Panggung Mereka yang Menunggu di Banda Naira Angkat Kisah 4 Tokoh Pergerakan

Ade Dinda Sawitri - detikHot
Kamis, 25 Nov 2021 14:09 WIB
Pertunjukan Mereka yang Menunggu di Banda Naira
Titimangsa Foundation mempersembahkan pertunjukan Mereka yang Menunggu di Banda Neira.Foto: Pepe/ Bakti Budaya Djarum Foundation
Jakarta -

Titimangsa Foundation mempersembahkan pementasan produksi ke-52 yang berjudul Mereka yang Menunggu di Banda Naira. Pertunjukan yang ditonton terbatas bakal digelar pada 25 November 2021 di Gedung Kesenian Jakarta dan virtual di YouTube IndonesiaKaya esok harinya.

Pentas Mereka yang Menunggu di Banda Naira mengangkat kisah pertemuan empat tokoh pergerakan Indonesia. Mereka adalah Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Iwa Koesoemasoemantri di tanah pembuangan Banda Naira.

Pada 1936, Sjahrir dan Hatta tiba di Banda Naira sebagai tahanan politik. Mereka bertemu dengan tahanan politik lainnya, Tjipto dan Iwa yang sudah terlebih dahulu berada di sana.

Meski yang ada di dalam pengasingan tak gentar meneruskan perjuangan di bidang sosial dan pendidikan. Kesibukan ini tidak disukai oleh penguasa setempat Hindia Belanda, Kloosterhuis, yang akhirnya memberlakukan pembatasan-pembatasan ruang gerak.

Cerita mengenai empat tokoh ini dituangkan oleh Sergius Sutanto dalam novel berjudul Bung di Banda yang diterbitkan oleh GagasMedia. Novel itu dialihwahanakan mendiang Gunawan Maryanto yang lalu ditafsir ulang oleh Wawan Sofwan.

Pertunjukan Mereka yang Menunggu di Banda NairaPertunjukan Mereka yang Menunggu di Banda Naira Foto: Pepe/ Bakti Budaya Djarum Foundation

Produser pementasan, Happy Salma menuturkan di tengah keterbatasan saat pandemi dan PPKM yang terbilang ketat, Titimangsa Foundation tetap menjalankan kreativitasnya menggelar pertunjukan.

"Kita pandemi dan ppkm yang ketat itu tetep proses berjalan waktu bulan Agustus. Ya kita udah mulai latihan secara paralel tapi dilakukan virtual gitu ya, jadi memang kita berjumpa baru beberapa minggu sebelum pentas satu karena situasinya mengharuskan kita begitu," kata Happy Salma ditemui di Gedung Kesenian Jakarta.

Happy Salma juga menambahkan pertunjukan ini adalah kenang-kenangan dari Gunawan Maryanto yang meninggal baru-baru ini.

"Pentas ini juga merupakan kenang-kenangan yang sangat berarti, yang dititipkan GunawanMaryanto kepada kami. Beberapa waktu lalu, ia telah pergi meninggalkan kita semua. Saya tahu, ketika berkarya, almarhum selalu

bekerja dengan sepenuh hati dan kita akan meneruskan energi itu," sambungnya.

Pementasan teater ini disutradarai oleh Wawan Sofwan, diproduseri oleh Happy Salma dan naskah cerita ditulis oleh Gunawan Maryanto yang kemudian ditafsir ulang oleh Wawan Sofwan.

Nama-nama besar di industri perfilman turut terlibat, yakni Reza Rahadian sebagai Sutan Sjahrir, Lukman Sardi sebagai dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Tanta Ginting sebagai Mohammad Hatta, Verdi Solaiman sebagai Iwa Koesoemasoemantri, dan Willem Bevers sebagai Kloosterhuis.

Tergabung juga aktris film yang baru pertama kali menjejakkan kaki di panggung teater, Julie Estelle sebagai Maria Duchateau dan aktor cilik pendatang baru, Akiva Sardi sebagai Des Alwi.

Simak video 'Pengalaman Petama Julie Estelle Main Teater Live':

[Gambas:Video 20detik]



(tia/wes)