detikHot

art

Menjelejahi Sejarah Arsip Komik Indonesia di Kemang

Senin, 30 Sep 2019 17:21 WIB Tia Agnes - detikHot
Halaman 1 dari 2
Menjelejahi Sejarah Arsip Komik Indonesia di Kemang Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Berbicara tentang sejarah komik Indonesia sama saja ngobrol tentang sejarah bangsa. Komik yang dahulunya dikenal dengan sebutan cerita bergambar atau cergam, bisa ditelisik dari arsip tahun 1925.

Di masa itu, cergam sudah dibaca oleh masyarakat Indonesia meski secara resmi masih bernama Hindia Belanda. Dalam pameran 'Komik itu Baik' terdapat timeline sejarah arsip komik Tanah Air yang mengunggah rasa ingin tahu.

"Di tahun 1925, ada pembaca komik Indonesia, meskipun secara teknis masih Hindia Belanda ya. Konteksnya kan lokal, orang Indonesia keturunan Tionghoa dan data itu munculnya sebagai urban culture di Batavia. Itu data yang kami dapatkan di Perpustakaan Nasional Indonesia ya," terang kurator pameran, Hikmat Darmawan, saat diwawancarai, akhir pekan lalu.


Menjelejahi Sejarah Arsip Komik Indonesia di Kemang Foto: Tia Agnes


Pada 1929 silam, Majalah Sin Po menerbitkan kartun-kartun dan iklan menggunakan bahasa komik modern. Karakter Put On karya Kho Wang Gie pun rilis di Sin Po sejak tahun 1930 dan diperkenalkan pada publik mulai 1931.

Setelah 'Put On', komik setrip Indonesia tumbuh dan menarik para seniman maupun pencinta sastra. Salah satunya adalah Abdoel Salam, pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI). Di dekade 1950an, salah satu karya komik setrip terpenting adalah 'Mentjari Poetri Hidjau (1939) oleh Nasroen AS, pelopor komik petualangan.

Pameran 'Komik itu Baik' pun menjelajah ke dekade 1954-1966. Di sini awal industri cergam bermula. Penerbit Melodie di Bandung sukses dengan komik 'Sri Asih' karya RA Kosasih dan 'Putri Bintang' karya John Lo.

(tia/nu2)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com