Digelar Daring, Biennale Jogja 2021 Gandeng 34 Seniman dan Komunitas

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 01 Okt 2021 19:05 WIB
Jumpa Pers Gelaran Biennale Jogja 2021
Jumpa Pers Biennale Jogja 2021 digelar secara virtual Foto: Biennale Jogja/ Istimewa
Jakarta -

Merayakan satu dekade seri Equator, perhelatan Biennale Jogja 2021 mempertemukan seniman Indonesia dengan Oseania. Kawasan yang sangat dekat dengan Indonesia tapi praktik geopolitik terasa jauh.

Di penyelenggaraan tahun ini, festival seni yang digelar setiap dua tahun sekali itu menggandeng 34 seniman dan komunitas seni. Festival ingin membaca sejarah Oseania dalam rangka mengenali kembali identitas Indonesia yang dibayangkan sebagai melting pot, titik temu dari berbagai etnis, ras, dan kebudayaan.

Direktur Yayasan Biennale Jogja, Alia Swastika mengatakan sejak satu dekade lalu, festival bertaraf internasional ini ingin fokus pada negara di belahan bumi selatan. Terutama yang berada di garis sejajar 23 derajat Lintang Utara dan 23 derajat Lintang Selatan.

"Selama 10 tahun, kami sudah bekerja sama dengan negara India, Arab, Nigeria, Brasil, dan di tahun 2019 dengan Asia Tenggara. Sekarang kita sudah memasuki satu putaran bola dunia dan ditutup dengan kawasan Oseania," ungkap Alia Swastika, saat konferensi pers Biennale Jogja 2021 secara virtual, Jumat (1/10/2021).

Perhelatan kali ini terasa spesial karena sudah mencapai angka 10 tahun dari seri pertama Equator. Tapi juga, kata dia, menandai selesainya berkeliling dunia melalui jalur Khatulistiwa.

Biennale Jogja dibuka pada 6 Oktober dan berlangsung hingga 14 November 2021. Seluruh rangkaian acara biennale digelar di empat lokasi, di antaranya adalah Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta, Museum dan Tanah Liat, dan Indie Art House.

Tak hanya pameran seni, Biennale Jogja 2021 juga menampilkan pameran arsip dari penyelenggaraan yang bekerja sama dengan seniman India sampai Brasil.

"Menariknya, karya-karya seniman dari India hingga Brazil ini akan disajikan secara virtual melalui permainan minecraft. Hal ini menunjukkan bagaimana kami merespons relasi antara seni, pengetahuan, dan teknologi digital sebagai bagian dari spekulasi sejarah," kata Alia.

Jumpa Pers Gelaran Biennale Jogja 2021Jumpa Pers Gelaran Biennale Jogja 2021 Foto: Biennale Jogja/ Istimewa

Sekitar 34 seniman dan komunitas terlibat dalam penyelenggaraan Biennale Jogja 2021. Untuk program aktivasi ada 70 agenda seperti Biennale Forum, program Labuhan, residensi, dan Resource Room.

Biennale Jogja juga menghadirkan Bilik Negara Korea/ ASEAN dan Taiwan serta mengundang para seniman dari dua kawasan negara tersebut.

Direktur Biennale Jogja 2021, Gintani N.A Swastika pun menambahkan persiapan tim kuratorial dan penyelenggara dimulai pertengahan tahun lalu. Pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi mereka.

"Tantangan kami ada di pembatasan wilayah yang mengubah banyak dinamika penyelenggaraan kami. Biasanya kami ke kawasan mitra tapi sekarang tim kurator sepakat untuk mencoba mengenali mulai dari Indonesia bagian Timur," tuturnya.

[Gambas:Instagram]



Kurator Elia Nurvista melakukan riset ke Ambon dan Ayos Purwoaji menyambangi Jayapura dan Maumere (Papua) dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Para seniman di pameran seni utama di Jogja National Museum mengusung tema Roots <> Routes dan menampilkan Udeido Collective, Greg Semu, A Pond Is The Reverse of an Island, Radio Isolasido, juga Meta Enjelita dan Raden Kukuh Hermadi (dua seniman muda lulusan program Asana Bina Seni).

Perhelatan Biennale Jogja 2021 bisa dilihat secara virtual di laman https://biennalejogja.org/2021/ dan akun media sosial Biennale Jogja.



Simak Video "Karya-karya Memikat di Pameran Nandur Srawung #8 Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/wes)