ADVERTISEMENT

Dari Cerpen, Layang-Layang Seno Gumira Ajidarma Terbit Jadi Komik

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 13 Jul 2022 12:35 WIB
Seno Gumira Ajidarma Terbitkan Komik Layang-Layang
Seno Gumira Ajidarma menerbitkan komik Layang-Layang yang berasal dari cerpen. Foto: Courtesy of Shira Media Group
Jakarta -

Sastrawan Seno Gumira Ajidarma menerbitkan komik terbarunya yang berjudul Layang-Layang. Komik yang awalnya berasal dari cerpen itu dialihwahanakan oleh komikus Gerdi WK.

Layang-Layang sebelumnya diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen berjudul 'Aku Kesepian, Sayang' dan 'Datanglah, Menjelang Kematian' pada 2004.

Komik Layang-Layang menceritakan tentang permainan layang-layang hingga mengantarkan pada sebuah peristiwa di luar nalar tentang keajaiban layang-layang buatan Sukab. Bagi pembaca setia karya-karya Seno Gumira Ajidarma, nama Sukab tentunya sudah tak asing lagi.

Dalam keterangannya, komik berasal dari kata comic yang berarti 'lucu'. Tapi dalam perkembangan komik tak selalu mengenai cerita yang lucu.

Komik bisa dijadikan sebagai kritik untuk menyampaikan kritik di samping stigma sosial di masyarakat. Komik juga termasuk kebudayaan populer dan menjadi bacaan ringan.

"Komik Layang-Layang ini adalah komik kolaborasi ketiga yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma di Pabrik Tulisan," tulis keterangan penerbit Shira Media kepada detikcom.

Dua komik sebelumnya yang terbit berjudul Macan dan berkolaborasi dengan Thomdean. Komik lainnya yakni Percakapan di Ruang Tunggu juga berkolaborasi dengan Sheila Rooswitha Putri.

"Dengan terbitnya Komik Layang-Layang ini semoga dapat memicu maraknya geliat dunia perkomikan seperti pada masa keemasannya di sepanjang tahun 1970-an," sambung Shira Media.

Rencananya, komik Layang-Layang bakal terbit akhir Juli.

Nama Seno Gumira Ajidarma dikenal lewat karya-karya fenomenal di antaranya Atas Nama Malam, Wisanggeni-Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.

Dia juga terkenal karena menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).



Simak Video "Medina Zein Irit Bicara Usai Jalani Persidangan "
[Gambas:Video 20detik]
(tia/pus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT