Cerita Pendek

Sebuah Gardu di Simpang Talang Baru

Mahan Jamil Hudani - detikHot
Minggu, 29 Agu 2021 10:30 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Gardu itu terletak persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan dua desa besar yang berjarak sekitar dua belas kilometer, Desa Gunung Besar dan Desa Subik. Orang-orang dari beberapa kampung, jika mereka akan berbelanja, pastilah akan pergi ke dua desa tersebut karena dua desa itulah yang memiliki pasar yang buka hanya satu kali dalam sepekan. Pasar Desa Gunung Besar buka pada hari Sabtu, sementara pasar Subik, buka pada hari Rabu.

Gardu itu terletak di simpang Talang Baru, tepat berada di tengah dua desa besar tersebut. Kampungku masih masuk ke dalam dari simpang Talang Baru, sejauh kira-kira lima kilometer. Sejak kecil dulu, sungguh aku merasa begitu akrab dengan gardu itu. Bahkan dari gardu itulah, impianku bermula.

Aku lahir di Talang Mandiangin, sebuah dusun kecil yang hanya memiliki tiga puluh rumah. Beberapa talang atau dusun di sekitarku bahkan lebih sepi dari talang tempatku tinggal. Talang Baru, dusun paling luar dibanding dusun-dusun lainnya, hanya memiliki belasan rumah. Dua desa besar yang aku katakan ramai karena memiliki pasar hanyalah Gunung Besar dan Subik. Rumah-rumah di Gunung Besar dan Subik sudah berbentuk permanen dan berdinding tembok dengan ubin dari keramik, sementara rumah di dusunku masih berupa panggung-panggung tinggi yang terbuat dari papan.

Ketika aku kecil, aku sangat senang sekali jika Ayah dan Ibuku mengajak ke pasar. Itulah hari ketika aku bisa melihat dunia luar. Aku, Ayah, dan Ibu akan berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju Talang Baru. Ayah memanggul satu karung besar berisi biji kopi kering yang telah digiling untuk dijual ke pasar.

Kadang Ayah membawa karung lada atau cengkih. Ibu juga membawa bronang atau kantung besar terbuat dari rotan yang talinya digantung di kepala --biasanya kami gunakan untuk membawa kopi, lada, cengkih, atau hasil bumi lain-- berisi kopi sekadar untuk menambah barang yang bisa dijual untuk kemudian Ibu belanjakan kepentingan dapur. Bronang tersebut nanti akan berisi belanjaan dari pasar seperti minyak sayur, bawang, ikan asin, gula putih, dan lain-lain.

Di gardu Talang Baru kami akan berhenti, mengaso sambil menunggu mobil yang akan mengangkut kami ke Gunung Besar atau ke Subik. Di gardu itu --sering kami bertemu dengan warga lain yang akan ke pasar-- Ayah sering menceritakan banyak hal untuk menghiburku yang kelelahan karena berjalan kaki. Karena itu hari kalangan atau pasaran, akan cukup banyak kendaraan yang lewat, jadi kami tak perlu menunggu berjam-jam seperti hari biasa.

Saat aku SD dan SMP, aku bersekolah di Subik. Aku tinggal bersama kakakku di sana. Aku pulang ke rumah orangtua hanya hari Sabtu dan akan kembali ke Subik pada Minggu sore. Aku selalu berjalan kaki dari Talang Mandiangin ke Talang Baru, lalu melepas lelah di gardu sambil menunggu mobil yang membawaku ke Subik. Begitulah sembilan tahun berlalu, aku akan duduk di gardu itu setiap minggu sore, menunggu mobil yang membawaku ke Subik.

Aku menyelesaikan SMA di kota kabupaten. Aku pulang kampung satu bulan sekali, aku tinggal indekos di kota. Hal yang sama akan berulang saat aku akan kembali ke kota. Aku akan berjalan kaki hingga simpang Talang Baru, lalu duduk di gardu bersama beberapa orang, menunggu mobil dari Subik yang akan membawaku ke kota, melewati Desa Gunung Besar.

Lulus SMA, ayah sangat berhasrat aku bisa melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di ibukota provinsi yang jaraknya lima jam naik bus. Aku pulang kampung dua bulan sekali. Hal sama berulang saat aku kembali ke kota, menunggu kendaraan di gardu simpang Talang Baru. Dan itu berulang saat aku telah lulus kuliah dan bekerja di kota megapolitan.

Hanya saja yang sedikit berbeda di masa ini, saat aku pulang kampung, Ibu akan membawakanku oleh-oleh cukup banyak bubuk kopi yang Ibu goreng dan tumbuk sendiri. Teman-temanku di kota senang sekali dengan bubuk kopi itu.

"Rasanya nikmat sekali, kopi bubuk asli," kata mereka. Di kota, aku tentu sering juga minum kopi bersama teman-teman di kafe.

Setelah beberapa tahun bekerja, barulah ada bus langsung menuju kota kabupaten dan provinsi milik warga Desa Subik. Setelah itu tak lama, ada bus lain lagi dengan trayek dari Subik yang langsung menuju ibukota negara yang jaraknya empat belas jam perjalanan. Aku perhatikan Desa Subik telah menjadi desa besar. Selain muncul beberapa bus, desa itu kini juga memiliki mini market, gedung SMA dan SMK, juga beberapa fasilitas penunjang lainnya, begitu juga Desa Gunung Besar, makin berkembang saja. Sementara kampungku tetap seperti dulu, seperti gardu Talang Baru, setelah tiga puluh tahun berlalu.

