Musim Seni Salihara Digelar Daring, Cara Adaptasi saat Pandemi COVID-19

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 10 Sep 2020 13:23 WIB
Komunitas Salihara Gelar Musim Seni Salihara secara daring
Komunitas Salihara gelar Musim Seni Salihara secara virtual Foto: Komunitas Salihara/ Istimewa
Jakarta -

Situasi yang tak menentu karena COVID-19 sampai penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB Jakarta yang kembali diperketat, membuat Komunitas Salihara menyiasati festival yang digelar. Musim Seni Salihara yang bakal dibuka pada 12 September bakal berlangsung secara daring.

Direktur program Musim Seni Salihara, Nirwan Dewanto, mengatakan Komunitas Salihara selama 5 bulan belakangan menyelenggarakan program secara digital melalui platform media sosialnya.

"Musim Seni Salihara adalah kelanjutan dari itu semua, sekarang kami betul-betul memulai suatu produksi digital dan menyajikannya secara digital di dalam festival yang diberi nama Musim Seni Salihara," tutur Nirwan Dewanto saat jumpa pers virtual via Google Meet, Kamis (10/9/2020).

Musim Seni Salihara bermula dari festival dua tahunan yang dahulunya bernama Salihara International Performing-arts Festival atau SIPFest. Festival seni pertunjukan itu digelar sejak 2008 dan bersifat internasional.

"Tentu tahun ini tidak akan mungkin ada SIPFest karena situasi pandemi COVID-19. Kami menyelenggarakan festival seni digital tapi bukan rekaman seni pertunjukan. Sebagaimana kita ketahui, seni pertunjukan harus disajikan secara langsung dan ada emosi yang terjadi di ruang pertunjukan," tutur Nirwan.

Jim Adhi LimasJim Adhi Limas akan hadir di Musim Seni Salihara 2020 Foto: Jim Adhi Limas/ Komunitas Salihara

Tapi di Musim Seni Salihara, agenda pertunjukan diselenggarakan secara daring. Hal ini dinilai sebagai cara adaptasi dari Komunitas Salihara terhadap para seniman yang diundang dan sesuai dengan tema yang diusung kali ini yakni adapt dan play.

Musim Seni Salihara bakal dibuka akhir pekan ini pada 12 September dengan lecture performance dan bincang-bincang secara live dengan Melati Suryodarmo.

Muhammad Khan dan Putri Ayudya akan menampilkan pembacaan sastra karya sastrawan-sastrawan penting Tanah Air yaitu Sapardi Djoko Damono dan Subagio Sastrowardoyo.

Tiga komposer muda yakni Gatot Danar Sulistyanto, Gema Swaratyagita, dan Nursalim Yadi Anugerah akan menghadirkan karya-karyanya. Di bidang teater, ada Jim Adhi Limas yang tinggal di Prancis akan menampilkan karya soal Rolland Dubillard.

Putri AyudyaPutri Ayudya akan hadir di Musim Seni Salihara Foto: Miguel Bueno/ Komunitas Salihara

Di bidang seni tari, 3 koreografer muda Ayu Permata, Eyi Leser, dan Riyo Tulus Pernando juga unjuk gigi. Koreografer asal Lampung, Ayu Permata, mengatakan beradaptasi di masa pandemi dengan menggunakan teknologi digital diakuinya terbilang sulit.

"Ketika tawaran pentas dari Komunitas Salihara datang sebelum pandemi, kami sudah menyiapkan rancangan karya langsung yang ditonton penonton. Ketika pandemi datang, kita harus berubah dan beradaptasi. Ini jujur bukan hal yang mudah," ungkap Ayu.

69 Performance Club69 Performance Club Foto: 69 Performance Club/ Komunitas Salihara

Komposer Gema Swaratyagita mengaku merasa tertantang mengubah ruang 3Dimensi menjadi virtual di tengah segala keterbatasan.

"Secara ide tetap sama, tapi ketika materi disajikan ada banyak adaptasi yang harus diubah. Ada bagian bunyi yang di-capture dan zoom, ada mindset yang sekarang harus diubah," tukasnya.

Musim Seni Salihara digelar secara virtual mulai 12 September sampai 10 Oktober 2020.



Simak Video "Retno Marsudi: Indonesia Akan Dapat Vaksin Corona 20% dari Populasi"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)