5 Fakta Sapardi Djoko Damono, Penyair Legendaris Indonesia

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 23 Des 2021 12:35 WIB
Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai penyair legendaris Indonesia. Foto: detikcom
Jakarta -

Sapardi Djoko Damono menjadi salah satu penyair legendaris kepunyaan Indonesia. Sampai di akhir hayatnya, novelis Hujan Bulan Juni itu menerbitkan karya setiap bulannya.

Sepeninggal Sapardi Djoko Damono pada 19 Juli 2020, karya-karyanya masih melegenda sampai sekarang.

Berikut 5 fakta soal Sapardi Djoko Damono dan karya-karyanya seperti dirangkum redaksi detikcom:

1. Sajak Terakhir

Sebelum meninggal, Sapardi Djoko Damono menulis buku kumpulan sajak yang khusus ditulisnya untuk sang istri, Sonya Sondakh. Buku sajak berjudul mBoel itu berisi ungkapan kasih sayang mpun cinta kepada sosok yang menemaninya setiap hari itu.

Ada 80 sajak yang terangkum dalam buku puisi mBoel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

2. Populerkan Sastra Lintasi Zaman

Sapardi Djoko Damono mampu melampaui generasi seangkatannya sampai yang muda. Banyak sekali penulis muda yang terpengaruh dengan cara penulisan dosen besar Universitas Indonesia tersebut.

"Banyak juga yang meniru cara berpuisi Bapak. Karena Pak Sapardi berhasil meneruskan sebuah tradisi untuk sastra Indonesia. Untuk semangat itulah, GPU akan meneruskan dan menjaga buku-buku Pak Sapardi, termasuk yang belum terbit," ungkap Editor Sastra Senior GPU, Mirna Yulistianti.

3. Karya Tidak Politis

Karya-karya Sapardi Djoko Damono tidak politis dan aneh-aneh. Hal tersebut diungkap oleh Cak Nun yang mengenal sosok Sapardi.

"Sapardi itu seperti karyanya, tenang, tidak aneh-aneh, tidak politis, tidak mentang-mentang. Dia itu puisinya murni. Karena ada orang nulis puisi karena ingin menjadi penyair kemudian mau jadi penyair yang seperti apa, Mas Sapardi itu menurut saya penyair yang murni," ungkap Cak Nun.

4. Musikalisasi Puisi

Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono malampaui medium sastra. Tak hanya diadaptasi ke layar lebar namun juga musikalisasi puisi.

Dalam sebuah wawancara kepada detikcom, Sapardi Djoko Damono menuturkan tak masalah karyanya dimusikalisasi. Bahkan sajak-sajaknya jadi populer lewat musikalisasi.

5. Aku Ingin

Sajak Aku Ingin merupakan puisi terpopuler yang pernah ditulis Sapardi Djoko Damono.

Dari ratusan puisi yang dibuat penyair kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 itu, "Aku Ingin" termasuk salah satu yang amat popular dan digandrungi publik lintas generasi selain "Hujan Bulan Juni". Namun Sapardi Djoko Damono justru mengaku sangat menyukai puisi "Tuan" dan "Berjalan ke Barat di Pagi Hari".

Puisi pertama karena mendapat penghargaan dari Malaysia pada 1983 atau 1984. "Itu hadiah terbesar yang pernah saya terima. Nilainya waktu itu bisa untuk membeli mobil cukup bagus lah," ungkap sastrawan lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu.



Simak Video "Cerita Dewa Budjana yang Gagal Kolaborasi Bareng Sapardi Djoko Damono"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)