DetikHot

Cerita Pendek

Jangan Kembali ke Bolangi

Sabtu, 09 Mar 2019 10:46 WIB  ·   Caroline Wong - detikHOT
Jangan Kembali ke Bolangi Ilustrasi: Anggi Dimas Ramadhan/detikcom
Jakarta - "Ya, Mak, A Khun ini...." bisikku dengan suara letih, berusaha menenangkan Mamak yang terbangun ketika aku baru saja menaiki tangga kayu sempit menuju ke loteng. Padahal aku sudah melangkah dengan sangat hati-hati, perlahan dan lembut membelah udara.

"Oh, A Khun, Mamak kira siapa...." Mamak melirik sekilas, lalu kembali membenamkan kepalanya di atas bantal kapuk. Aku merasa perih tiap kali melihat ke Mamak. Rambutnya menipis dan wajahnya itu -apakah pagi atau siang atau malam, air mukanya tetap saja seperti wajah boneka rusak.

Tapi aku lega, Mamak tidak punya daya tambahan untuk bertanya ini-itu. Atau mengelilingiku memeriksa aku dari mana, apakah aku berbau kencing atau berbau anggur atau dupa atau air laut.

Mamak memang tidur di lantai bawah, di atas kasur kapuk tipis yang tiap malam dihamparkan dan digulung jika pagi telah tiba. Di samping Mamak berbaring ada meja kayu panjang. Di bawahnya jadi lemari tempat menyimpan baju, selimut, bantal kapuk, panci, termos, sampai cangkir-cangkir keramik tua Mamak. Mamak juga menyelipkan dan menyembunyikan sedikit uang di antara harta bendanya itu.

Di atas meja ada A Chun, tertidur pulas beralaskan selimut tebal tua merah berbulu --dibeli Mamak di pasar baju cakar. Air liurnya menetes ke sana ke mari, memenuhi ceruk di dalam daun telinganya sendiri. Dia pastilah letih luar biasa. Kemarin malam aku mendengar dia omong besar, dapat pekerjaan di proyek renovasi gedung dekat Pantai Losari. Jadi asisten tukang batu, upahnya besar. Apa maksudnya itu -asisten tukang batu? Si Cuplis itu memang pandai membual! Mengapa tidak kau bilang saja langsung kalau kau jadi jongos atau kuli di sana?

Begitu tiba di atas, aku disambut bunyi kletek-kletek dari kipas angin rombengan yang berdiri sekarat di tengah loteng kayu yang berlangit rendah. Udara subuh yang berembus dari jendela kecil yang terbuka lebar ikut membantu menghalau gelombang panas yang menguap dari atap seng.

Tidak ada yang berani naik ke loteng ini, sebelum benar-benar larut dan sebelum benar-benar disergap kantuk. Karena takut terpanggang udara panas yang terperangkap di dalamnya, dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Rumah 'kaleng kerupuk' ini seperti kantor perwakilan 'matahari', yang berlokasi khusus di lorong pecinan miskin di kota Daeng.

Aku lalu membaringkan segala keletihan dan sakit yang menjerat di dalam-dalamku. Aku melegakan diri untuk larut dalam kehampaan dan ketiadaan, di atas tikar anyaman besar dari ilalang yang dihamparkan Mamak di lantai loteng, supaya muat untuk semua anak-anaknya.

Di antara dengkuran panjang-pendek maupun tarikan napas yang lembut dan bercampur suara-suara celetukan dari alam bawah sadar mereka, aku cukup terhibur karena aku masih mampu menghirup aroma ilalang kering yang pahit. Aku pun akhirnya ikut melayang-layang bersama saudara-saudaraku.

***

"A Khun, dari mana kau dapat ini caramele? Apa kau mencuri?" Mamak menoleh ke arahku, matanya sudah menuduh dengan kejam.

"Tidak, Mak dikasih sama Daeng Sila, penjual buah di Pasar Terong. Upah membantu membawakan banyak keranjang buah," sahutku cepat, berbalik dan lari ke pintu rumah dan menghilang di sana.

Mamak pastilah tahu aku berbohong, tapi tidak berkata-kata lagi. Di depannya ada kantong plastik besar berisi buah caramele, gemuk licin berwarna hijau muda yang segar.

