Cerita Pendek

Mimpi dan Hal-Hal yang Tak Perlu Dipercayai

Artie Ahmad - detikHot
Minggu, 24 Okt 2021 09:50 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Ia terbangun ketika pagi sudah benar-benar lewat, bahkan matahari sudah sungsang di atas ubun-ubun. Matanya dikejap-kejapkan, tampak betul dari wajahnya sedang berusaha keras mengusir sisa kantuk. Aku masih duduk di depan layar laptop, menonton seorang penyanyi tampil di atas panggung ketika dia duduk di sebelahku. Aku tak perlu bertanya apakah dia ingin kopi dan semacamnya; dia hanya akan termenung-menung memikirkan sesuatu yang entah selama tak kurang tiga puluh menit saban kali bangun tidur.

"Semalam aku terbangun, tepat pukul dua. Kemudian tidak bisa tidur lagi," dia membuka suara. Matanya sesekali masih terpejam.

"Lantas?" tanyaku sembari menatapnya sekilas.

"Kau pulas."

"Bukan itu maksudku. Setelah terbangun pukul dua lalu bagaimana?"

"Aku susah tidur, sampai pukul tiga lebih."

"Kau perlu periksa ke dokter?"

"Tidak. Tidak perlu periksa, aku tahu sebabnya," dia berdiri, berpindah duduk di kursi depanku.

Mimik wajahnya kali ini serius. Meski serius begitu, aku malahan ingin tertawa melihat betapa lucu wajahnya; rambutnya kusut masai, cambangnya belum dicukur. Dia dalam keadaan berantakan. Dia memang bukan laki-laki paling menarik di antara laki-laki yang pernah kukenal, tapi setidaknya dirinya mampu membuatku mengiyakan ketika mengajukan keinginan mengenai pernikahan tiga tahun lalu.

"Beberapa waktu lalu aku bermimpi," dia lebih serius dari sebelumnya.

"Tentang?"

"Aku bermimpi ada seseorang yang kerap membangunkanku di waktu itu, pukul dua pagi,"

Aku menatapnya dengan sungguh-sungguh; tentu aku mengerti mengapa dia mengatakan hal itu. Bermimpi ada seseorang, dan mimpi lainnya. Tiga tahun menikah dengannya, tentu waktu yang cukup untuk mengenalnya.

"Minumlah vitamin setelah ini, dan saranku minumlah susu hangat sebelum tidur." Aku menepuk pundaknya.

Laptop kututup, lantas kuambilkan dia air putih untuk minum. Dia tak mengiyakan saranku atau menolaknya. Dia hanya duduk termangu-mangu, menatap ikan-ikan di akuarium. Aku tak pernah mengerti sedang memikirkan apa dia ketika termangu-mangu seperti itu. Mengenal dirinya, belum tentu aku bisa membaca isi kepalanya. Seperti kebanyakan kata kawan-kawanku, dia tak bisa ditebak. Ada waktu dia begitu menyenangkan, humoris, dan hangat. Namun, di lain waktu dia begitu dingin dan kaku bagaikan robot.

Menyoal mimpi, dia sangat percaya dengan segala bentuk mimpi. Tentu itu kuketahui selepas kami menikah. Dia tak pernah mengigau, namun kerap kali dia terbangun hanya lantaran mimpi-mimpi yang dianggapnya nyata. Pernah dia terbangun di tengah malam dengan sedikit berteriak. Ada ular di dalam kamar tidur katanya. Dia melihat jelas bahwa ular itu melata dari pintu menuju meja kerjaku, lalu melata ke arah ranjang. Semalaman itu aku menemaninya mencari sosok ular yang tak pernah ada. Dia menyisir sudut-sudut kamar, bahkan bawah ranjang. Katanya, sangat berbahaya jika ular itu mematuk salah satu dari kami. Baginya mimpi tak ubahnya refleksi dari kenyataan, dan mungkin saja kenyataan itu menumpang di dalam mimpi untuk mengirimkan kabar.

Aku berusaha keras untuk meyakinkannya bahwa sesungguhnya itu semua sekadar kembang tidur belaka, bukan sesuatu yang harus ia pikirkan sepanjang hari. Mimpi hanya pengisi tidur; jika bermimpi buruk itu tandanya mungkin tubuh butuh lebih santai dari sebelumnya. Tapi, apa yang kusampaikan tak pernah ia tanggapi betul. Dia masih memikirkan mimpi dan menganggap semua mimpinya adalah suatu kebenaran.

