Laksmi Pamuntjak Riset soal Seni Rupa Kontemporer di Novel Kekasih Musim Gugur

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 19 Agu 2020 12:22 WIB
Laksmi Pamuntjak
Laksmi Pamuntjak menerbitkan novel Kekasih Musim Gugur awal bulan ini Foto: Andi Saputra
Jakarta -

Novel Kekasih Musim Gugur karya Laksmi Pamuntjak resmi rilis di Indonesia mulai 3 Agustus 2020. Sekuel novel Amba akhirnya menyapa pembaca yang sudah menantikan kelanjutan cerita di antara Amba dan Bhisma.

Dalam novel Kekasih Musim Gugur, Laksmi Pamuntjak melanjutkan kisah lewat sudut pandang anak Amba dan Bhisma, Srikandi atau Siri. Ada banyak hal yang dituliskan oleh Laksmi, salah satunya soal isu seni rupa kontemporer.

Saat temu media secara virtual, Laksmi Pamuntjak menceritakan semua hal di dalam novelnya membutuhkan riset dan pendalaman.

"Bagaimana mengendapkan sebuah karya seni, menafsirkan, dan menuangkan ke dalam bahasa jadi tantangan tersendiri. Kita nggak mungkin hanya menafsirkan saja dengan bebas," tutur Laksmi Pamuntjak pada Selasa (18/8/2020).

Novelis Aruna dan Lidahnya itu menceritakan riset yang dilakukan terhadap sosok maestro besar seperti S. Sudjojono, Djoko Pekik, I Gusti Ayu Kadek Murniasih sampai pelukis ekspresionis Jerman.

"Untungnya saya tertarik dengan bidang itu (seni rupa kontemporer). Tantangannya adalah melakukan penelusuran yang membentuk karya itu," lanjutnya.

Laksmi Pamuntjak Resmikan Novel Kekasih Musim GugurLaksmi Pamuntjak Resmi Luncurkan Novel Kekasih Musim Gugur Foto: GPU/ Istimewa

Perempuan kelahiran 22 Desember 1971 itu juga menjelaskan tantangan terbesar lainnya adalah belajar untuk mengerti sejarah seni rupa Jerman. Bahkan ia memasukkan sejarah seni rupa Eropa dari abad ke-15 sampai ke-18.

Laksmi mengatakan ia terbilang nekat untuk memasukkan data-data tersebut meski sudah menjalani riset yang mendalam.

"Itu gila, berani banget gue ya dengan pertimbangan yang tidak begitu mudah. Saya pernah tinggal di Berlin, ekspetasi orang pastinya tinggi. Bayangkan saja kalau ada yang keliru atau salah diungkapkan gimana," kata Laksmi sembari tertawa.

"Ketika karya itu diciptakan, zamannya seperti apa, di mana, adakah ketertarikan tren dalam bidang kesenian di zaman itu yang juga ikut mempengaruhi pelukisnya. Itu juga masuk ke dalam riset," pungkasnya.

Sebelum terbit di Indonesia, sekuel novel Amba awalnya terbit dalam bahasa Jerman dengan judul Herbstkind dan bahasa Inggris yakni Fall Baby.



Simak Video "Rekomendasi Film Bertema Pentingnya Keluarga dalam Hidup"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)