Penulis Kenya Dinominasikan Penghargaan Bergengsi karena Novel Bahasa Asli Afrika

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 31 Mar 2021 14:06 WIB
Kenyan author Ngugi wa Thiongo is also a Professor at University of California, Irvine.
Penulis asal Kenya Ngugi wa Thiong'o Foto: NPR/ Istimewa
Jakarta -

Kiprah penulis asal Kenya Ngũgĩ wa Thiong'o di kancah penulisan internasional tak diragukan lagi. Lewat novel berbahasa asli Afrika yang berjudul The Perfect Nine, ia dinominasikan dalam daftar panjang penghargaan International Booker Prize.

Ajang penghargaan Booker Prize setiap tahunnya memberikan apresiasi kepada para penulis dunia. Penghargaan ini juga pernah memasukkan nama novelis Eka Kurniawan ke dalam daftar pendeknya.

Dalam International Booker Prize, Ngũgĩ wa Thiong'o dinominasikan sebagai penulis dan penerjemah buku yang sama. Ia juga masuk nominasi karena menulis dalam bahasa asli Afrika.

Penulis yang juga difavoritkan untuk penghargaan Nobel itu masuk bersama jajaran 13 penulis lainnya untuk fiksi terjemahan terbaik.

Dilansir dari berbagai sumber, tim dewan juri mengatakan novel yang ditulis Ngũgĩ wa Thiong'o merupakan kisah magis dan puitis tentang perempuan dalam masyarakat dewa.

"Ia mampu menuliskannya pertama kali dalam bahasa asli suku Afrika Bantu yang bernama Gikuyu," tulis keterangan tim dewan juri.

Sejak dekade 1970-an, Ngũgĩ wa Thiong'o menulis novel berjudul A Grain of Wheat dan Petals of Blood dalam bahasa Inggris. Suatu hari, ia berubah haluan untuk menulis dalam bahasa ibunya.

Karyanya pun sempat dilarang oleh pemerintah Kenya. Dia pernah dibui tanpa adanya proses pengadilan selama setahun dengan keamanan maksimum.

Saat berada di dalam penjara, ia menulis novel dengan bahasa ibunya Gikuyu, Devil on the Cross, di atas lembaran tisu toilet. Pada 2016, ia mengatakan penjara membuat dirinya berpikir lebih sistematis tentang bahasa.

"Mengapa saya tidak ditahan sebelumnya ketika menulis dalam bahasa Inggris? Di sanalah saya membuat keputusan. Saya tidak tahu apakah akan mengalami dampak psikologis jika tidak dipaksa oleh sejarah," katanya.

Selain nama Ngũgĩ wa Thiong'o, ada 12 penulis dunia lainnya yang masuk ke dalam penghargaan bergengsi. Di antaranya ada penulis China Can Xue lewat karyanya I Live in the Slums, penulis asal Prancis Eric Vuillard dinominasikan untuk The War of the Poor yang panjangnya hanya 80 halaman.

Kemudian juga ada penulis Ceko-Polandia Andrzej Tichy yang dinominasikan untuk novel pendek Wretchedness yang ditulis dalam bahasa Swedia. Penulis asal Belanda Jaap Robben mengisahkan tentang bocah lelaki berusia 13 tahun yang harus merawat kakak laki-lakinya yang cacat fisik dan mental.



Simak Video "Penulis Lupus Gusur Adhikarya Meninggal Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)