5 Fakta Nobel Sastra

ADVERTISEMENT

5 Fakta Nobel Sastra

Tia Agnes Astuti - detikHot
Selasa, 04 Okt 2022 12:24 WIB
Akibat Skandal Pelecehan Seks, Akademi Swedia Tunda Pemberian Nobel Sastra Tahun Ini
Foto: DW (Soft News)
Jakarta -

Anugerah Nobel Sastra 2022 segera diumumkan pada Kamis (6/10) pukul 13.00 waktu Stockholm atau sekitar 18.00 WIB. Penghargaan bergengsi yang diberikan oleh Yayasan Nobel di bidang sastra itu sudah berlangsung sejak 120 tahun yang lalu.

Hadiah Nobel yang memberikan penghormatan kepada Alfred Nobel bermula dari surat wasiat untuk menganugerahkan kepada sosok dari 6 kategori. Mereka yang berjasa di bidang perdamaian, fisika, kimia, fisiologi atau kedokteran, ilmu ekonomi, dan sastra.

Khusus untuk Nobel Sastra, Alfred Nobel memberikan wasiat yang berbunyi, "Pengarang yang diberikan hadiah adalah yang menghasilkan karya yang paling hebat dan berpaham idealis. Kewarganegaraan juga tidak boleh diperhitungkan, orang terbaiklah yang harus menerima hadiah itu baik orang Skandinavia atau bukan."

Berikut 7 fakta soal Nobel Sastra, seperti dirangkum detikcom:

1. Tim di Balik Hadiah Nobel

Dalam surat wasiatnya, Alfred Nobel telah menunjuk sejumlah lembaga untuk memberikan penghargaan Nobel Sastra. Lembaga itu bernama Akademi Swedia yang berada di Stockholm, Ibukota Swedia. Mereka menunjuk tim yang beranggotakan 5 orang untuk menyeleksi.

Mereka punya orang-orang terbaik atau narasumber dari seluruh dunia untuk mencalonkan kandidatnya masing-masing. Daftar itu kabarnya sudah ada sejak Februari atau di awal tahun.

Akademi Swedia dan tim terkait bertemu untuk mengevaluasi. Di akhir, mereka bakal membuat pemungutan suara, dan Oktober nama para pemenang sudah diumumkan kepada publik.

2. Perempuan Sedikit Terima Nobel Sastra

Kategori penerima Nobel Sastra yang tersedikit adalah perempuan. Perempuan pertama yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra adalah Selma Lagerlof di tahun 1909.

Akademi Swedia sebagai penyelenggara Nobel Sastra pun menominasikan namanya sebagai peraih Nobel lainnya.

3. Mereka yang Menolak

Sejumlah nama penerima Nobel Sastra pernah menolak anugerah ini. Mereka adalah Boris Pasternak di tahun 1958. Uni Soviet (saat itu) memaksanya untuk menolak Nobel Sastra. Penolakan ini dianggap berunsur politik.

Sastrawan kedua yang menolak adalah Jean-Paul Sartre. Ia menolak karena tidak ingin berpihak kepada siapa pun dalam berkarya, termasuk kepada Swedia dan Hadih Nobel.

4. Pramoedya Ananta Toer Pernah Dinominasikan

Nama sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, kabarnya pernah dinominasikan dalam anugerah tersebut. Sosok yang pernah dibui di Pulau Buru itu digadang-gadang bakal meraih Nobel Sastra. Sayangnya hingga kematiannya, nama Pram tak juga menerima Nobel Sastra.

Selain Pram, ada nama sastrawan Mochtar Lubis dan Kuntowijoyo yang juga menjadi perbincangan ranah sastra internasional.

5. Isu Pelecehan Seksual

Nobel Sastra pernah ditiadakan beberapa tahun lalu karena isu pelecehan seksual yang dilakukan oleh anggota Akademi Swedia. Kabar itu mencengangkan dunia internasional.

Di tubuh komite Akademi Swedia, korban pelecehan dari suami anggota Akademi Swedia, Jean-Claude Arnault dituduh melecehkan sebanyak 18 perempuan di Swedia dan Prancis.

Pengadilan membuktikan Jean-Claude Arnault terbukti melakukannya dan istrinya yang menjadi anggota komite dikeluarkan dari Akademi Swedia.



Simak Video "Novelis Abdulrazak Gurnah Raih Nobel Sastra 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/pus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT