I Nyoman Sungada, Sosok di Balik Patung Pasir Replika Garuda Wisnu

Yudistira Imandiar - detikHot
Senin, 05 Jul 2021 10:00 WIB
Patung replika Garuda Wisnu - BNI
Foto: BNI
Jakarta -

I Nyoman Sungada berbangga hati, sebab dirinya bersama puluhan rekan pematung, tukang kayu, hingga relawan mampu menyelesaikan patung replika Garuda Wisnu. Patung yang dibuat lewat kolaborasi dengan BNI itu berdiri kokoh di Pantai Pandawa, Badung, Bali.

Patung replika Garuda Wisnu ini dibangun dari 2 ton pasir Pantai Pandawa hingga menjulang setinggi 14,1 meter, panjang 18 meter, dan lebar 9 meter. Patung itu menyambut wisatawan yang baru tiba di Pantai Pandawa, situs tersembunyi yang dijuluki 'The Hidden Beach'.

I Nyoman Sungada menggerakkan 20 pematung, 10 tukang kayu, dan 30 relawan untuk merealisasikan patung replica Garuda Wisnu sebagai simbol kerja keras penduduk Pecatu. Karya pahat yang indah ini menjadi simbol harapan dan kebangkitan Bali yang terpuruk akibat lamanya Pandemi COVID-19 mendera Indonesia. Harapan pun bersemi karena kemegahan patung ini menjadi Langkah awal ke arah event Road to Bali International Sand Sculpture Contest 2022 yang akan melibatkan para pematung dunia dalam kontes tersebut.

Mengenal Nyoman Sungada, sejak kecil ia sangat tertarik pada dunia seni kreatif, terutama seni pahat dan patung. Saat masih menjadi siswa kelas 3 sekolah dasar, ia rela menahan lapar hanya untuk melihat seorang pemahat membuat ogoh-ogoh, di luar Pecatu.

Jiwa kreatif Nyoman Sungada mengarahkannya untuk menjadi seniman ketimbang menjadi nelayan. Meskipun putus sekolah, semangat Nyoman Sungada tidak pernah surut untuk menyerap ilmu-ilmu baru.

Di usianya yang setara dengan anak SMA, Nyoman Sungada berhasil menghasilkan karya pahat pertamanya, yang kemudian ia jual ke Denpasar dengan harga Rp 10.000.

"Senang rasanya. Puas bisa menghasilkan sesuatu dari karya seni sendiri. Meskipun uang Rp 10.000 cukup besar waktu itu buat saya, namun bukan itu sumber kepuasan saya. Kebahagiaannya adalah karena berhasil membuat hasil karya yang dilihat orang, dianggap menarik dan indah," kisah Nyoman Sungada.

Kini, usianya sudah menyentuh angka 60 tahun. Ia berbangga telah berhasil membuat patung pasir terbesar di Indonesia, dan masih sangat langka di Tanah Air.

Garuda Wisnu ini sekaligus menambah rangkaian prestasi para pematung Pecatu di bawah bimbingan Nyoman Sungada. Dialah yang membentuk Himpunan Seniman Pecatu.

Nyoman Sungada bersama 35 anggota Himpunan Seniman Pecatu menorehkan berbagai prestasi pada lomba-lomba patung salju tingkat dunia. Prestasi terbarunya antara lain menyabet juara kategori Best Skill dan pemenang kategori Excellent pada International Snow Sculpture Competition tahun 2020 di Harbin, China. Lalu menjadi juara 3 pada International Snow Sculpture Contest tahun 2013 di Sapporo, Jepang.

"Prestasi kami ini tidak terlepas dari Agustono Gentari, beliau Founder Komunitas Pematung Salju Indonesia," ungkap Nyoman Sungada.

Nyoman berkisah dalam pembangunan replika Garuda Wisnu selama 12 hari, ia dan para rekan berkelindan dengan terik mentari, hingga sempat nyaris terkena halilintar.

Perjuangan itu terbayarkan saat karya indah tersebut mendapatkan perhatian dari orang-orang penting, mulai dari Gubernur Bali Wayan Koster, hingga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Royke Tumilaar.

Tidak hanya sekadar memuji, Royke bersama BNI membantu agar seniman Pecatu tetap berkarya dan mampu hidup dari karya-karyanya. Maka mengalirlah CSR BNI pada Himpunan Seniman Pecatu berupa bantuan mesin laser cutting dan komputer jinjing yang berkemampuan mendesain lebih canggih.

"Saya kaget. Ada perusahaan yang begitu memperhatikan pemahat seperti kami. Sebelum BNI tidak ada perusahaan yang membantu," ucap Nyoman Sungada.

I Nyoman Sungada adalah saksi hidup betapa perih dan sulitnya kehidupannya di Pecatu sewaktu kecil. Jangankan kehidupan layak, untuk mencari air pun, Ayah dua orang putri ini pernah berjalan kaki sejauh 5 kilometer. Namun, kini di Pantai Pandawa keagungan Bali ingin dihidupkan kembali.

Sama seperti keluarga Pandawa dalam kisah Mahabarata yang memang tangguh dan memiliki determinasi dalam memperjuangkan kebenaran, para seniman Pecatu pun ini memiliki ketangguhan yang telah menggema hingga ke mancanegara.

Semoga tarian Kecak kembali menggema. Tak hanya di Uluwatu, kini pun bisa di Pantai Pandawa, tepat di kaki Sang Garuda Wisnu.

(ega/ega)