Pria yang masih remaja itu harus menjalani sisa usia emasnya sebagai seorang korban tindak pencabulan. Tak pernah terlintas dalam pikirannya ia bakal menjalani hari-hari yang menyeramkan.
Nyatanya setelah peristiwa itu, ia disebut-sebut selalu dihantui perasaan trauma. Ia juga tak bisa melawan bisikan-bisikan sosok Ipul yang menyerang benaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam Sholeh, Kamis (25/2/2016) malam, sensasi macam apa yang membuat seorang remaja rela kehilangan sebagian besar hidupnya?
"Ada kekhawatiran sebagaimana yang tadi disampaikan. Yang pertama, dikira bohong, kemudian ada dampak A, B, C. Kemudian dituduh mencari popularitas, tuduhan itu ada, dia mendengar itu. Dan, itu mempengaruhi kondisi anak yang semakin shock," tuturnya.
Pihak Ipul bisa melakukan pembelaan apa saja. Akan tetapi menurutnya, ada kondisi di mana seorang siswa kelas 3 SMU, kini tak bisa lagi bergaul dengan rekan-rekannya.
Usaha yang dilakukannya selama ini untuk bisa bersekolah juga dianggap tidak mudah. Korban ternyata harus banting tulang mencari penghasilan sendiri demi bisa melanjutkan pendidikannya.
"Ya termasuk pernah menjadi penjaga parkir, hanya untuk menyelesaikan sekolah. Anak ini punya dedikasi di sekolah, dia memiliki prestasi masuk 5 besar. Dia punya dedikasi untuk menyelesaikan pendidikan, tapi punya keterbatasan ekonomi sehingga dia survive untuk menyelesaikan sekolah. Tapi ada tuduhan cari popularitas, hal ini tidak produktif!" kata Asrorun. (nu2/mmu)











































