Komunitas Seniman Lima Gunung Gelar Maulud Nabi Muhammad di Ponpes

Eko Susanto - detikHot
Jumat, 23 Okt 2020 18:01 WIB
Suasana Muludan Tegalrejo yang berlangsung di Ponpes API Syubbanul Wathon Tegalrejo di Girikulon, Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Foto: Eko Susanto/ detikcomSuasana Muludan Tegalrejo yang berlangsung di Ponpes API Syubbanul Wathon Tegalrejo di Girikulon, Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Magelang -

Suasana berbeda terlihat di Pondok Pesantren (Ponpes) Asrama Perguruan Islam (API) Syubbanul Wathon Tegalrejo, tepatnya di Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di halaman ponpes tersebut terdapat 7 kursi dari bahan bambu yang berdiri tegak.

Ada 7 kursi tersebut terdiri, 3 kursi berukuran tinggi 2,5 meter dan 4 kursi berukuran tinggi 3,5 meter. Kemudian, di depannya tulisan 'Muludan Tegalrejo' dari jerami. Selain itu, terdapat seperangkat musik dan acara ini dilangsungkan secara virtual.

Dari deretan 7 kursi tersebut, antara lain diduduki salah satu pengasuh Ponpes API Tegalrejo, KH Muhammad Yusuf Chudlori yang biasa Gus Yusuf. Kemudian, diduduki Presiden Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut, Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto, Begawan Prabu, dan perupa dari lereng Merapi, Ismanto.

Saat performans, seniman Komunitas Lima Gunung sempat membasuh kaki Gus Yusuf yang duduk di kursi dengan ketinggian 2,5 meter. Rangkaian yang dilakukan tersebut untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Kita yang pertama memperingati Maulud Nabi. Esensi peringatan Maulud Nabi itu kan bentuk syukur atas dilahirkannya rahmat, penyayang umat seluruh alam. Maka, umat Muhammad itu beraneka ragam. Lha maka bentuk tasyakur itu juga sesuai dengan istilahnya ekspresi dari masing-masing itu. Kita memberikan ruang untuk kebersamaan, antaranya santri-santri dan Komunitas Lima Gunung. Pesantren mauludnya dengan cara seperti ini, teman-teman Lima Gunung juga punya cara memperingati Maulud Nabi dan semua ketemu dalam konsep rahmatan lil alamin," kata Gus Yusuf di sela-sela acara Muludan Tegalrejo, Jumat (23/10/2020).

Suasana Muludan Tegalrejo yang berlangsung di Ponpes API Syubbanul Wathon Tegalrejo di Girikulon, Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.Suasana Muludan Tegalrejo yang berlangsung di Ponpes API Syubbanul Wathon Tegalrejo di Girikulon, Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Foto: Eko Susanto/ detikcom

Selain itu, katanya, juga memanjatkan doa keprihatinan, namun tidak meninggalkan kegembiraan yang ada. Adapun kebahagiaan merupakan obat tersendiri yang bisa menambah imun dan kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi pandemi ini.

"Sekaligus ini menjadi doa keprihatinan, tetapi tidak meninggalkan kegembiraan. Karena sekali lagi kebahagiaan ini adalah obat tersendiri, menambah imun dan menambah kekuatan bangsa Indonesia di dalam menghadapi pandemi ini," ujarnya.

Mauludan Tegalrejo yang dilangsungkan bersama seniman dari Komunitas Lima Gunung, sekaligus untuk memperingati Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober, kemarin.

"Iya, jelas ini dilakukan di pesantren dan ini juga menjadi pelajaran untuk teman-teman santri. Peringatan momentum Hari Santri ini, sekaligus menjadi momentum tanggung jawab bagi pesantren di seluruh Indonesia agar santri-santri ini siap menghadapi situasi apapun dan santri juga menjadi solusi bagi bangsa Indonesia sebagaimana dulu momentum ketika Indonesia dihadapkan kebuntuhan-kebuntuhan menghadapi penjajah Belanda, maka Kyai Hasyim Asy'ari memberikan solusi yakni resolusi jihad. Itu solusi, sumbangan terbesar dari pesantren untuk mempertahankan kemerdekaan. Maka harapan kita, di saat ini pesantren tetap menjadi solusi terutama dalam masalah pendidikan," tuturnya.

Suasana Muludan Tegalrejo yang berlangsung di Ponpes API Syubbanul Wathon Tegalrejo di Girikulon, Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.Suasana Muludan Tegalrejo yang berlangsung di Ponpes API Syubbanul Wathon Tegalrejo di Girikulon, Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Foto: Eko Susanto/ detikcom

Menyinggung dalam performans sempat dibasuh kakinya, Gus Yusuf mengatakan, apa yang dilakukan dan menata langkah harus mengikuti langkah sucinya Rasulullah SAW. Kemudian yang dilakukan tersebut hanya sebuah kiasan secara budaya untuk bersama-sama mencucikan kaki.

"Kita ini kan setiap maulud ini, kita ini bercermin dan menata langkah. Kita berharap langkah bisa mengikuti langkah sucinya Rasulullah SAW. Tadi itu, bentuk kiasan saja secara budaya, mari bersama-sama kita mencucikan kaki kita, membersihkan agar langkah kedepan bisa semakin baik," tuturnya.

Ketua Komunitas Lima Gunung, Supadi Haryanto mengatakan, muludan merupakan rutinitas yang dilakukan Gus Yusuf dari Ponpes API Tegalrejo. Kemudian, dari Komunitas Lima Gunung memberikan sumbangan pementasan dalam acara tersebut.

"Dari Komunitas Lima Gunung, juga memberikan sumbangan pementasan untuk acara mauludan. Dengan tema tersendiri pesan gunung untuk ibu kota. Secara hasrat ilmiah gunung yang secara alami untuk kota dalam menghadapi beberapa hal, mungkin secara alamiah desa, gunung, cara mencangkulnya, kreditnya, secara apa saja, mungkin gunung lebih alami dengan alam sekitarnya," ujar Supadi.

Supadi menambahkan, dalam setiap acara di Komunitas Lima Gunung selalu memanjatkan doa agar pandemi ini segera sirna. Kemudian, warga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala.

"Kita semua dalam setiap agenda acara selalu banyak berdoa semoga wabah Covid-19, corona yang melanda dunia saat ini segera dihapus dari Allah SWT dari muka bumi. Semua kembali seperti semula, kembali kesediakala aktivitasnya, kerjanya dengan kerjaan masing-masing bisa seperti sediakala," ujar dia.



Simak Video "Langgar Aturan, Ratusan APK Bajo dan Gibran-Teguh Dicopot!"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/tia)