Cerita Pendek

Kesibukan Melempar Tomat

Bayu Pratama - detikHot
Minggu, 09 Mei 2021 10:25 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Laki-laki itu datang dengan memakai jaket polo berwarna hijau gelap yang sudah pudar. Tubuhnya yang tambun terlihat sangat tidak pas memakai jaket polo itu. Kalau saja dia tidak memakai kemeja di dalamnya, sedikit bagian perutnya di bawah pusar pasti kelihatan.

Jaket polo itu juga punya sablonan bertuliskan "Apendix" yang membuatku bertanya-tanya, orang macam apa yang mau memakai jaket bertuliskan penyakit usus buntu, bahkan dengan ejaan yang salah pula.

"Ini Gaban. Dia yang kemarin aku ceritakan," kata Argo memperkenalkan laki-laki tambun itu kepada kami. Kecuali Lapo yang berusaha menjabat tangan Gaban, kami semua menanggapi perkenalan itu hanya dengan mengangguk.

Setelah perkenalan singkat itu Monier yang sedang mengisap rokoknya langsung pergi ke dapur bersama Argo. Gaban yang baru saja melepas ranselnya duduk diam di salah satu sofa. Aku tidak ingat ada yang mempersilakannya duduk, tapi laki-laki itu sudah duduk di sana. Tubuhnya jadi terlihat lebih besar ketimbang saat sedang berdiri.

Sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri, Gaban melihat-lihat sekeliling ruang tamu tempat kami berada. Diperhatikannya bufet milik Argo cukup lama. Sepertinya piala dan piagam yang dipajang di sana menarik perhatiannya. Dari dahinya keluar keringat. Aku ingin menyuruhnya membuka jaket bertuliskan Apendix itu, tapi tidak jadi.

Dari arah dapur Argo dan Monier datang membawa baskom berisi tomat yang mereka beli tadi siang. "Jadi, apa kita bisa mulai?" kata Argo sambil melihat Gaban. Laki-laki itu hanya mengangguk kecil. Dari dahinya masih keluar keringat. "Kapan saja. Saya ikut," katanya.

Argo menceritakan tentang Gaban kepada kami kemarin siang. Laki-laki itu kenalan salah satu bawahan Argo di kantor. Kata bawahannya itu, cerita yang kemudian disampaikan Argo kepada kami, Gaban baru saja kena pemutusan hubungan kerja dari pabrik pembuat kadal plastik tempatnya bekerja.

Setelah sempat laku keras, penjualan kadal plastik memang agak menurun belakangan ini. Itu membuat Gaban kesulitan soal uang; dia bersedia mengambil pekerjaan apa saja yang ditawarkan siapa saja. Aku pikir Gaban pasti berpesan soal tawaran kerja apa saja dari mana saja itu ke bawahan Argo. Karena itu, saat Argo mengatakan ke bawahannya dia sedang butuh seseorang untuk satu-pekerjaan-tidak-terlalu-berat-tapi-punya-bayaran-lumayan, nama Gaban langsung masuk ke pembicaraan mereka.

Awalnya Argo mengira Gaban akan menolak ide kami, tapi ternyata tawaran itu langsung diterimanya. Membayar untuk melempari orang dengan tomat memang bisa terdengar ganjil. Lagi pula, sepertinya ide itu tidak tepat juga disebut "ide kami", karena Argo yang mengusulkan ide itu. Dia bilang pernah menonton hal itu di salah satu film buatan sutradara Yunani yang susah kuingat namanya. Kami hanya setuju saja. Itu pun karena Argo yang mengusulkan. "Kita butuh melepas stres ini," katanya waktu itu.

Soal stres itu juga sepertinya jadi motivasi besar untuk meng-iya-kan Argo. Orasi dan demonstrasi di mana-mana soal nasib buruh memang bisa membuat pusing kadang-kadang. Terlebih kalau orasi dan demonstrasi itu membuat jalan macet tambah parah. Sering kami batal ke kantor dan memutuskan bertemu di rumah makan mana pun yang mungkin tidak terkena macet. Mungkin musuh terbesar bagi otak kami bukan orasi atau demonstrasi itu, tapi kemacetan yang muncul setelahnya. Kemacetan-kemacetan itu kadang memang bisa membuat rahang jadi terasa nyeri.