***

Hari ini dia bangun lebih awal; ada rapat sebentar melalui telepon mengenai pekerjaan. Dia dan aku memang memiliki kesamaan, tak lain kami bekerja dari rumah. Aku penulis lepas, sedang dia bekerja sebagai pemahat. Kayu-kayu gelondongan menumpuk di samping rumah, beraneka ukuran dan bentuk. Dari kayu-kayu itulah dia akan membuat ukiran-ukiran untuk hiasan atau mempercantik furniture rumah. Instalasi-instalasi seni banyak terlahir dari tangannya. Beberapa kawan menyebutnya dewa kekriyaan lantaran kepiawainya menarikan tatah di atas kayu.

Aku sedang sibuk menulis sebuah artikel pesanan ketika dia duduk di depanku. Kali ini dia sudah mandi, rambutnya basah disisir rapi, aroma sabun mandi masih menguar dari tubuhnya.

"Semalam aku bermimpi," dia membuka percakapan.

Aku mendongak dengan jengah. Obrolan tentang mimpi lagi. Ada waktu aku benar-benar merasa lelah mendengarnya.

"Menyoal apa?"

"Kau di mimpiku semalam sangat ahli dalam memasak soto ayam bening."

Kali ini aku menatapnya, agak terkejut aku mendengarnya. Memasak soto ayam bening? Astaga, bagaimana bisa aku memasak soto? Keahlian memasakku sebatas merebus mie instan dan mencampurnya dengan telur serta rajangan cabe rawit!

"Itu kan mimpi. Mana mungkin aku masak soto!"

"Tapi itu benar-benar nyata. Kau pintar memasak. Aku melihatnya sendiri, bahkan mencicipi," dia bersikeras.

Lalu dia mulai menjelaskan apa saja yang dialaminya di alam mimpi. Aku heran bagaimana dia bisa menceritakan secara runtut tentang mimpinya semalam, sedang manusia umumnya hanya bisa mengingat mimpi sepotong demi sepotong. Dengan lancar dia menyebutkan bumbu-bumbu soto, ia menyebut serai, daun jeruk, daun salam, daun bawang, lengkuas, bawang putih dan merah, tomat, kemiri, merica, kunyit, bahkan jahe.

Dia menjelaskan, katanya di dalam mimpi aku ahli saat merebus potongan-potongan ayam hingga keluar minyak alami dari ayam untuk bakal kaldu, bahkan dengan ahli pula menghaluskan bumbu dan sekuat tenaga bisa menggeprek serai, lengkuas sampai lumat.

Aroma bumbu yang kutumis menguar sampai ke mana-mana, katanya orang pingsan lantaran lapar akan terbangun karenanya. Bumbu tumis dimasukkan ke dalam kaldu ayam, kuah berwarna kuning dengan minyak kaldu bertabur rajangan daun bawang, seledri dan bawang goreng serta berisi suwiran daging ayam dilengkapi soun dan kecambah. Belum lagi ketika aku menghidangkan dengan kucuran jeruk nipis didampingi acar timun dan sambal kecap pedas cabe rawit. Begitu segar dan menggugah selera.

"Tapi itu hanya mimpi. Selama hidupku sama sekali tak pernah masak. Sop saja tak pernah, apalagi soto." Aku memprotes.

"Ah, kau berbohong. Semalam saja kau bisa memasaknya dengan baik. Aku akan keluar sebentar, bertemu teman. Nanti setelahnya aku akan mampir belanja bahan soto."

Aku terdiam. Kupikir delusi yang dialaminya semakin parah dari sebelumnya. Dia tak bisa lagi membedakan dunia khayal dan nyata. Mimpinya semalam bukanlah refleksi dari kenyataan. Aku memang ahli dalam menilai rasa makanan, tapi menyoal memasak nilaiku mungkin hanya dua per sepuluh. Terlebih menyoal soto ayam bening. Aku curiga bahwa di mimpinya semalam, yang ia lihat bukanlah diriku, melainkan ibuku. Di jagad ini yang bisa memasak soto ayam bening terenak adalah ibuku.

Dia kembali dengan totebag penuh belanjaan untuk memasak soto bening. Kepalaku berdenyut ketika melihat ayam dan segala macam bahan lainnya. Dia memaksaku untuk memasak. Tentu pada akhirnya kekecewaan yang akan dia dapatkan.

