Cara Laura Basuki Hapalkan Dialog Sambil Lari Buat Seri Monolog Di Tepi Sejarah

Tia Agnes - detikHot
Senin, 20 Sep 2021 18:30 WIB
Seri Monolog Di Tepi Sejarah
Laura Basuki dalam monolog Di Tepi Sejarah Foto: Titimangsa Foundation
Jakarta -

Laura Basuki sukses malang melintang dalam berbagai karakter di layar lebar. Untuk pertama kalinya, ia main teater dalam seri monolog Di Tepi Sejarah garapan Titimangsa Foundation.

Karakter yang dimainkan oleh Laura Basuki bukan sembarang tokoh. Bagaimana cerita bintang kelahiran Januari 1988 tersebut?

"Di awal aku nonton pertunjukan Titimangsa Foundation, aku merasa nggak mungkin untuk bisa berada di panggung kayak gini, tanpa ada cut to cut, kalau film kan bisa retake ya. Di panggung kan tidak," cerita Laura Basuki saat jumpa pers virtual, Senin (20/9/2021).

Sebelum memulai proses latihan sebanyak 15 kali, Laura Basuki mengaku stres dan mau pingsan.

"Aku tuh orangnya nervous di atas rata-rata, sudah mau pingsan, excited, dan lebih banyak ke stres. Deg-degan banget membayangkan durasi selama 35 menit. Sendirian nggak ada teman, direkam dan tanpa ada cut. Hanya kamera yang terus rolling," katanya.

Ketika membaca naskah monolog Sepinya Sepi, Laura Basuki semakin semangat untuk menghapal. Sayangnya, dia mengaku ada masalah utama yakni warna suara yang tipis.

Karakter dalam monolog tersebut, lanjut dia, punya warna suara yang tebal.

Seri Monolog Di Tepi SejarahSeri Monolog Di Tepi Sejarah Foto: Titimangsa Foundation

"Gimana caranya supaya vokal aku bisa menyerupai lebih ke orang tua. Dari situ aku dibantu untuk latihan lari sambil menghapal dialog," imbuhnya.

Ketika latihan lari sambil menghapal dialog itu dilakoni, Laura Basuki mulai menemukan warna suara yang berbeda.

"Ketika capek kan ada suara dalam dan suara itu yang akhirnya dipilih. Kok bisa yah, suara tipis kayak aku menemukan suara lain," tambahnya.

Pengalaman itu diabadikan Laura Basuki dalam hidupnya. Bahkan ia menyebut bermain teater dalam monolog Di Tepi Sejarah menjadi momen terindah dalam perjalanan kariernya.

Dalam monolog berjudul Sepinya Sepi, lakon ini mengangkat cerita tentang perempuan tua Tionghoa bernama The Sin Nio. Dia terjun ke medan perang menjadi prajurit lalu mengganti identitasnya sebagai laki-laki dan memakai nama Moechamad Moechsin.

Selain Sepinya Sepi, seri monolog Di Tepi Sejarah juga mengangkat tiga tokoh lainnya yang berada di tepian sejarah bangsa. Mereka adalah Muriel Stuart Walker atau Kentut Tanri (diperankan Chelsea Islan), Riwu Ga (Arswendy Bening Swara), dan Amir Hamzah (Chicco Jerikho).



Simak Video "Kata Para Pemenang FFI 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/pus)