detikHot

Cerita Pendek

Nona Telah Pergi

Sabtu, 01 Feb 2020 12:06 WIB Iin Farliani - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Nona menghilang tepat pukul dua belas malam. Ia tahu itu adalah jam yang tepat ketika semua penghuni rumah tenggelam dalam mimpi. Kepergiannya seperti Cinderella. Namun, ia tidak meninggalkan sepatu kaca. Ia hanya meninggalkan selop bermotif batik yang rencananya akan dipakai dalam acara lamaran keluarga Soehendro.

Sebenarnya, Puteri, kakak perempuannya mendengar suara krasak-krusuk dari arah ruang tamu dan pintu depan. Tapi, saat itu ia merasa mendengarnya dalam mimpi sehingga ia tidak bangun dan semakin terlelap. Esoknya, semua penghuni rumah berteriak. Nona tidak ada di kamar. Mereka mencari sampai ke kebun belakang dan rumah tetangga. Ibunya hanya menemukan selop bermotif batik di depan pintu masuk. Tidak hanya satu seperti Cinderella, namun masih utuh kedua-duanya.

Puteri mewawancarai saya seharian. Ia bertanya di mana kini adiknya berada. Mengapa saya bisa tidak tahu padahal sudah kenal lama. Dan apa yang saya bicarakan ketika bersama Nona pergi ke pasar malam. Apakah saya yang telah menghasutnya sehingga ia nekat untuk kabur dari rumah. Saya menggeleng dan tetap bungkam. Setiap pertanyaan yang diajukan, saya hanya menunjukkan wajah prihatin.

Puteri semakin beringas dan setiap bertanya ia selalu memukul meja. Saya terkejut. Seharusnya seorang Puteri bersikap manis dan lembut. Tapi, Puteri yang satu ini seolah-olah bertindak sebagai algojo yang akan memancung tawanannya.

"Kamu yang bersamanya terakhir kali! Tiga hari yang lalu, kamu pergi bersamanya ke pasar malam!" katanya sambil membentak.

Memang saya yang mengajak Nona pergi ke pasar malam. Sehingga, Puteri menduga malam itu saya sedang mengajak Nona pergi kencan. Padahal tidak sama sekali. Sesungguhnya, malam itu saya datang secara khusus untuk mengajak Puteri.

Saya sudah berlatih beberapa hari sebelum pasar malam itu diselenggarakan. Saya sudah mendengar akan ada pasar malam melalui pengumuman yang disampaikan oleh kepala lingkungan. Kira-kira pertanyaan yang akan saya ajukan begini, "Saya tahu kamu suka sekali makan bakso granat. Di pasar malam nanti ada pedagang yang terkenal karena bakso granatnya enak. Saya harap kamu mau pergi bersama saya malam ini. Kita sama-sama makan bakso granat."

Ketika sampai di depan pintu dan terdengar suara ketepak-ketepuk sandal jepit dari dalam, jantung saya memukul-mukul lebih keras. Detakan yang sekonyong-konyong berlipat-lipat itu seolah akan meremukkan pertahanan saya. Namun, yang melongok dari dalam adalah Nona. Matanya terlihat sembab.

"Kakak dan Ibu pergi ke tukang jahit langganan. Mereka mengambil jahitan kebaya untuk dipakai acara lamaran."

Saya kecewa mendengarnya. Tiba-tiba Nona memeluk saya. Ia menangis. Ia meronta sambil mengatakan tidak ingin menikah dengan putra sulung keluarga Soehendro, si Cecep Soehendro itu. Akhirnya, saya mengajaknya ke pasar malam untuk menghiburnya. Sebagai seorang sahabat, saya akan menampung segala keluh kesahnya. Nona sudah merencanakan akan kabur tiga hari sebelum acara lamaran itu.

"Saya hanya menceritakan rahasia ini kepadamu, Kristo. Kamu tahu, rahasia hanya disimpan oleh orang-orang yang bisa dipercaya. Karena kamu sahabat dekat saya, maka kamu harus memegang rahasia ini. Bahkan kalau kamu pergi kencan dengan Puteri, kamu tidak boleh membuka rahasia ini kepadanya. Sekalipun kamu sanggup melakukan apa saja untuk orang yang kamu cintai."

Wajah saya memberengut. Berbicara akrab saja tidak pernah dengan Puteri, apalagi mengajaknya kencan! Tapi, saya hanya diam. Nona terlihat asyik melahap bakso granatnya.

"Saya masih suka mengirim surat elektronik padanya."

"Si ayam maksudmu? Kamu tidak takut? Bukankah ia sudah menjadi teroris?"

Nona menggeleng. "Saya tidak peduli. Saya mencintainya. Banyak surat yang sudah saya kirimkan. Setidaknya dengan menulis surat, beban pikiran saya berkurang."

