Cara Penulis Korea Baek Se Hee Berjuang Melawan Distimia Selama 10 Tahun

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 07 Okt 2020 17:03 WIB
Penulis Korea Baek Se Hee yang menulis buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
Baek Se Hee Foto: Penerbit Haru/ Istimewa
Jakarta -

Penulis asal Korea Selatan, Baek Se Hee, berjuang melawan depresi berkepanjangan atau distimia yang dialami selama 10 tahun. Pengalaman itu dituangkan dalam sebuah buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki yang sukses mendunia.

Selama masa konsultasi dengan psikiater, Baek Se Hee menuliskan pengalamannya dalam bentuk esai. Bagi penulis asal Seoul itu, menulis buku merupakan sebuah penyembuhan.

Tapi, selain menulis buku, Baek Se Hee punya cara lainnya.

"Sebenarnya yang saya lakukan sehari-hari melawan ditimia biasa saja. Kayak berjemur di bawah matahari, saya selalu mengekspos tubuh saya di bawah cahaya, mengolah badan, berolahraga, dan pergi mandi itu wajib," tutur Baek Se Hee, saat jumpa dengan pembaca Indonesia secara virtual.

Aktivitas sehari-hari, lanjut Baek Se Hee, adalah hal yang disarankan oleh psikiater tempat ia melakukan konsultasi.

"Ini sangat membantu dan penting dalam proses penyembuhan dari rasa depresinya atau rasa distimia-nya sendiri," sambungnya.

Baek Se Hee juga secara terbuka berbicara mengenai penyakit mentalnya ke akun Instagram. Ia berbicara bahayanya dan memberikan sudut pandang berbeda dari segi pasien.

"Setelah saya dapat diagnosa-nya, saya menerima hasilnya dan berusaha melakukan hal-hal yang bisa membuat kondisinya lebih baik," lanjut Baek Se Hee.

Sementara itu, Baek Se Hee menyarankan kepada penyintas penyakit mental untuk berani mengungkapkan apa yang dirasa. Hal itu bisa dilakukan ketika berkumpul dengan komunitas tertentu, berbagi cerita, dan saling menguatkan.

"Saling sharing itu penting agar kondisi bisa lebih baik lagi ke hal-hal positif," tukasnya.

Baek Se Hee mengatakan selama 10 tahun ia mengidap distimia atau depresi berkepanjangan dan terus menerus. Di momen tertentu, ia merasa berada dalam kondisi yang parah dan ingin mengakhiri hidupnya.

Lewat tulisan esai yang awalnya diunggah di blog pribadi, akhirnya I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki dibukukan. Di Indonesia, bukunya rilis dalam dua volume oleh penerbit Haru.

Buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki volume pertama sukses terjual sekitar 20 ribu eksemplar dan volume kedua sekitar 3.000 eksemplar.



Simak Video "Rizki-Ridho Buka Suara soal Tudingan Rusak Cagar Alam Gunung Guntur"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)