Aku membuka video cara memasak soto bening. Kuikuti setiap langkah, tapi ada waktu aku curiga dengan rasa asin dan manis untuk kuah soto, maka kutaburi garam mengikuti naluriku, dan tentu saja keliru. Jadilah kuah itu rasanya menyilih air laut. Soun menggumpal seperti karet, sedang ayam terasa keras ketika digigit, kecambah terlalu masak hingga nyaris tak memiliki tekstur. Minyak kaldu dari rebusan ayam tampaknya terlalu lama sampai akhirnya begitu banyak minyak yang mengambang di kuah, oh, mungkin itu juga lantaran aku menumis bumbu dengan minyak cukup banyak.

"Mengapa tak seenak semalam?" dia kecewa, wajahnya mengerut saat menyendok kuah dengan citarasa asin yang kurang ajar.

"Aku kan sudah menjelaskan, itu hanya mimpi. Sejak kapan kau melihatku memasak?"

"Tapi semalam kau benar-benar memasak, itu bukan sekadar mimpi."

Aku menyelesaikan semuanya dengan tutup mulut. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jika dia sudah bersikeras meyakini mimpi itu benar, maka tak ada alasan untuk membantah bahwa itu bukan suatu kenyataan. Berkali-kali aku mengajaknya ke dokter untuk memeriksakan diri. Seorang psikiater terbaik di kota ini sudah kuhubungi, tinggal kami membuat janji temu. Tapi dia, suamiku ini sangat keras kepala. Dia merasa tak pernah sakit, tubuhnya sehat, rohaninya pun demikian. Tapi sesungguhnya dia memerlukan psikoterapi dan meminum anti-psikotik.

Puncak dari semuanya terjadi pagi itu, ketika dia turun dari lantai dua dengan memasang wajah marah. Matanya memerah, wajahnya berang. Tampak betul dia sedang sangat murka.

"Kau berselingkuh?!"

Aku tak bisa segera menjawab lantaran bingung dengan pertanyaannya. Selingkuh, masalah apalagi itu?

"Aku tidak pernah berselingkuh. Selingkuh dengan siapa? Sedang aku selalu di rumah bersamamu."

"Semalam aku bermimpi kau tidur dengan laki-laki lain. Di ranjang kita! Mengapa kau berselingkuh?"

Dia mencecar dengan pertanyaan tanpa jawaban lantaran semua itu hanya sekadar tuduhan. Mimpinya kali ini luar biasa. Pertengkaran itu terjadi tanpa bisa dikendalikan. Dia membentak, aku berteriak. Beberapa waktu setelahnya dia pergi keluar, entah ke mana. Aku marah dan mencoba menghibur diri untuk menulis. Namun hal tak pernah kupikirkan itu terjadi. Bayangan dirinya yang mengendap-endap di belakangku terpantul di layar laptop. Sebuah balok kayu seakan siap untuk memukul kepalaku, dengan cepat aku menghindar tepat ketika balok itu terayun. Laptopku hancur berantakan. Di situlah dia menyerang, sebisa mungkin aku menahannya.

Dia berhenti menyerang, membanting balok kayu di lantai lalu duduk di depan televisi. Tangisnya terdengar, mirip seorang balita kehilangan mainan. Wajah pemberang berganti dengan wajah memelas. Perlahan aku mendekatinya. Kukatakan bahwa semua akan baik-baik saja, andai dia mau kuantar bertemu dokter.

"Kau benar-benar tak berselingkuh?" dia bertanya lagi, di sela tangisnya yang belum benar-benar berhenti.

"Tentu."

"Lalu siapa laki-laki semalam yang kulihat bersamamu?"

"Entah."

"Aku melihatnya,"

"Begini saja, kau ingin tahu siapa orang asing semalam?"

Dia mengangguk cepat.

"Aku tidak mengenal siapa orang yang kau lihat. Sungguh... Tapi aku punya kawan baik yang bisa membantumu. Mencari jawaban dari pertanyaanmu. Kau mau bertemu dengannya?"

Dia berpikir sebentar sebelum menjawab, "Aku mau bertemu dengan kawanmu."

Mendengar jawabannya, aku segera mengambil gawai guna menghubungi psikiater untuk membuat janji bertemu secepatnya hari ini.

Yogyakarta, April, 2021

Artie Ahmad lahir di Salatiga 21 November 1994, menulis cerita pendek dan novel

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Bamby Bantah Ibunya Jebak Piet Pagau untuk Menikah"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)