Stephen King hingga Margaret Atwood Tulis Surat Terbuka Kecam JK Rowling

Tia Agnes - detikHot
Senin, 12 Okt 2020 15:27 WIB
FRANKFURT AM MAIN, GERMANY - OCTOBER 14:  Canadian author Margaret Atwood attends the Peace prize of the german Book Trade pressconference during the Franfurter Book fair 2017 (Frankfurter Buchmesse) on October 14, 2017 in Frankfurt am Main, Germany. The 2017 fair, which is among the worlds largest book fairs, will be open to the public from October 11-15.  (Photo by Hannelore Foerster/Getty Images)
Margaret Atwood dan Stephen King mengecam opini JK Rowling Foto: Getty Images
Jakarta -

Lebih dari 1.200 penulis di Amerika Serikat dan Amerika Utara menandatangani surat memperjuangkan hak-hak LGBT. Mereka juga mengomentari pendapat pencipta Harry Potter, JK Rowling, yang selama ini menuai kontroversi.

Di antara para penulis ada Stephen King dan Margaret Atwood. Mereka secara terbuka menawarkan dukungan kepada komunitas transgender dan non-biner di AS dan Kanada.

Pesan dari penulis dan anggota komunitas sastra Amerika mengikuti petisi serupa yang terjadi di Inggris dan Irlandia. Pada 30 September, lebih dari 200 penulis Inggris dan Irlandia mengirimkan pesan cinta dan solidaritas kepada masyarakat transgender.

Sehari kemudian, ada 1.500 nama di dunia penerbitan yang bergabung dengan mereka. Para penulis menegaskan bahwa kehidupan non-biner adalah sah, perempuan transgender adalah perempuan, pria transgender adalah pria, dan hak transgender adalah HAM.

"Kami adalah penulis, editor, jurnalis, agensi sastra, dan profesional dalam berbagai penerbitan. Kami percaya pada kekuataan kata-kata," tulis keterangan penulis dalam surat petisi tersebut.

"Kami ingin melakukan bagian kami untuk membantu membentuk kurva sejarah menuju keadilan. Untuk itu, kami katakan: orang non-biner adalah non-biner, perempuan trans adalah perempuan, laki-laki trans adalah laki-laki, hak transgender adalah HAM. Kata ganti kamu penting, kamu penting, dan dicintai," tulis keterangan mereka.

Seorang penulis bernama Maureen Johnson menegaskan ketika JK Rowling terlibat dalam perdebatan di Inggris tentang hak-hak LGBT, hal itu memberikan banyak legitimasi pada sesuatu yang tampaknya sepele.

"Pendapat JK Rowling bisa disalah kaprahkan oleh publik, karena orang tahu JK Rowling dari Harry Potter," ucapnya.

"Terkadang kamu perlu mencantumkan namamu dan berkata, 'Saya tidak setuju dengan apa yang terjadi'," lanjut Maureen.

Nama JK Rowling juga menjadi perdebatan setelah ia memasukkan nama karakter pembunuh berantai yang mengenakan pakaian perempuan untuk memikat korbannya. Karakter itu ada di dalam novel terbaru seri detektif Cormoran Strike, Troubled Blood.



Simak Video "Di Balik RIP JK Rowling yang Bergema di Medsos"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)