Pongki Barata Kritik Soal Banyaknya Spanduk di Jalanan Yogyakarta

Tim detikcom - detikHot
Selasa, 04 Mei 2021 19:48 WIB
pulang kampung digital
(Foto: detikcom) Ada banyak kenangan di Jogja yang diulas dalam episode Pulang Kampung Digital hari ini. Salah satunya adalah soal makanan juga kritik soal spanduk jalanan.
Jakarta -

detikcom menggelar acara Pulang Kampung Digital yang tayang streaming hari ini Selasa (4/5/2021). Episode ini kita diajak Pulang Kampung Digital ke Jogja.

Keseruan Pulang Kampung Digital hari ini dimeriahkan oleh Ozie "Bu Tedjo", Anas Alimi, Pongki Barata, Indra "The Rain", dan Alit Jabang Bayi. Pongki Barata dan Alit dihadirkan secara virtual, berkisah soal keseruan mereka selama tinggal di Yogyakarta.

Ada banyak kenangan yang tertinggal di Jogja yang diulas dalam episode Pulang Kampung Digital hari ini. Salah satunya adalah soal makanan. Pongki Barata sempat menyebutkan soal soto yang menurutnya paling enak di Yogyakarta.

"Soto Pak Manto itu ada ceritanya. Itu dulu soto, sebelahnya itu ada kandang sapi. Bener-bener makan di sebelahnya kandang sapi ya, sekarang sudah jadi bangunan yang lebih rapi," kenang Pongki Barata.

Karena banyak sekali pedagang soto di Yogyakarta, kota ini juga punya satu komunitas Rabu Nyoto yang setiap hari Rabu makan soto. Selain makanan soto, Burger Monalisa juga jadi salah satu makanan yang dikenang oleh para pengisi acara.

Alit Jabang Bayi menyebut meski Burger Monalisa bukan makanan tradisional, tapi burger ini adalah salah satu yang "Jogja banget". Hal ini pun diamini oleh Indra "The Rain".

"Rasanya mungkin kalah sama burger-burger yang sekarang, cuma ketika digigit tuh ada serpihan kenangan yang tak terkalahkan gitu. Ketika digigit pertama itu (rasanya kayak) Prambanan Jazz," canda Alit Jabang Bayi.

Kenangan-kenangan soal Yogyakarta juga diungkapkan oleh para panelis. Alit Jabang Bayi mengenang masa-masa Yogyakarta di tahun 90-an ketika dia dan teman-teman dari komunitas musik masih bisa main gitar di Malioboro dengan beralaskan tikar.

Kondisi tersebut cukup berbeda dengan Yogyakarta masa kini yang lebih ramai dengan para wisatawan yang berjalan-jalan di kawasan tersebut. Tidak ketinggalan juga masyarakat Yogyakarta.

"Malioboro itu sebelum pandemi sampai jam 11 sampai 12 masih banyak orang jalan-jalan, siwatasan wisatawan atau orang Jogja sendiri. Nyari angin, nyari dompet," candanya.

Pongki Barata menyebut Yogyakarta tetap punya image Kota Pelajar dan Kota Budaya. Namun ada hal yang dikritik oleh Pongki pada Kota Yogyakarta. Yaitu masalah spanduk.

"Banyakan spanduk di mana-mana, baliho, spanduk itu lho jadi kayak nggak rapi gitu. Menurut saya mengganggu pemandangan tapi mungkin ada perputaran ekonomi yang bagus kalau banyak iklan seperti itu, tapi menurut saya sampai menghalangi pohon, keasriannya berkurang karena lebih banyak spanduk daripada pohon gitu. Contohnya di jalan Seturan itu, di daerah deket rumah saya itu. Tapi kalau bicara kultur masih kuat, karakter, dan Jogja masih sebagai rumah dan murah," katanya.

(aay/aay)