***

"Hai, Mas Feri ya," suara seorang lelaki mengejutkanku. Aku tak asing dengan wajahnya, namun aku lupa siapa namanya.

"Iya, benar." Aku membalas sapaan lelaki itu dengan ramah sambil ia kupersilakan duduk. Tak kuperhatikan kehadirannya menuju gardu. Ia membawa tas besar. Aku masih coba mengingat-ingat namanya. Tampaknya ia sadar jika aku sedang berpikir tentangnya.

"Saya Herman, Mas. Dari Talang Sebaris," lanjutnya. Kami lalu terlibat dalam suatu pembicaraan panjang sambil menunggu bus dari arah Subik. Herman, lelaki itu akan pergi ke kota pulau seberang, sama sepertiku. Ia ingin menengok adiknya yang bekerja di kota tersebut.

"Saya sering melihat Mas Feri duduk di sini, menunggu mobil. Saya juga dengar cerita kalau Mas Feri sudah jadi orang sukses di Jakarta. Jadi dosen katanya ya, Mas?" tanya Herman yang kemudian aku iyakan. Saat aku bertanya kenapa baru sekarang ia menyapaku padahal sering melihatku, dia menjawab kalau kebetulan ia sedang melihatku di waktu-waktu lalu tanpa menyapaku, itu karena ia sedang mengendarai sepeda motor. Ia juga berkata jika sudah sangat tak asing denganku.

Herman lalu mengeluarkan beberapa plastik makanan berupa keripik pisang yang ia keluarkan dari tasnya. Ia menawariku. Katanya ia membawa oleh-oleh itu untuk teman-teman adiknya di kota, ia menunjuk satu kardus bawaannya yang berisi makanan tersebut.

"Gurih sekali, Man," kataku. Ia bilang ibunya sendiri yang menggoreng.

"Apa yang Mas Feri bawa?" Herman bertanya apa isi kardus bawaanku.

"Kalau itu bubuk kopi, Man. Teman-temanku di kota juga sangat suka." Herman juga ternyata membawa bubuk kopi dalam kardusnya. Kami melanjutkan bincang kami tentang banyak hal. Herman selain bertani kopi layaknya warga kampung-kampung daerah ini, juga menanam banyak tanaman lain di kebun sebagai tumpang sari.

Sebenarnya tak jauh berbeda dengan ayahku atau warga kampung lainnya. Bahkan sepanjang jalan dari Talang Mandiangin menuju Talang Baru ini, banyak juga tanaman lain seperti pisang, singkong, dan buah-buahan selain pohon kopi. Tanah kampung kami yang terletak di bawah pegunungan memang sangat subur dan segala tanaman bisa tumbuh baik di atasnya.

***

Aku merenung kembali pembicaraanku dengan Herman di gardu. Sebenarnya dulu, selama tiga puluh tahun lebih, aku sering bertemu orang-orang dari kampungku atau kampung sebelah yang juga sedang duduk dan menunggu kendaraan untuk menuju kota lain. Gardu itu memang telah menjadi semacam pertemuanku dengan banyak orang. Hari-hari di kampung kami berjalan monoton, orang-orang akan menghabiskan waktu di kebun dengan impian sederhana.

Ya, dunia kami hanyalah sebatas kebun dan hasil bumi yang kami jual dengan harga yang hanya cukup untuk makan tanpa memiliki keinginan dan impian yang muluk atau tinggi. Gardu di simpang Talang Baru sesungguhnya adalah gerbang impian yang telah membuka jalanku melewati perjalanan panjang dari seorang anak kampung hingga mampu menjadi seorang terpelajar dan menjadi seorang akademisi.

Gardu Talang Baru juga sesungguhnya gerbang bagi orang-orang kampung kami dan sekitarnya untuk mengantar mereka melihat dunia luar, dunia luas yang tidak hanya sebatas kebun kopi. Tapi ironisnya orang-orang kampung kami tetap saja sama secara nasib, pemikiran, dan kondisi hidup, sementara di luar sana perkembangan telah terjadi begitu pesat. Hidup mereka seperti gardu Talang Baru yang tak berubah sejak dulu. Sungguh aku tidak pernah menyadari itu. Betapa gardu Talang Baru akhirnya seperti penghubung dunia masa lalu dan dunia masa depan.

Wajah ayah, ibu, kakak-kakak, adik-adikku, Herman, dan semua orang yang pernah kujumpai di gardu itu kini bermain di pikiranku. Aku memikirkan bubuk-bubuk kopi yang selalu kubawa juga keripik pisang dalam bungkus plastik yang Herman bawa. Semua itu seperti tak ada harganya di kampungku, namun betapa orang-orang kota di luar sana sangat menyukainya.

Aku sering minum kopi di kafe bersama rekan-rekan kerja dengan harga yang sangat luar biasa, sementara ibuku menjemur, menggiling kopi, menggoreng, dan kemudian menumbuknya sendiri menjadi bubuk-bubuk kopi dengan kelelahan yang tak dirasa. Namun semua seperti tak ada harganya di kampungku sana.

Berpikir tentang itu, aku melihat sebuah jalan terbuka, jalan bagi orang-orang kampungku melihat dunia, melihat cakrawala, melihat masa depan mereka, bukan semata gardu Talang Baru, Gunung Besar, dan Subik.

Mahan Jamil Hudani lahir di Peninjauan, Lampung Utara pada 17 April 1977. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), dan Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Mantan Suami Nindy Ayunda Divonis 2 Bulan Penjara atas KDRT"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)