Temanku Clara

ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

Temanku Clara

Didik Wahyudi - detikHot
Minggu, 08 Jan 2023 08:43 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Clara temanku mempunyai hobi yang amat menjengkelkan. Kadang-kadang aku merasa kebiasaannya membuat orang kaget itu sangat berbahaya. Seseorang bisa saja dilarikan ke rumah sakit, atau lebih buruk dari itu, mati seketika karena terkena serangan jantung.

"Ah, kamu terlalu khawatir saja," kata Clara enteng waktu aku mengingatkannya.

Memang, ketakutanku itu sejauh ini tak pernah terbukti. Orang menjerit-jerit karena kaget, tetapi tak pernah ada yang sampai masuk ke rumah sakit, apalagi mati.Meski begitu, aku tetap berkeyakinan bahwa kebiasaan itu sangat berbahaya. Sewaktu-waktu, dia bisa saja terlibat persoalan hukum.

Clara temanku pada dasarnya adalah teman yang tidak banyak maunya. Orang yang baru mengenal Clara pasti mengira dia gadis pendiam begitu saja. Tetapi, saat telah mengetahui bagaimana dia menjalankan kebiasaannya, orang akan berubah jadi mewaspadainya. Siapa saja bisa menjadi korban Clara. Dan, cara yang dipakai untuk mengagetkanmu bisa bermacam-macam pula.

Aku sendiri punya dua kejadian yang amat membekas di hati. Pertama, saat Clara menusuk pinggangku dengan kedua ujung telunjuknya, hingga espresso di tanganku tumpah ke seragam putihku. Serta, satu lagi, saat ia membuat Nina menjerit di pesta ulang tahunku dengan seekor cacing tanah. Nina melemparkan tasnya, yang kemudian jatuh di tempat yang sama sekali tidak aku harapkan. Kue ulang tahunku hancur.

"Tapi, sampai sekarang kamu masih berteman dengan dia kan?" Nurma, teman kuliahku yang sekarang bekerja sebagai sekretarisku, berkata datar.

"Butuh beberapa waktu sampai aku memaafkannya, Nur. Ya, memang kebiasaannya itu sering kali menjengkelkan. Tetapi, Clara sebenarnya adalah teman yang amat perhatian. Tentang kejadian di ulang tahunku itu, belakangan aku tahu, dia melakukannya karena Nina berusaha mencari-cari perhatian Driya. Waktu itu Driya memang berpacaran dengan Clara. Tetapi saat ini aku bahkan tidak tahu di mana manusia satu itu berada."

***

Mobil yang kami tumpangi meluncur di bawah guyuran hujan di akhir November pagi ini. Kota S telah jauh di belakang. Kabupaten M, yang menjadi tujuan kami, kira-kira tinggal seperempat jam perjalanan.

"Gi, setelah ketua panitia memberikan sambutan, akan ada pemberian cinderamata untuk sekolah-sekolah mitra, sebelum giliran kamu," kata Nurma.

"Ini daftar para pejabat kota yang akan hadir. Ada Wakil Bupati dan Ketua DPRD."

Nurma mengulurkan selembar kertas.

"Baguslah, kalau semua mau mendukung."

Aku menyusuri daftarnya.

"Ya, secara politik memang kegiatan ini bisa sangat menguntungkan."

Aku tidak memedulikan pandangan Nurma, meskipun cukup menarik untuk diobrolkan.

Sebuah nama dalam daftar itu menarik perhatianku. Gloria Jayusman. C, Msc, Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata kabupaten M. Aku yakin, dialah temanku Clara. Gloria Jayusman Clara bukanlah nama pasaran. Dia pasti temanku, Clara.

***

Waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi guru. Bu Tatik, guru SD-ku adalah sosok yang sabar dan berpengetahuan luas. Caranya mengajar amat menyenangkan dengan memakai cerita. Beliau membuatku selalu bersemangat datang ke sekolah. Mungkin karena kekagumanku kepada beliau itulah keinginan untuk menjadi seorang guru terbit di hatiku.

Tetapi, kata mama, tidak mudah menjadi seorang guru. Penghasilan seorang guru tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diembannya: membentuk seorang anak yang tidak hanya pandai tetapi juga berakhlak mulia. Mama ingin aku menjadi pengusaha.

"Awalnya memang akan berat. Tetapi bila berhasil, kau bisa membantu kehidupan banyak orang. Tak kalah mulia dari seorang guru," kata mama mencoba meyakinkanku.

Menapaki semester dua perkuliahan, aku membuka bisnis pertamaku. Sebuah usaha kecil-kecilan bermodal nekat dan keyakinan. Aku membuka warung nasi murah di dekat kampus. Dari usaha yang akhirnya berjalan lancar itu, aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Dan, kelak, hari ketika aku akhirnya membuka restoran ayam pertamaku adalah hari yang lebih dinantikan oleh mama melebihi hari wisuda sarjanaku.

Sayang, saat aku berhasil membuka pabrik makanan kemasan yang pertama, mama lebih dulu meninggal menyusul papa, yang meninggal enam bulan sebelumnya karena asma. Berharap bisa menghapus kesedihan ditinggal mama, dua tahun setelah kematiannya, aku menikah dengan Driya.