Gaban membuka seluruh pakaiannya dan meletakkan dengan rapi bersama ranselnya di sofa. Melihatnya hanya mengenakan celana dalam seperti itu menimbulkan kesan yang agak aneh, tapi kesan itu segera hilang setelah Gaban berdiri di mana dirinya seharusnya berdiri.

Kami sudah memindahkan meja dan beberapa perabot yang ada di sudut ruangan dekat bufet sore tadi. Tembok dan lantai juga sudah dilapisi dengan plastik agar tidak kotor. Gaban berdiri di sana sambil menutupi kemaluannya dengan tangan, tapi itu justru membuatku memperhatikan bagian tubuhnya yang lain. Laki-laki itu punya dada yang kendor. Perutnya yang bulat dan berkeringat juga mengilap memantulkan cahaya lampu.

Lapo dan Monier mengangkat baskom berisi tomat itu lebih dekat. Argo yang sedang memilih-milih musik di telepon-genggamnya terlihat begitu dingin di sudut ruangan yang lain. Tiba-tiba musik pembuka Heroes-nya David Bowie terdengar; Argo mulai menari-nari.

"Ayo sekarang menari juga," kata Argo sedikit berteriak sambil menunjuk Gaban. Gaban menari. "Ayo menari," katanya ke kami. Kami mulai menari. Saat David Bowie mulai bernyanyi, Argo mengambil tomat pertamanya.

Argo melempar tomat itu dengan gaya seorang pitcher baseball. Tomat itu tepat mengenai perut Gaban yang sedang menari-nari. Biji-biji tomat menempel di perut itu. Membuatnya terlihat lebih mengilap dari sebelumnya. Tanpa aba-aba Lapo dan Monier ikut melempari tomat-tomat itu. Tomat-tomat melesat mengenai lengan, kaki, dan kepala Gaban.

Saat aku mengambil salah satu tomat di baskom, tomat itu terasa begitu lunak di salah satu sisinya. Lemparanku kemudian tepat mengenai dahi Gaban yang sedang menari-nari mengikuti musik. Melihat itu, kami semua tertawa.

"Kalian tahu, istriku sudah...gila sekarang!" kata Lapo. Diambilnya beberapa tomat dari dalam baskom. Suara musik membuatku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya, tapi Lapo terus bicara.

"Kemarin dia memintaku pulang...terus-terusan. Katanya sering ada orang...di depan rumah kami. Maksudku, untuk apa aku bayar...penjaga dan semua pembantu itu...dia merengek juga ingin aku cepat pulang!"

Monier menepuk-nepuk bahu Lapo. "Istriku juga sama. Dia terus-terusan minta diantar...rumah mertuaku di kampung. Mertuaku sehat-sehat saja, tapi...menelepon terus. Sebegini banyak pekerjaan...mau ditinggal? Libur pun pasti...kerjaan," katanya. Sambil mendengar mereka berdua bicara soal itu, aku dan Argo terus melempar Gaban dengan tomat-tomat di baskom.

"Kalian masalah istri saja bingung. Makanya dari awal...jangan menikah dulu. Ya begini ini kan?" kata Argo. Diserahkannya satu tomat padaku, dan aku melempar tomat itu tepat ke arah perut Gaban. Lapo dan Monier ikut melempar tomat-tomat itu.

"Musiknya ini terus ya?"

"Iya. Ini saja pas," kata Argo menanggapi pertanyaanku. David Bowie terus menyanyi. Argo melanjutkan omongannya soal hal-hal yang menurutnya memusingkan. Katanya, dari pada meributkan istri-istri, orasi dan demonstrasi buruh yang sekarang terjadi lebih memusingkan.

Kalau buruh-buruh itu meributkan upah lebih lama, bisa saja pemerintah berusaha membuat tenang dengan mengikuti permintaan buruh-buruh itu. "Itu yang merepotkan nanti. Belum lagi kalau ada wartawan wawancara soal kenapa belum mengikuti aturan yang ini, kenapa belum mengikuti aturan yang itu," katanya. Dilemparnya satu tomat yang tepat mengenai mata Gaban.

"Beri saja uang bensin. Beres kan," kataku.

