Seri Monolog Di Tepi Sejarah Ajak Pencinta Budaya Lihat Sisi Lain Sejarah

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 19 Agu 2021 17:03 WIB
Seri Monolog Di Tepi Sejarah
Seri monolog Di Tepi Sejarah diprakarsai oleh Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media Foto: Titimangsa Foundation
Jakarta -

Di tengah anjuran berada di rumah saja, Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Kemendikbudristek dan KawanKawan Media menampilkan kolaborasi tak biasa. Melalui seri monolog berjudul Di Tepi Sejarah, pertunjukan ini mengajak untuk melihat sisi lain dari narasi besar sejarah bangsa Indonesia.

Diprakarsai oleh Happy Salma dan Yulia Evina Bhara selaku Produser dari Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media, pentas ini bermula dari penggarapan monolog Aku Istri Munir.

"Monolog Aku Istri Munir saya mainkan di ruang yang kecil. Banyak sekali yang setelah menonton pentas menjadi menemukan jalan lain untuk merawat ingatan," tutur produser Titimangsa Foundation, Happy Salma, dalam keterangan yang diterima detikcom.

Dari situ, lanjut Happy Salma, dia jadi terinspirasi dengan situasi sekarang, banyak cara untuk tetap bergerak, berbuat, dan semoga bermanfaat lewat panggung teater.

"Dimainkan oleh satu pemain agar terasa intim dan personal. Dalam hal ini, saya berharap Di Tepi Sejarah dapat menjadi kaca mata lain bagi bangsa Indonesia melihat sejarahnya," ungkapnya.

Seri monolog Di Tepi Sejarah mengangkat empat judul. Di antaranya Nusa yang Hilang, Radio Ibu, Sepinya Sepi, dan Amir, Akhir Sebuah Syair.

Keempatnya mewakili keanekaragaman wilayah dan melibatkan orang-orang di seluruh pelosok Indonesia. Pertunjukan ini juga adalah upaya memberikan sudut pandang baru untuk Indonesia melihat sejarahnya.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Hilmar Farid mengatakan monolog ini adalah inisiatif kecil untuk memberi makna di perjuangan Indonesia.

"Tokoh-tokoh yang diangkat dalam pentas ini mewakili semangat perjuangan seluruh komponen rakyat Indonesia kala itu untuk keluar dari penjajahan. Semangat yang sangat dibutuhkan hari ini ketika Indonesia memperingati 76 tahun kemerdekaan di tengah pandemi," kata Hilmar Farid.

Seri monolog ini juga melibatkan seniman yang berdedikasi pada profesinya. Di antaranya yaitu Iskandar Loedin (Penata Artistik dan Cahaya), Deden Jalaludin Bulqini (Penata Artistik dan Multimedia), Mamed Slasov (Penata Cahaya), Retno Ratih Damayanti (Penata Kostum), Eba Sheba (Penata Rias), Ricky Lionardi (Penata Musik), Achi Hardjakusumah (Penata Musik), Freza Anhar (Penata Musik), Imam Maulana (Penata Musik dan Suara) dan Batara Goempar (Penata Sinematografi Nusa yang Hilang).

Di Tepi Sejarah dapat ditonton mulai 18 sampai 25 Agustus di kanal YouTube Budaya Saya.



Simak Video "Persiapan Festival Sang Kuda Renggong Desa Ranjeng Sumedang"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)