Mari kita simak cerita selengkapnya yang juga ditulis Nadine di blognya!
Setinggi-tingginya orang mendaki, tidak akan pernah bisa memeluk gunung. Sudah ku bayangakan, perjalanan ke pegunungan Arfak akan sangat menegangkan. Untuk sampai ke Lelaki Sitelaga Giji dan Perempuan Sitelaga Gita harus melewati ribuan gunung berbentuk ular. Hati-hati dalam ucap serta perilaku, kalau tidak gunung pun akan keluarkan bisanya lewat hujan deras. Dengan menggunakan double 4Γ4, keadaan selamat dan tepat waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kentang, wortel, daun bawang, ubi jalar, sawi, pokcay, dan kol bunga kita dapatkan cuma-cuma. Tradisi memberi hasil panen sangat kental. Bikin kita sungkan dan nggak enak hati. Akhirnya, kita keluarkan apa yang kita bawa, seperti kemasan minuman jahe, obat pusing, permen, kacang, sampai selendang Bali milik Riri kita serahkan. Tim Papua Barat merasa bagian dari keluarga Sabia. Benar-benar, makluk Tuhan yang diberkati. Kecantikan anggrek tanah menggoda layaknya bunga abadi yang kupuji sepanjang masa.
Langit mulai gelap, bergegas kita naik mobil offroad. Laju terombang-ambing di atas bebatuan gunung. Rasa keingintahuan muncul kembali.
Mengapa ibu itu mengendong erat anak dan babi kecil?
Biasanya, seorang ibu mengajak kedua buah hatinya jalan-jalan sore. Dijaga ketat bagai sekantong emas, terkadang memanggil nama atau juga memegang buntut supaya tidak lari. Ke pasar pun, sering diajak bagaikan anjing penjaga.
Waktu masih kecil, rata-rata seekor babi sengaja dibutakan matanya sehingga tidak bisa mencuri hasil perkebunan. Ibu bercerita bahwa setiap pagi babi kesayangannya juga disusui, tampak kasih sayang sama besar pada si kaki empat dan anaknya sendiri. Hampir di seluruh dusun, setiap keluarga memiliki binatang emas ini, salah satunya di kampung Susi.
Suasana mulai mencair, ketika seorang ibu memberikan kita tebu sebagai cemilan sore. Septerinah, anak perempuan yang dipangku manja. Anak bermata besar dengan bulu mata panjang terlihat sangat menikmati makan tebu. Kameraku langsung mengarah ke pemberani Septerinah. Gila, tapi hal yang biasa. Si cantik sedang bermain pisau lalu diletakkan di mulut mungilnya. Sang ibu menyadarinya, dan langsung mengambil dan memarahi serta tertawa.
Riang tertawa senang dirasakan kembali saat bertemu Suku Sursurey sedang jalan menuju acara peresmian gereja. Perkenalan dengan kita dilakukan dengan unik, yaitu menari bersama.
Pemimpin rombongan mulai berteriak tanda bersiap. Seketika, kegembiraan berada di tengah kita. Perempuan mengenakan pakaian tradisional yang warna-warni serta para lelaki membawa parang, senapan, pisau, panah untuk berburu, pun juga ikut bergabung.
Semua ikut menari lewat gandengan tangan dalam setengah lingkaran kecil. Serempat bergeser dengan tempo loncat yang sama mari. Bersahabat dalam tarian Tumbu Tanah. Tarian berupa sorakan pujian pada Tuhan, tanah, udara, mobil, manusia, sekaligus doa bagi keselamatan pulang ke Kota Metropolitan Jakarta.
Tak bisa henti berkata, "Abires!" Berarti terimakasih pada tiap orang yang kutemui. Hari ini menjadi spesial dengan bertemu orang yang spesial di mataku!
(yla/yla)











