"Kamu menulis untuk curhat saja kan?"

"Saya benar-benar mengirimkannya! Kamu tidak percaya?" Nona berkata ketus.

Saya ragu dengan jawabannya. "Suratmu dibalas?"

Hening. Saya melihat Nona sedang berpikir sambil melahap bakso granatnya. Beruntung granatnya hanya bakso, kalau tidak bagaimana? Ia pasti akan langsung meledak menjawab pertanyaan saya. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca.

"Sekali," katanya lemas. Air matanya mengalir. Entah karena sedih suratnya hanya dibalas sekali --itu pun kalau ia menjawab dengan jujur-- atau karena kuah bakso granatnya yang memang pedas.

"Saya maklum kalau dia tidak sempat membalas surat saya. Dia sedang perang. Dia pasti akan pulang kalau jihadnya sudah selesai."

Omong kosong, kata saya dalam hati. Laki-laki itu memang pantas disebut hanya bermodal gigi. Ia pergi meninggalkan Nona secara tiba-tiba dan tak berani memperjuangkan cinta yang tak direstui oleh keluarga Nona.

Nona suka menulis surat elektronik padanya dengan menyamarkan namanya menjadi Mr. X. Ia takut kalau nanti Puteri tanpa sepengetahuannya sedang berdiri di belakangnya dan membaca isi surat elektronik itu. Ia menyamarkan nama laki-laki itu agar Puteri tidak bisa mengadu pada ibunya.

Mungkin saja Puteri akan mengadu, namun ia tak memiliki cukup bukti sehingga ia sendiri dapat mengajukan pembelaan. Ia bisa berkata pada Ibunya bahwa ia sebenarnya sedang melatih imajinasinya dengan iseng menulis surat elektronik. Mr. X adalah bagian dari imajinasinya untuk mengisi waktu luang.

Ibunya pasti akan mempercayainya karena saat ini Nona hanya dekat dengan Cecep Soehendro, seorang pegawai pajak. Tidak lagi dengan laki-laki yang pernah mengantar Nona pulang dari pesta kembang api di malam tahun baru. Ia disebut hanya bermodal gigi karena tak pernah datang membawa bingkisan. Ibu Nona juga menjulukinya "ayam" karena rambut laki-laki itu berwarna-warni seperti bulu ayam. Rambutnya memang menyala warna-warni yang seakan mengesankan ia seorang yang terlalu banyak tingkah.

"Kamu tidak perlu lagi mendekati anak saya. Sampai saya mati, saya tidak akan merestui!"

Sejak itu si ayam tidak diketahui lagi keberadaannya. Teman-teman dekatnya mengatakan, ia sekarang berada di salah satu negara Jazirah Arab. Bukan untuk bekerja atau menuntut ilmu, melainkan bergabung bersama kaum pemberontak untuk mengejar surga yang dijanjikan.

Sejak itu pula, Nona suka sekali memelototi saluran-saluran televisi yang ramai membicarakan tentang terorisme. Foto-foto teroris yang ada di surat kabar ia cek satu per satu. Ada yang mirip dengan si ayam, katanya. Rambut warna-warninya tidak terlihat karena ada sorban di kepala. Nama teroris itu disamarkan dengan inisial.

"Tidak mungkin ini si ayam! Kamu lihat jenggotnya. Mengapa sekarang lebat sekali? Hidungnya juga mancung," jawab saya saat ia menunjukkan salah satu foto di surat kabar yang menurutnya sangat mirip dengan si ayam.

Nona mengenalinya dari pancaran mata orang yang ada di foto itu. Meski ia berpenampilan seperti teroris tapi ia tidak terlihat seperti orang yang suka melakukan tindakan-tindakan radikal. Pancaran matanya memancarkan kebaikan dan seperti sosok yang ingin melindungi siapapun. Itulah sorot mata si ayam.

"Kamu jangan mengada-ada, Nona!" teriak saya.

Saya menyerah. Saya tidak membantah apa pun setiap tudingan yang dituduhkan Puteri. Ia menunjukkan berita di surat kabar mengenai salah satu teroris yang baru-baru ini ditangkap polisi di kota A. Teroris yang ditangkap itu selama ini menjadi fasilitator dan pendana para pengikut yang ingin bergabung bersama pemberontak.

"Mungkinkah Nona sejauh itu? Kepergiannya karena ingin bergabung menyusul si ayam?" tanya saya gelagapan.

Puteri mendesah. Sudah terlambat.

Iin Farliani selain menekuni cerita pendek dan puisi, juga menulis sejumlah esai di sela-sela studi formalnya di bidang Budidaya Perairan. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (Akarpohon, 2019).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com