Kolektif Udeido Asal Papua Unjuk Gigi di Pameran Seni Kolaboratif Museum MACAN

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 16 Sep 2021 18:05 WIB
Kolektif Udeido Asal Papua
Kolektif Udeido asal Papua juga unjuk gigi di pameran seni Present Continous/ Sekarang Seterusnya Foto: Fay Syahaniya/ Organizing Committee Biennale Jogja XVI Equator #6 2021
Jakarta -

Museum MACAN bersama dengan lima organisasi seni Indonesia menggelar pameran seni kontemporer kolaboratif yang bakal dibuka untuk umum pada 18 Desember 2021. Bertajuk Present Continous/ Sekarang Seterusnya, eksibisi juga menggandeng empat seniman dan dua kolektif seni.

Salah satunya adalah kolektif atau kelompok seni asal Papua, Udeido. Kolektif Udeido yang berdiri akhir tahun 2018 punya anggota seniman yang tersebar di seluruh penjuru Papua.

Mereka diseleksi oleh ko-kurator Jogja Biennale, Elia Nurvista. Dalam jumpa pers virtual, Elia menuturkan karya yang bakal dihadirkan di Museum MACAN nanti merupakan karya performatif.

"Ada patung dan karya seni instalasi juga yang belum berfungsi benar kalau belum ada pengunjung. Temanya adalah ruang spiritual yang juga biasanya diaktivai oleh upacara adat," tuturnya, Kamis (16/9/2021).

Nantinya ada seni performans yang bakal dihadirkan oleh Kolektif Udeido. Tapi Elia juga menegaskan masih ada beberapa kendala terkait peraturan saat pandemi.

"Bentuknya (karya seni) seperti apa, kami masih membicarakan nanti," tambahnya.

Perupa Dicky Takndare asal Sentani yang merupakan anggota Kolektif Udeido juga menceritakan tentang konsep karyanya yang memakai material-material dari kampung halamannya.

Kolektif Udeido Asal PapuaKolektif Udeido Asal Papua Foto: Fay Syahaniya/ Organizing Committee Biennale Jogja XVI Equator #6 2021

"Ini bukan hanya pendekatan tapi juga jadi konsep. Kami menggali kembali konsep yang dipercaya oleh nenek moyang orang Papua untuk melihat kontemporer saat ini dikaitkan dengan kacamata masa lalu, dan masa depan yang seperti apa," kata Dicky saat jumpa pers virtual.

Dicky juga mengatakan ada banyak material karya seni konvensional yang biasa dipakai oleh pematung, seniman video mapping maupun video art.

"Bedanya ini material budaya dari seniman tradisional di beberapa daerah di Papua," tegasnya.

Kolektif Udeido di antaranya terdiri dari Andre Takimai (Deiyai), Betty Adii (Jayapura), Costantinus Raharusun (Fak-Fak), Dicky Takndare (Sentani), Michael Yan Devis (Jayapura), Nelson Natkime (Mimika), dan Yanto Gombo (Wamena).

Kolektif yang memakai kata Udeido dari bentuk jamak 'Ude' yang merujuk pada sejenis daun yang biasa digunakan masyarakat Mee untuk menutupi luka atau pendarahan. Kelompok seni ini merupakan ruang yang dibentuk untuk mendorong upaya perupa muda Papua dalam mengeksplorasi berbagai fenomena sosial dan humaniora yang terjadi di Papua, serta mengemasnya dalam bentuk karya seni rupa.



Simak Video "Karya-karya Memikat di Pameran Nandur Srawung #8 Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/wes)