"Yang mau terima uang bensin sih gampang, tapi wartawan-wartawan investigasi itu yang merepotkan! Menunggu keadaan supaya tenang itu pasti lama nanti, dan percaya saja, mereka malah senang kalau suasana jadi kacau begitu," kata Argo padaku. Dilemparnya lagi tomat-tomat itu ke Gaban, tapi meleset. Hal itu sepertinya membuat Argo kesal sampai meninju-ninju udara.

Saat aku dan Argo bicara soal itu, Monier membawa beberapa tomat dan melempari wajah Gaban dari jarak yang begitu dekat. "Anjing, babi, monyet, anjing, babi, monyet," katanya.

"Kenapa Monier?" kataku.

"Tidak tahu, sepertinya hanya ingin menyumpah-nyumpah." kata Lapo.

"Barusan istrinya telepon...Tidak diangkat, tapi istrinya telepon." Wajah Gaban yang sedang menari-nari dipenuhi oleh tomat-tomat itu. Keringatnya yang bercampur dengan air dari tomat mengalir melewati leher ke dadanya yang kendor, terus turun ke perutnya hingga membasahi celana dalamnya. Celana dalam yang sebelumnya putih itu sekarang terlihat berwarna oranye.

Aku katakan pada Argo kalau aku sedikit haus. "Istirahat dulu?" katanya. Aku mengangguk, dan Lapo juga mengiyakan.

"Mon, istirahat dulu," kata Argo. Setelah tomatnya habis, Monier mendekati kami sambil mengelap dahinya. Argo menyuruh Gaban juga istirahat. Setelah membersihkan sisa tomat di perut dan wajahnya, dia menanyakan di mana kamar mandi dan mengatakan ingin mencuci badannya jika dibolehkan. "Cuci saja dulu. Kamar mandinya di sana," kata Argo sambil menunjuk arah dengan gerakan kepalanya.

Saat Gaban kembali dengan badan yang lebih bersih, Argo menyuruhnya mengambil kursi besi dari dapur dan duduk di tempatnya menari-nari tadi. Kami duduk memunggungi Gaban di sofa sambil minum-minum. Ada juga kudapan, tapi tidak ada yang mengambilnya.

Sedikit memutar tubuhnya, Argo berteriak ke Gaban soal bawahannya yang memperkenalkan mereka. "Katanya kamu butuh uang ya? Tenang saja, nanti ini bayarannya lumayan buatmu. Sudah diberitahu berapa?" kata Argo.

"Sudah," kata Gaban.

"Kalau mau bisa juga kita sewa dia sekali sebulan," kata Argo pada kami. Aku lihat Lapo dan Monier mengangguk. Saat Argo melihat ke arahku, aku bilang itu memang bisa saja. "Lagi pula aku juga pusing soal rumah belakangan ini," kataku.

"Kau menikah saja belum, sudah pusing soal rumah," kata Monier. Lapo meng-iya-kan.

"Bukan begitu. Bapakku itu datang dan kebiasaannya mengatur-atur itu tidak bisa hilang. Bikin pusing. Nanti aku pulang saja pasti dia bertanya aku dari mana. Padahal aku sudah besar begini kan. Punya urusan-urusan pribadi semacam begini," kataku.

"Kalau begitu ayo kita mulai lagi," kata Argo.

"Ayo," kata Lapo dan Monier hampir bersamaan. Aku mengangguk kemudian menghabiskan minumanku.

Setelah menyuruh Gaban menyingkirkan kursi besi tempatnya duduk, Argo meminta kami berbaris. Tomat di dalam baskom tersisa setengah. "Kita habiskan ini," kata Argo. Kami mengambil tomat kami masing-masing.

Gaban yang baru kembali setelah menyingkirkan kursinya itu berdiri menghadap kami. Sejenak, dia terlihat seperti patung. Teringat olehku jaket polo bertuliskan Apendix yang dipakainya tadi. Itu membuatku ingin segera melempar tomat ke perutnya.

Sambil memain-mainkan tomat yang kami pegang, kami menunggu Argo mencari musik yang pas. Tiba-tiba dari pengeras suara terdengar musik pembuka Hard to Handle dari The Black Crowes. Argo mulai menari. Sebelum mulai melempar tomat-tomat itu, aku melihat Gaban mulai menari juga sambil memejamkan matanya. Kami juga menari. Gaban yang menari-nari itu terlihat siap dilempari tomat lagi.

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Siap-siap! D.O EXO Bakal Rilis Album Solo Akhir Juli"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)