3 Perupa Kompetisi Karya Trimatra Salihara Unjuk Gigi

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 04 Nov 2021 19:04 WIB
Komunitas Salihara Gelar Pameran 3 Perupa Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2019
3 perupa kompetisi karya Trimatra Salihara 2019 memajang karyanya Foto: Komunitas Salihara/ Istimewa
Jakarta -

Tiga perupa pemenang Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2019 unjuk gigi. Pameran seni yang mengusung tema Three for Plastic Heats dibuka pada 29 Oktober dan berlangsung hingga 30 November 2021.

Mereka yang berpameran di antaranya adalah Andrita Yuniza, Argya Dhyaksa, dan Wildan Indra Sugara. Melalui pameran ini, Komunitas Salihara ingin memotret karya-karya, gagasan, dan arsip dalam rentang tiga tahun belakangan.

Kurator seni rupa Komunitas Salihara, Asikin Hasan mengatakan tiga perupa yang karyanya ditampilkan ini adalah darah muda di dunia seni rupa Indonesia.

"Pameran ini menampilkan karya-karya tiga perupa yang relatif muda, sebelumnya mereka memenangkan Kompetisi Trimatra Salihara 2019," ungkap Asikin Hasan dalam keterangan yang diterima detikcom.

Setiap tiga tahun sekali, Komunitas Salihara mencari perupa berbakat yang berusia di bawah 35 tahun.

"Kami ingin memotret karya dan gagasan mereka, baik dari dekat maupun jauh, dalam rentang sekitar dua tahun terakhir," sambungnya.

Setelah perjalanan panjang sejak memenangkan Kompetisi Karya Trimatra Salihara, ketiga perupa memperlihatkan perkembangan teknologi masa kini, kondisi sosial budaya, dan lingkungan tempat tinggal mereka.

Seniman Andrita Yuniza fokus pada masalah lingkungan, karyanya menampilkan berbagai sampah organik yang mengalami transformasi bentuk-bentuk simbol.

Wildan Indra Sugara juga merekrut sampah-sampah industri yang ditemukannya di Jerman maupun di Indonesia. Berbeda caranya dengan Andrita, Wildan membiarkan sampah itu sebagaimana adanya.

"Sampah-sampah itu punya warna, riwayat, dan kelak akan mengalami proses kehancuran pada dirinya sendiri," ucap Wildan.

Sementara seniman Argya Dhyaksa dalam karyanya membuat karya berdasarkan pengalamannya sebagai keramikus. Argya memiliki daya bermain yang kuat.

Ia memuat keramik-keramik mungil yang dimasukkannya ke dalam botol. Argya juga menempatkan headphone di salah satu dinding yang sebenarnya tidak ada isi suara apa-apa kecuali kehadiran headphone itu sendiri.

Pameran ini diselenggarakan secara hibrid antara online dan offline dengan peraturan protokol kesehatan yg lebih ketat.



Simak Video "Melihat Proses Berkarya Seniman Gusmen Heriadi di Jogja Gallery"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)