Semua teman kami hadir di resepsi pernikahan kami, termasuk Clara, yang sudah lebih dulu menikah dengan Fariz, teman kuliahnya dulu di Denpasar.

"Selamat, ya. Semoga lekas punya momongan," kata Clara kemudian menusukkan kedua telunjuknya ke pinggangku.

"Bangsat!"

Sejak hari itu, kami belum pernah bertemu lagi.

***

Proposal dari Yayasan Pena Bangsa tiba di mejaku delapan bulan lalu. Program yang diajukan amat sederhana: kelas menulis untuk siswa SMP di wilayah kabupaten M. Aku mendukung program itu karena dua alasan. Pertama, program itu berlangsung selama satu tahun. Menurutku ini pasti lebih berguna dibandingkan dengan workshop penulisan yang berlangsung dua atau tiga jam. Para peserta program akan mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Selanjutnya pada akhir masa program ribuan anak itu akan diwisuda secara bersama-sama. Mereka adalah anak-anak yang tidak hanya bisa menyampaikan gagasan ke dalam tulisan, tetapi juga dilatih agar mampu menyebarluaskannya melalui berbagai media. Bagi orang-orang tertentu kegiatan ini akan dilihat sebagai investasi politik berbiaya murah. Dan aku tidak mau hal itu kelak terjadi.

"Tak ada satu domba pun yang boleh tercuri. Mereka harus dapat membedakan gembala dan serigala," kataku kepada Nurma.

Alasanku berikutnya, aku menyukai program itu karena bertema kewirausahaan dan kebangsaan. Sebab, selain harus sukses secara bisnis, seorang pengusaha yang baik mesti pula mempunyai semangat memajukan bangsanya. Aku menunjuk Nurma untuk mengetuai tim supervisi. Mereka rutin mengadakan pertemuan dengan orang-orang yayasan untuk pemantapan program.

"Semua sekolah sudah menandatangani surat kerjasama. Izin juga sudah turun."

Nurma melaporkan pekerjaannya.

"Kapan peluncurannya?"

"Dua puluh November, seminggu sebelum ulang tahun perusahaan."

***

"Penyandang dana kan tidak perlu datang seawal ini!"

Aku merasa sangat mengenal suara itu, sehingga langsung membalikkan badan, mencari pemiliknya. Dan, belum sempat berucap apa-apa, Clara sudah lebih dulu mencubit kedua pipiku.

"Gayut Pange Suwargi."

"Clara!"

Aku memeluk Clara. Dia menepuk-nepuk punggungku kemudian menusukkan jari telunjuknya ke pinggangku.

"Bangsat!"

Clara tak menggubris reaksiku. "Foto yuk, Gi!" Clara menarik lenganku.


***

Tadinya aku ingin menyebut-nyebut Clara, dan mengumumkan pertemanan kami dalam sambutanku. Tetapi, sesuatu mendadak menghalangiku. Dari informasi yang kudapatkan sesaat sebelum naik ke panggung, aku tahu bahwa hubungan Kepala Dinas Pendidikan dan Clara sedang tidak baik-baik saja.

Bu Ririn, Kepala Dinas Pendidikan, marah besar karena Bupati memangkas banyak anggaran Dinas Pendidikan guna dialihkan ke pengembangan pariwisata. Dalam sambutannya, Bu Ririn tanpa sungkan-sungkan menuding ada pihak-pihak yang telah menyesatkan Bupati.

"Mereka adalah orang-orang yang ingin prestasi pendidikan kita mundur," katanya. "Kita bersyukur ada pihak swasta yang peduli terhadap pendidikan anak-anak kita. Meskipun, hal itu dapat pula dilihat sebagai suatu ironi."

Aku mengerti bagaimana perasaan Bu Ririn. Tetapi, aku juga mengerti bagaimana rasanya menjadi Clara saat itu. Tadi, sebelum acara, Bu Ririn terang-terangan menolak bersalaman dengan Clara. Disusul pidato yang provokatif itu, aku yakin temanku itu tak akan diam saja.

***

"Awas! Awas! Permisi!"

Beberapa petugas membawa Bu Ririn ke ruang medis. Tata, asisten pribadinya, mengikuti mereka dengan wajah cemas. Dari informasi yang kudapatkan, Bu Ririn pingsan saat sedang menikmati es teler yang disuguhkan oleh panitia.

"Cacing, Bu. Ngeri! Ada cacing di antara serutan kelapa muda dan alpukat. Siapapun tak akan tahan." Seorang pegawai Yayasan menjelaskan detail kejadiannya.

Aku diam, berusaha menahan tawa. Dari jauh aku melihat Clara, temanku. Seakan tak terjadi apa-apa, si pelaku tampak tenang, menyantap bakso kikil, sembari bergelak tawa dengan sejumlah koleganya.

"Kita balik sekarang," Nurma mengingatkanku.

Ya, tiga jam lagi aku harus sudah ada di kota S. Ada pertemuan penting, persiapan pembukaan sembilan cabang baru salah satu restoranku.

(Surabaya, 2022)

Didik Wahyudi buku puisinya yang telah terbit berjudul "Pelajaran Bertahan" (2019); aktif di komunitas Keluarga Padusan, Surabaya



Simak Video "Mawar de Jongh Ingin Seimbangkan Karier Nyanyi dan Akting"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT