Cerita Pendek

Sapu Tangan Kuning Merah

Nany Diansari - detikHot
Minggu, 06 Jun 2021 10:05 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Dari bibir sang penari terdengar Monenden, serangkaian syair-syair tua yang mengisi udara. Bai' Dae menyanyi dengan lantang sambil mengentak kaki tanpa keraguan. Seiring tabuhan gendang, dia berputar dan berbalik tepat pada bunyi dentang gong.

Tidak ada kemolekan apapun untuk menjadi seorang Bolian, sang penari dalam ritus pengobatan Motayok itu. Bai' Dae hanya terdiri dari hati yang lurus dan tubuh ringkih perempuan yang lama dimakan zaman dan matahari kebun pala.

Mokapoy sudah selesai. Mereka, para leluhur ingin berpesta dengan bail yang gurih; sagu hutan dimasak dalam bambu, dan binarundak ketan hitam; nasi lemang dengan rasa yang mewah harus disajikan nanti malam.

Tulang Bai' Dae seakan lolos dari tubuh. Kaki yang memar dan nyeri baru terasa sekarang setelah menari berjam-jam. Tubuh tua perempuan ini menjadi penghubung antara yang hidup dan mereka yang dianggap mati. Ia menyesap kopi jahe pekat untuk memulihkan tenaga. Matanya kembali hidup dan menyala, seolah dia ingin melawan keresahan dengan ketetapan hatinya.

Lazimnya, ritual ini akan berlanjut keesokan harinya. Tapi Bai' Dae tak ingin berlama lagi dalam utang janji. Utang itu harus tunai hari ini setelah beberapa tahun dia mencoba memungkiri sebagai, ah hanya bagian dari masa lalu.

Delapan belas tahun sudah, saat Baay Eku, sahabat serahimnya, memejam mata berhari-hari, tidak sadarkan diri. Katanya, dia dipungut roh jahat saat jatuh di Loloi; sebuah danau besar di belakang perkampungan tempat para penduduk desa mencari ikan mujair.

Maka digelarlah ritual tari permohonan memperoleh obat-obatan alam dari roh leluhur, berpesta sajian, syair pujian dan permohonan atas kesembuhan. Ketika dalam sekejap Baay Eku bangun dari dipan, dan sadar penuh, sang penari tayok Bai' Dae, dengan lantang mengucap janji, "Jaga kami dalam sehat dan suka cita, 15 tahun lagi kita akan kembali berpesta sebagai kesyukuran dan terima kasih!" demikian kata Bai' Dae berjanji dalam tenden magis.

Harusnya janji itu sudah tuntas tiga tahun yang lalu. Tapi kehidupan sederhana di desa Bilalang yang sunyi di pedalaman Mongondow yang seperti palung dipagari hutan-hutan Sulawesi Utara ini, terasa begitu cepat berubah. Inilah yang membuat Bai' Dae selalu menghindar dari percakapan tentang upacara itu. Bukan apa-apa, tapi makin banyak saja mereka yang mencibir di tengah arisan warga, yang samar atau pun jelas, yang ditujukan padanya.

"Percaya pada Tuhan, bukan pada setan, kalau tidak ingin kampung kita diazab!"

Telinga Bai' Dae memerah. Tapi tetap saja dia hadir pada acara arisan 10 ribu perak setiap minggu dengan ibu-ibu dusun. Perkampungan sudah berbeda dari 18 tahun yang lalu. Jalan-jalan semakin lebar dan sudah dibangun rumah-rumah bagus yang letaknya berdekatan. Anak-anak berlomba sekolah di luar kota. Makin jauh, terasa makin hebat.

Entah sudah berapa tahun lewat, Bai' Dae tak lagi menari. Penduduk dusun juga tak lagi datang memintanya motayok karena tak ingin diberi cap menyimpang.

"Buat apa berobat sihir? Sana rumah sakit, mewah dan terang benderang. Gratis pula. Kita tak perlu lagi menjual sapi ternak atau menggadai sawah untuk berobat," demikian kata para pengikut Pak Idrus setiap kali mendengar ada yang berencana menggelar motayok.

Pak Idrus adalah seorang tentara yang kembali ke kampung ini setelah pensiun. Dia banyak mengisi ceramah rohani di acara warga seperti tahlilan tujuh malam duka, syukuran sunatan, wisuda, dan segala syukuran yang digelar warga. Dia mengulang-ulang perkara-perkara yang katanya syirik dalam laku hidup dusun ini.

Perlahan, tak ada lagi denting kolintang mengiringi pemberangkatan jenazah. Senyap saja. Aroma wangi menyan dibakar saat doa arwah peringatan empat belas malam kematian sudah jarang tercium.

Tetapi kali ini tidak ada lagi keraguan dalam hati Bai' Dae. Keresahan kakaknya, Baay Eku yang setiap malam bermimpi tenggelam di air danau hitam, akhirnya memaksa Bai' Dae untuk berani menggelar motayok. Tubuh Baay Eku melemah dimakan malam-malam panjang tanpa tidur. Bai' Dae ingin menunaikan tugasnya jika memang kakaknya hanya resah dihantui janji.

"Obati saya di perkebunan pala sana, jauh dari dusun. Diam-diam saja," ujar Baay Eku dengan yakin. Tari Motayok akan dilakukan di kebun pala, sehari saja, dari pagi sampai malam.

Gong, gendang, dan kolintang diturunkan dari atas loteng. Sibi' tempat menaruh makanan para leluhur dihias kertas warna-warni. Mereka hanya mengajak beberapa keluarga dekat saja. Bai' Dae merapal tenden, mengingat-ingat syair yang ternyata masih mengalir lancar dari mulutnya.

***

Sore belum benar-benar tenggelam tapi perkebunan ini lebih cepat menjadi gelap oleh rindangnya jejeran pohon pala. Bai' Dae bergegas ke samping pondok, membuka gentong air dan berwudu. Magrib tiba. Bai' masuk ke pondok, ketika terdengar seseorang mencari dirinya.

"Sebentar Aki, Bai' Dae sedang salat, duduklah dulu di depan," kata Nurmina, keponakannya, mempersilakan sang tamu, kepala dusun Aki Saiun, yang datang bersama Tamin, anak lelaki dari sepupu dekat Bai'. Bai' Dae tahu persis apa yang membawanya ke sini. Setelah salat dan melipat mukena, Bai' Dae keluar menemui mereka.

"Tabik, Aki, apa kiranya yang membawa Aki bertamu sampai ke tengah perkebunan ini?" demikian Bai' Dae membuka percakapan dengan pelan dan mantap.

"Saya memang sengaja datang membawa pesan dari kepala desa dan warga. Ke persoalan saja ya Bai', warga dusun meminta Bai' tidak meneruskan praktik sihir ini. Tidak jaman lagi berobat dengan jin," Demikian Aki Saiun menjawab dengan dingin. Bai' Dae terdiam dengan rentet kalimat yang tanpa segan itu.

"Sadarlah Bai'!" Aki Saiun melanjutkan dengan nada menekan.

"Maaf, Aki, sejauh ini, saya berusaha tidak mengganggu ketenangan warga. Siapalah saya," Bai' Dae menjawab dengan santun. "Saya hanya orang tua tidak banyak paham zaman seperti anak kita Tamin yang belajar tinggi ini," Bai' Dae menjaga nada suaranya tidak bergetar.

"Dengar, Bai'," Aku Saiun memotongnya, "jangan menambah azab. Bai' tentu tidak lupa bencana longsor yang menghanyutkan rumah-rumah tahun kemarin. Itu karena kemarahan Tuhan. Bukan Bai' saja, seisi kampung akan ikut menanggung!" Aki Saiun terus saja membenamkan kalimat Bai'.

"Longsor yang kerap terjadi di dusun kita ini, Aki, karena orang-orang terus menjual kayu dari hutan, dan membuka kebun berhektar-hektar," jawab Bai. "Izinkan saya menyelesaikan tayok malam ini. Setidaknya saya sudah menggenapi janji saya dan Baay Eku kepada para leluhur kita," sahut Bai dengan menahan marah.

"Janji leluhur setan! Kami tidak akan membiarkan Bai' memulai lagi praktik sihir orang terbelakang di kampung kita ini. Pak kepala desa sendiri yang meminta saya mengingatkan," Aki Saiun mengucapkan dengan lantang.

Udara terasa penuh sesak oleh kemarahan. Bai' Dae tidak ingin berdebat. Bagaimana pun, motayok malam ini sudah siap.

"Sudahlah, Bai', Baay Eku memang sudah tua, bukan sakit mistis yang harus diobati dengan praktik syirik. Jangan melawan warga, semoga Bai' bisa mengalah," demikian Tamin menyela tanpa segan sebelum mereka pergi.

Oh Endete, lukaday in akuoi, na'a ki ompu monimu.
tonga' pa doman diya ta moko susah kon gina pobaya' tua kon toropan singgai.

