Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Seni Kriya Logam Tumang Terkendala Regenerasi

Ragil Ajiyanto - detikHot
Jumat, 31 Des 2021 07:00 WIB
seni kriya logam
Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Seni Kriya Logam Tumang Terkendala Regenerasi. (Foto: ragil ajiyanto)
Boyolali -

Seni kriya logam Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Namun, kerajinan yang sudah go internasional itu terancam pada regenerasi perajin.

"Hasil penelitian kami mendapatkan data di lapangan melalui FGD kepada masyarakat atau pelaku, perajin dan pengusaha, itu fokusnya adalah di regenarasi. Karena sekarang yang muda-muda itu banyak yang lebih senang bekerja sebagai reseller dan bukan sebagai perajin," ungkap peneliti kebijakan pelestarian dan pengembangan industri seni kriya logam Dukuh Tumang dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), Widhyasmaramurti, ditemui usai audiensi dengan Bupati Boyolali.

Kekhawatiran pada regenerasi perajin logam di Tumang ini pun perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Karena jika dibiarkan, pengetahuan tradisional kerajinan logam di sana yang sudah turun-temurun sejak zaman awal Mataram Islam itu terancam keberadaannya. Perajin bisa hilang.

Maka, kata Widhyasmaramurti, dari penelitian ini pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemkab Boyolali, agar regenerasi perajin logam di Tumang bisa berjalan dengan baik. Pihaknya mengusulkan, agar seni kriya logam ini dapat dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah di Boyolali. Khususnya di wilayah Cepogo.

"Maka kami dari UI membuat kebijakan, untuk khususnya kepada regenerasi. Penekanan regenerasi itu agar bisa berjalan, diperlukan legalitas yang kuat. Kami merekomendasikan perlunya ada Peraturan Bupati terkait pelestarian dan pengembangan seni kriya logam itu," ujar Widhy.

Dengan adanya landasan yang kuat berupa Perbup itu, maka diharapkan pelajaran kerajinan logam masuk ke kurikulum sekolah, bisa benar-benar diimplementasikan ke bawah.

"Jadi bukan hanya sekedar wacana, tetapi juga terlaksana. Nanti harapannya, tadi Pak Bupati juga setuju bisa dijadikan muatan lokal untuk SD sampai SMA dan juga ekstrakurikuler. Nanti dari ekstrakurikuler masyarakat bisa membentuk regenerasi pengrajin," imbuh dia.

Seni Kriya Logam Tumang terkendala regenerasi.Seni Kriya Logam Tumang terkendala regenerasi. Foto: ragil ajiyanto

Rekomendasi kedua, lanjut dia, yaitu perlunya pelatihan pembuatan desain. Kemudian literasi digital untuk mendukung pemasaran digital.

"Ini penting untuk memutus perantara perdagangan yang membuat sistem harga tidak ada parameter," tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Darmanto, menyatakan Bupati Boyolali, M Said Hidayat, juga setuju seni kriya logam harus dilestarikan. Caranya dengan regenerasi.

"Sehingga ketika seni kriya ini secara formal bisa masuk di sekolah, itu artinya kekhawatiran bahwa seni kriya logam akan hilang, insyaallah tidak terbukti. Nanti segera kita tindak lanjuti secara teknis dengan teman-teman teknis, bagaimana silabusnya, kurikulumnya," kata Darmanto di lokasi yang sama.

Seni kriya logam masuk kurikulum sekolah, kata dia, minimal bisa diterapkan di sekolah yang ada di Desa Cepogo dan sekitarnya. Dia mentargetkan bisa secepatnya diterapkan.

"Ya target minimal di Desa Cepogo. Kalau bisa diperluas Kecamatan Cepogo tentu lebih baik, minimal Desa Cepogo dan sekitarnya. Seperti Desa Kembangkuning, Desa Cabean. Kalau target saya, paling cepat tahun ajaran depan. Nggak usah ditunda-tunda," tegas Darmanto.

Sementara itu, Kepala Desa Cepogo, Mawardi, menjelaskan jumlah perajin logam di Desa Cepogo sekitar dua ribu orang. Dari jumlah tersebut bergerak di berbagai macam, selain penatah, ada yang di pemasaran, finisher, desainer serta reseller dan lainnya. Tapi mereka bergerak dalam satu kelompok industri sebagai perajin.

"Jumlah pengrajin di Desa Cepogo kurang lebih 2.000 orang. Tapi dari 2.000 orang itu, mereka bisa menghidupi lebih dari 50 persen penduduk Cepogo yang sekarang sudah mencapai 9.038 jiwa, itu per November 2021," kata Mawardi.

(mau/mau)