grup musik Teamlo.

Pulang Kampung Digital bersama detikcom ke Solo disambut oleh Walikota Solo Gibran Rakabuming dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Suasana makin ramai dengan kehadiran para musisi, yakni Londo Berseri, Doel 'Pecas Ndahe', Endah Laras, Tia AFI, dan Elizabeth Sudira.

Banyak hal yang menarik dari kota Solo. Dianggap sangat istimewa, Tia AFI, Endah Laras, dan Elizabeth Sudira tak ingin pindah dan pergi dari Solo.

"Kenapa saya nggak bisa pergi dari Kota Solo karena segudang keistimewaannya, kulinernya. Ketika saya ada pekerjaan di Jakarta dan diminta stay di Jakarta saya pilih nolak. Penyanyi nasional tapi penginnya tetap stay di Solo," ucap penyanyi Endah Laras dalam Pulang Kampung Digital bersama detikcom, Rabu (5/5/2021).

"Dari lahir sampai sekarang usia 30 nggak pernah meninggalkan Solo," timpal penyanyi Elizabeth Sudira.

Hal senada juga disampaikan oleh Tia AFI. Tia yang pernah merantau ke Jakarta, kini lebih banyak tinggal di Solo.

"Aku besar di Solo, lahir di solo dan keluarga aku di Solo. Asli Solo. Kebetulan pas AFI karena nggak ada audisi di sini, jadi ke Semarang. 2011 nikah sama orang Solo jadi pindah ke Solo lagi,"

Akan tetapi, Tia AFI mengaku bolak-balik Jakarta-Solo karena urusan pekerjaan. Tia AFI menyimpang segudang kenangan di kota Solo.

Ada beberapa lokasi yang jadi favorit Tia AFI di Solo. Tia pun menceritakan betapa lengkapnya kota Solo sampai membuat dirinya tak mau pergi dari sana.

"Salah satunya (spot favorit) Keraton Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Kalau orang-orang pendatang senang belanja ada Pasar Klewer sudah buka lagi, tadinya kan di lapangan sekarang sudah dibangun lagi, sudah bagus, bersih. Kalau mau beli bahan yang segar di Solo tuh lengkap, makanya nggak mau pergi dari sini," tuturnya.

Tidak hanya itu, para musisi termasuk Tia AFI menceritakan apa yang membuat mereka kangen dengan Solo tempo dulu. Salah satu yang paling melekat adalah Gedung Wayang Orang Sriwedari.

"Teman-teman yang lagi join di Solo ada hidden gem, yaitu Gedung Wayang Orang Sriwedari. Pemain wayangnya masih pentas tiap malam itu kayak broadway. Mereka memerankan cerita yang baru, mereka lengkap seluruh gamelan, yang berperan ada anak SMA, kuliah seni, pakai tata cahaya luar biasa. Cuma sayangnya nggak banyak yang main ke sana, padahal tiketnya cuma Rp 10 ribu," cerita Elizabeth Sudari.

"Dulu ada tempat bermainnya, THR (Taman Hiburan Rakyat) Sriwedari, dari kecil aku suka ke situ, sekarang sudah disamaratakan dengan tanah. Ada satu panggungnya di situ. Bapakku kan musisi, setiap hari Jumat main di situ, sekarang (lokasinya sudah) disamaratakan dengan tanah, THR nggak ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan," sambung Tia AFI.

Endah Laras pun menyayangkan ada bangunan yang merupakan warisan zaman dahulu terlalu banyak diberikan hiasan. Menurutnya, alangkah indahnya jika perawatan bangunan heritage tetap menjaga keasliannya.

Tidak cuma menghadirkan lokasi-lokasi penuh cerita dan menarik, mereka juga memberikan referensi kuliner yang patut dicoba saat berada di Solo.

"Makanan khas solo? Serabi, lah. Soalnya kalau pas di Jakarta teman-teman pasti mintanya dibawain serabi cuma memang expired-nya sehari doang. Gudeg ceker, tengkleng (juga patut dicoba)," kata Tia AFI.

"Kalau di Solo itu ada tempat nongkrong baru di Pasar Gede lantai 2. Dulu di bawahnya pasar ikan, di atasnya diskotik remang-remang. Sekarang di bawah jadi pasar buah, sekarang di atasnya jadi wisata kuliner jadi kayak Pasar Santa. Makanan di situ antimainstream ada Chinese food, Vietnam, Western, steak-steak ada. Anak muda jadi (mau) pergi ke pasar sekarang, tapi mereka ke lantai dua buat jajan," informasi yang diberikan oleh Elizabeth Sudira.

Namun sayang kali ini imbauan dari Wali Kota Solo Gibran Rakabuming untuk sementara bisa menahan diri untuk tidak mudik langsung ke Solo. Itu demi menekan dan mengurangi angka penyebaran COVID-19.

"Kata-katanya harus kita ubah, bukan larangan mudik tapi menahan diri dulu tidak mudik agar ke depannya kita bisa melakukan percepatan pemulihan ekonomi menghindari kejadian seperti di India. Dua bulan ini angka COVID-19 mulai turun. Zona hijau sudah banyak, di solo juga tidak ada zona merah. Jangan sampai mudik ngumpul sama orang tua, virusnya juga kumpul," pesan Gibran Rakabuming.



Simak Video "Asyik Keliling dan Belajar Kebudayaan Solo Lewat Virtual"
[Gambas:Video 20detik]
(pus/aay)