Mural Kritikan Dihapus Aparat, Seniman Grafiti Pertanyakan Hal Ini

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 25 Agu 2021 15:28 WIB
Satpol PP hapus mural di bawah Jembatan Kewek (Kleringan), Kota Yogyakarta, Senin (23/8/2021).
Mural di bawah Jembatan Kewek Yogyakarta dihapus aparat Foto: Heri Susanto/detikcom
Jakarta -

Maraknya mural bermuatan kritik yang dihapus aparat pemerintah membuat para seniman mempertanyakannya. Hal utama yang ditanyakan adalah mengapa baru sekarang penghapusan mural kritik sosial itu diributkan.

Salah satu pembahasan itu yang dibicarakan oleh para narasumber dalam diskusi publik bertajuk Mural dan Intimidasi yang digelar oleh LBH Jakarta secara virtual.

Pegiat grafiti Budi Setiawan atau akrab disapa Budi Cole itu memberikan contoh kasus kepada mural bertulisan 404: Not Found di Batuceper, Tangerang, Banten.

"Mural itu sudah ada dari bulan Januari dan kenapa baru dibahas hari ini. Itu juga yang menjadi pembahasan kami di komunitas," kata Budi Cole.

Pria yang juga aktif berkesenian di Gardu House sejak 2015 menambahkan penghapusan mural sebenarnya lumrah terjadi di kalangan anak-anak street art. Menurutnya, ruang publik memang menjadi lokasi tempat mereka berkreasi.

"Sejak dahulu kala, dari awal 2000-an saya selalu bilang dan kami sudah menyadari kalau mural di tembok jalanan dihapus itu sudah hal biasa. Nggak usah baper, karena memang biasanya tim oren atau dinas terkait menghapusnya, itu nggak apa-apa," kata Budi Cole.

Mural 'Jokowi 404: Not Found' terpampang di dinding di Tangerang (dok.istimewa)Mural 'Jokowi 404: Not Found' terpampang di dinding di Tangerang (dok.istimewa) Foto: Mural 'Jokowi 404: Not Found' terpampang di dinding di Tangerang (dok.istimewa)

"Kebetulan saja momennya setelah Tuhan Aku Lapar, Dipaksa Sehat di Negara Sakit, lalu ada pemicu sampai ke 404:Not Found," sambungnya.

Ketika mural Tuhan Aku Lapar yang fenomenal sampai dihapus, Budi Cole pun sempat menanyakan kepada teman-teman HSC Forum mengenai hal tersebut.

"Hari mereka mengerjakan, disamperin ke rumahnya ada dari Satpol PP, Pemda terkait, dipanggil juga oleh kepolisian setempat untuk menanyakan. Saya tanyakan kenapa bikin? Memang itu merespons keadaan kota karena hal tersebut terjadi di kota mereka," kata Budi Cole.

Sementara itu, kurator Agung Hujatnikajennong yang telah melanglang buana menyeleksi karya seni menambahkan fenomena tersebut.

"Mural itu sifatnya sosial dan ada di jalanan. Kalau mau melihat kadar politisnya pada pesan dan lokasinya. Justru saya menilai dengan mural muncul, dihapus, lalu viral, karya itu menjadi abadi dan diingat," tuturnya.

Mural dan grafiti kontroversial yang viral setelah dihapus aparat. (Istimewa)Mural dan grafiti kontroversial yang viral setelah dihapus aparat. (Istimewa) Foto: Mural dan grafiti kontroversial yang viral setelah dihapus aparat. (Istimewa)

Masyarakat umum yang melihat karya-karya tersebut dari media sosial, lanjut dia, bisa saja merasa berhubungan dengan situasi sekarang ini.

"Pesan yang tepat di tengah situasi ini. Dihapus dan dibicarakan, sebenarnya di abad ke-21 ini mural tidak bisa berdiri sendiri, membutuhkan elemen lain contohnya media sosial untuk membawa perubahan," pungkasnya.

Pada akhir Juli, mural bertuliskan Tuhan Aku Lapar di kawasan Kotamas, Tigaraksa, Tangerang, Banten, viral karena dihapus oleh aparat. Dari situ, satu per satu mural kritikan lainnya kembali dihapus karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan dinilai provokatif.

Mural 'Dipaksa Sehat di Negara Sakit' yang berada di Pasuruan, Jawa Timur, mural 'Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan' sampai mural 'Dibungkam' yang berada di bawah Jembatan Kewek, Yogyakarta.

Mural 'Jokowi 404: Not Found' pun mengalami hal yang sama sampai pemburunya diburu oleh aparat.



Simak Video "Muralku Sayang, Muralku Dilarang"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/wes)