Youtube, Twitter dan saluran-saluran sosial media di internet telah menjadi 'pemandu bakat' baru bagi orang-orang yang ingin menjadi artis secara instan. Namun, tak jarang semua berawal dari keisengan dan ketidaksengajaan.
Seseorang iseng mem-posting foto seorang anggota polisi dari kesatuan Dalmas, Bandung Bripda Saeful Bachri. Dalam sekejap, kegantengan sang bripda menghebohkan Twitter. Media massa pun menyambutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sinetron sudah ada, semoga saja lancar, amin. Kalau saya sih siap saja kalau pimpinan mengizinkan," ujarnya.
Apa yang terjadi pada Saeful Bachri seolah mengulangi fenomena Norman Kamaru yang juga 'lahir' dari media sosial. Kini hari-hari Norman telah penuh dengan jadwal manggung dan syuting di beberapa stasiun TV.
Sebelum Norman, berkah dari keajaiban sang pemandu bakat baru YouTube juga telah melambungkan duet lipsync Shinta dan Jojo, Udin 'Sedunia' dan Ayu Ting Ting. Tak hanya di Indonesia, artis yang lahir dari Youtube menjadi fenomena di berbagai belahan dunia. Yang paling heboh tentu saja Justin Bieber.
Setelah Justin, ada juga Greyson Chance yang juga melewati jalur YouTube untuk meraih kesuksesannya. Video Greyson ditonton oleh jutaan pasang mata di seluruh dunia, yang kemudian mengantarkannya merilis album.
Tapi, apakah 'jasa' media sosial sebagai 'pemandu bakat' benar-benar bisa menjamin seorang artis menjadi real artis? Atau, hanya sekedar hanya numpang lewat sebagai artis karbitan sesaat?
Shinta dan Jojo memang tenggelam secepat naiknya popularitas mereka. Tapi, Ayu Ting Ting hingga kini masih terus bertahan di berbagai panggung musik di Tanah Air. Bagaimana dengan nasib Norman? Bagaimana pula dengan 'masa depan' Saeful Bachri?
(fk/hkm)











