Mamak menyulut sumbu kompor minyak tanah, mendidihkan air dalam panci besar, dan memasukkan beberapa sendok gula pasir ke dalam. Mamak mencuci caramele itu bersih-bersih supaya lepas getahnya. Caramele yang sudah bersih ditempatkan di dalam toples-toples kaca besar. Air didihan gula itu, jika telah dingin benar, akan dituang Mamak ke dalam toples dan didiamkan semalaman. Jadilah manisan caramele yang nikmat dengan bumbu gerusan lombok merah dan garam.

Manisan caramele dijual Mamak di depan jendela rumah, satu centong besar seharga lima puluh rupiah saja. Sehari saja ludes. Anak-anak beringus cendol yang puluhan jumlahnya dan perempuan-perempuan hamil yang sambung menyambung hamil dan beranak di dalam lorong ini, menjadi pelanggan idola.

Mamak menghitung-hitung dengan cermat, apa saja yang mungkin bisa terbeli, "Kangkung, terasi, ikan kering, biskuit gabin, sabun mandi...."

***

Dua hari kemudian, ketika aku pulang lebih awal, kukira aku akan melihat seraut wajah Mamak yang lebih berseri dari kemarin-kemarin. Tapi aku malah mendapati Mamak menangis tanpa suara, dengan lelehan air mata yang berbulir-bulir besar jatuh ke selimut yang menjadi alas tidur A Chun. A Chun seperti terkapar mati di situ, tapi tentu saja dia tidak mati. Ya, dia hanya terkapar karena kesakitan.

Saudara-saudaraku yang lain sibuk sendiri-sendiri. A Ming duduk melantai dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah yang rapuh, sambil makan nasi panas berlauk kangkung terasi dengan lahapnya. A Ming makan dengan tangan dari piring kaleng bergambar bunga kembang sepatu.

Sehari-hari A Ming bekerja di toko kain grosiran di Pasar Sentral. Tugasnya menjahit karung yang berisi belanjaan para pembeli, lalu memikul karung-karung itu ke kantor ekspedisi atau ke mobil angkutan. A Ming jarang berkata-kata, kalimat-kalimatnya kadang tidak jelas dan hanya sampai di jakun. Tapi setiap minggu gajinya diserahkan ke Mamak untuk membeli beras.

Sedangkan A Tak berbaring acuh tak acuh di lantai semen dengan bertelanjang dada. Bibirnya komat-kamit seperti mengucapkan mantera sambil menyalurkan tenaga dalam. Sebenarnya, A Tak sibuk menyanyikan lirik lagu Camellia dari Ebiet G Ade, tapi tanpa suara. Entah anak gadis siapa lagi yang dianggapnya seperti Camellia. A Tak jarang di rumah, tapi sekalinya pulang selalu membawa ikan besar yang cukup untuk makan orang serumah.

A Moy si bungsu, satu-satunya anak perempuan dalam rumah ini, hanya duduk dan diam saja di samping A Ming. Matanya terbelalak ketakutan, ngeri kalau-kalau A Chun akan dijemput Nga Tau dan Ma Min, duet dewa pencabut nyawa. Nga Tau yang berkepala kerbau dan Ma Min yang berkepala kuda. Apho ketika masih hidup pernah bercerita tentang sepak terjang mereka sebagai penjaga gerbang akhirat.

A Moy berusaha menjernihkan pandangan matanya, adakah Nga Tau berdiri di samping kepala A Chun atau adakah Ma Min berdiri di ujung kaki A Chun? Tapi A Moy boleh merasa sedikit lega, karena hanya ada aku yang berdiri di situ.

Tentu saja A Chun belum akan mati, dia masih akan hidup menjalani panjang usianya. Hanya saja, karena sok jagoan, tadi sore dia tergelincir dan jatuh. Dari atap rendah bagian depan gedung Bioskop Benteng yang sedang dalam renovasi.

Untunglah A Chun jatuh menghujam ke gunungan pasir. Tapi tetap saja, untuk tubuh bocah berumur tiga belas tahun, sudah pasti akan ada yang salah di tulang-tulangnya. A Chun dibopong ke rumah oleh mandor bangunan, yang langsung pamit setelah menyelipkan selembar uang lima ribu rupiah ke dalam tangan Mamak. Kulit wajah A Chun tergores-gores pasir tajam seperti habis diamplas. Tapi A Chun merasa ada yang sangat sakit di pinggang kanannya, itulah yang membuatnya mendesis-desis kesakitan.