Oh Endete jiwa leluhur, jagakan kami, anak cucumu
Bawalah keresahan ini pergi bersama matahari yang tenggelam

***

Belum juga pukul delapan, tapi malam di tengah kebun pala ini terasa lebih cepat merambat larut. Bai' Dae mengenakan kebaya manis merah muda, dan kain senada. Ia bercermin dan terlihatlah kulit cokelat, wajah yang ringkih dan tabah, gurat-gurat yang tidak terbaca arah. Gendang ditabuh oleh para lelaki dari satu sudut untuk mengiringi tarian malam ini. Sajian telah tertata. Di antara jemari Bai' Dae terpasang sapu tangan kuning merah dan satu rangkai kelinting yang berdering-dering, menciptakan suasana suka cita yang mistis.

"Ah, apapun ini, saya memohon izin dengan mengucap nama-Nya," Bai' Dae mengucapkan dalam batinnya sebelum memejamkan mata. Bai' Dae mulai menari. Menghentak kaki, berputar, memecah kesunyian dengan tenden yang lantang dan sumbang. Syair-syair meminta para leluhur hadir mengalun di antara tabuhan gendang yang bertalu-talu. Pundaknya luruh membungkuk sesaat sebelum Bai' Dae terlepas dari dirinya. Ia tampak kesurupan namun tetap dalam gerak tari yang seimbang dan lantun yang mengalir diulang seirama selama berjam-jam.

Mata yang terpejam tapi Bai' melihat setiap kehadiran dengan jauh lebih terang. Betapa riuh tabuhan gendang, sementara gong saling bersahutan, tapi telinga selalu memahami setiap bahasa dengan lebih tajam. Pikirannya yang terbuka, melewati sekat-sekat ruang depan pondok ini. Bai' Dae seperti tidak sadarkan diri, tapi sesungguhnya dia tidak pernah lagi merasa lebih sadar dari saat ini sejak 10 tahun lalu, sejak dia berhenti menari.

Seketika, keluarlah sejumput buah cengkeh hijau kemerahan dan satu ruas jahe dari genggaman Bai' Dae. Entah bagaimana, obat-obatan itu hadir begitu saja di antara sapu tangan merah kuning. Inilah obat dari alam.

Nun dari kejauhan, terlihat serangkaian obor menyala yang bergerak mendekat, parang panjang menebas pagar pohon jarak yang berjejer. Belasan warga menerobos masuk dengan beringas ke dalam pondok. Bai' Dae masih mengayun sapu tangan kuning merah dan mata terpejam ketika pekik bersahut-sahutan. Orang-orang berhamburan menyelamatkan diri dari beringasnya warga kampung. Gong diangkut, gendang ditendang hingga sobek.

Bai' Dae tetap menari, dengan mata terbuka penuh kemarahan dan tenden yang meliuk semakin lantang di udara. Sibi' tempat sajian makan roboh dan menyala dibakar api obor yang dilempar ke tengah. Piring-piring binarundak dan bail berhambur di lantai. Tak terkatakan lagi kesedihan Bai' yang perlahan-lahan mengeras dan berubah menjadi ketetapan hati.

"Wahai Endete, leluhur kami, maafkan kerakusan ini. Dalam hidup yang tampak dangkal ini kami hanya terus melihat diri sendiri."

Terdengar gema suara Bai' Dae. Kerusuhan yang mengelilinginya seperti gambar-gambar gerak lambat tanpa suara. Tepat sesaat sebelum kegilaan itu: Tamin, keponakannya yang pintar, dan sekolah tinggi ke universitas itu, memegang sebatang balok kayu dan memukulkan ke segala arah, menghantam pelipis Bai' Dae. Tubuh Bai' rubuh berdebam ke lantai tanah dikelilingi segala yang berantakan.

Sementara dentuman susul menyusul, Bai' Dae melihat tubuh Aki Saiun tersungkur menggelepar dengan mata mendelik. Itu semua masih dalam kelebatan gambar-gambar gerak lambat. Peristiwa ini lantas disusul empat orang warga lagi yang roboh, kejang sambil mengigau, meracau dengan bahasa tua penuh peringatan. Ah, malam apa ini? Malam penuh kemarahan.

"Maka jika semua orang ingkar atas kebaikan saling menjaga, biar jiwa saya sendiri yang akan berdiri. Memegang perjanjian tua dua alam. Pegang diri saya, Endete, cucumu. Saya saja, cucumu!"

Keterangan:

Motayok: ritual tari pengobatan dari suku Mongondow, Sulawesi Utara
Bolian: penari tayok
Monenden: menyanyikan syair-syair yang berisi pujian dan permintaan-permintaan.
Bail: sagu hutan yang diberi rempah dimasak dalam bambu
Binarundak: nasi lemang
Sibi': tempat menaruh sesajen
Endetu: panggilan hormat untuk arwah leluhur

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Elephant Kind Bercerita tentang Rasa Sunyi di Lagu Modern Romance Dreaming (Lonely)"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)