Mamak segera membersihkan tubuh A Chun dengan handuk kecil yang direndam air hangat. Lalu membaluri tubuh A Chun dengan minyak gosok, yang dengan tergopoh-gopoh diberikan kepada Mamak oleh Mas Pur, tetangga sebelah rumah, perantauan dari Solo yang berjualan bakso gerobak di pinggir pantai.

Aku mengerti, Mamak bukan hanya menangis karena takut A Chun akan tumbuh dewasa dan mungkin menjadi pincang. Tapi Mamak juga menangis karena rasa kecewa yang besar terhadapku.

Aku sendiri selalu heran dengan Si Cuplis ini, ada-ada saja kejadian yang menimpanya. Beberapa minggu yang lalu pipi kirinya bengkak luar biasa. Ternyata ada tulang ikan kering yang cukup panjang tersisip di dinding dalam daging pipinya. Mamak sekejap saja menjelma menjadi ahli bedah, dengan pinset yang sering digunakan A Ming untuk mencabut janggutnya, Mamak menarik keluar tulang ikan itu. A Chun pun sembuh setelah berhari-hari berkumur air daun sirih yang direbuskan Mamak.

Aku juga tidak mungkin lupa, setahun yang lalu, ketika A Chun tertidur di rumah tua kontrakan apho. Tembok tua di depannya tiba-tiba saja rubuh sebagian dan menimpa dadanya. A Chun dilarikan ke rumah sakit, napasnya tersenggal-senggal, tapi untunglah hanya luka luar. Dokter yang bertugas kaget luar biasa dan tidak percaya kalau A Chun benar-benar barusan kerubuhan tembok. A Chun cepat sembuh dan kembali melucu dengan riang gembira, hanya untuk kembali menerima nasibnya yang lain di sore hari ini. Entahlah....

A Chun tampak mulai tertidur, mungkin karena minyak gosok yang hangat itu. Mamak sudah berhenti menangis, dan terus menerus menggosok-gosokkan telapak tangannya dengan lembut ke tangan dan kaki A Chun.

Aku mulai merasa sedih melihat Koko kembaranku itu, karena percuma geram dan jengkel padanya. Aku akhirnya memilih untuk kembali menaiki tangga kayu ke loteng, lebih awal dari kebiasaanku.

"A Khun...." Mamak menahan langkahku.

"Ya Mak, A Khun ini..." suaraku memendam rasa bersalah.

"Ke mana kau satu hari ini? Tidak kau jaga Kokomu?" desis Mamak, langsung menuntut dan menyalahkan.

"Aku pergi petik caramele Mak, ada kutaruh sekantong besar di dekat sumur."

"Tidak usah mengumpulkan caramele lagi. Tidak usah kembali lagi ke Bolangi. Tempatmu itu di sini, menjaga Kokomu," bisik Mamak semakin pelan, takut kedengaran.

Aku terdiam, selama ini aku sudah terlalu banyak mengalah. Bahkan sejak di awal kelahiran kami berdua, aku sudah terpilih untuk tiada. Tapi tidak untuk kali ini! Kuserukan gusar dan cemburuku dengan dentuman kaki di anak tangga kayu, mulai dari anak tangga pertama sampai ke anak tangga terakhir. Tidak cukup keras, tapi cukup untuk menunjukkan aku ada.

"Tidak apa, itu pasti kucing yang baku buru sama tikus besar." Mamak menoleh ke arah A Ming, A Tak, dan A Moy yang serentak saling berpandangan. Serasa ada udara dingin yang menerpa tengkuk mereka.

A Moy berbisik, "Tapi Mak, dari tadi kulihat ada anak laki-laki lain berdiri di samping Mamak. Benar-benar dia mirip dengan Ko A Chun, apa...."

"Mak, apa itu kembaran A Chun yang lagi pulang ke rumah?" potong A Ming tidak sabaran, wajahnya terlihat pasi. Tapi Mamak tidak menjawab, dan kembali memandang dengan penuh sayang ke wajah bulat A Chun yang telah hanyut dalam lelap tidurnya.

Caroline Wong lahir di Makassar, Sarjana Perhotelan dari UK Petra Surabaya

Catatan:

pasar baju cakar: pasar baju bekas
kota Daeng: julukan lain dari kota Makassar
caramele : buah ceremai
apho (bahasa Hakka ): nenek
Bolangi: kuburan Cina di kabupaten Gowa yang berdekatan dengan kota Makassar

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed