detikHot

Cerita Pendek

Pertengkaran Rumah Tangga Pemula di Musim Pilek

Minggu, 03 Mar 2019 10:55 WIB Erni Aladjai - detikHot
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Salah satu kesialan di dunia ini adalah begitu banyaknya orang tidak perasa, apalagi orang itu di dalam rumah sendiri, pikir Bu Cipa di hari keempat pilek. Bu Cipa, Pak Kup, dan bayi sembilan bulan Paci sudah sakit pilek selama enam hari. Virus pilek itu datang pertama kali bersama Pak Kup --suami Bu Cipa, ayah si bayi Paci.

Pak Kup tiba di rumah sepulang kerja dengan bersin-bersin. Dia mengatakan kepalanya terasa berat dan hidungnya tersumbat. Dia kemudian meminta Bu Cipa mengerok punggungnya. Bu Cipa pergi mengambil sebuah koin tembaga dalam kotak kayu, kemudian mengerok punggung suaminya dengan minyak bayi. Setelah punggungnya merah kehitaman usai dikerok, Pak Kup jatuh tertidur.

Pagi hari Pak Kup bangun dengan tampang merana. Tenggorokannya sakit, kepalanya berat, hidungnya meler dan dia merasa lemah, tetapi dia mandi juga lalu berangkat ke kantornya. Di negara-negara Barat, sakit pilek dianggap penyakit berat dan bisa mengajukan cuti sakit, tetapi di negara Pak Kup tinggali, izin kerja lantaran pilek bisa jadi akan kena tegur, "Masak cuma pilek sampai nggak masuk kerja!"

Siang hari, Paci batuk-batuk dan rewel. Ketika Bu Cipa menyusui, bayi Paci melepaskan puting payudaranya akibat susah bernapas. Sore harinya, hidung Paci sudah keluar lendir. Paci sudah tertular pilek dari bapaknya. Setiap kali Bu Cipa mencoba mengerjakan sesuatu, Paci langsung menangis. Dia pengennya digendong terus. Bayi mudah rewel ketika ia merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya.

Nasi belum masak. Sayur belum dirajang. Piring kotor belum dicuci. Rumah belum dibersihkan. Tempat tidur berantakan, ilustrasi buku anak belum dikerjakan. Kepala Bu Cipa berdenyut memikirkan itu semua. Dalam kehidupan rumah tangga biasa seperti mereka, pengaturan keuangan sudah jelas, keseluruhan gaji Pak Kup untuk membayar listrik, internet, sewa bulanan rumah, dan air ledeng. Bu Cipa mencari uang dari rumah. Macam-macam yang dia kerjakan, berjualan pakaian bekas di Instagram hingga jualan klapertart melalui aplikasi daring.

Sampai jam 12 malam kemudian, ketika Pak Kup kembali ke rumah dengan tubuh lelah lantaran didera pilek, Bu Cipa baru menyelesaikan satu pekerjaan; memasak. Pak Kup makan malam. Pergi merokok di teras. Lalu keluarga itu tidur.

Keesokan harinya Bu Cipa merasakan tenggorokannya sakit, hidungnya meler, kepalanya berat, napasnya berbau karena semalam tidur tidak nyenyak, dan sudah sembilan belas kali dia bersin sejak bangkit dari tempat tidur. Bu Cipa terjangkit pilek, rumah berantakan, kamar seperti kapal pecah, pakaian kering belum dilipat, baju-baju Paci belum terseterika, tisu-tisu bekas lap ingus Pak Kup bertebaran di sana-sini, meja makan penuh dengan piring-piring kotor.

Setiap kali bersin, pipis Bu Cipa ikut juga keluar. Sudah sembilan kali dia mengganti celana dalam, yang akhirnya membuat dia mengenakan pembalut datang bulan. Bu Cipa mengalami pistula setelah melahirkan alami. Pistula itulah yang bikin dia tak bisa menahan pipis saat bersin atau batuk. Bu Cipa berharap matahari, tetapi langit mendung terus. Dia ingin berjemur untuk menghalau virus pilek. Pak Kup sudah berangkat kerja sejak jam enam pagi. Di dalam rumah Paci terus rewel. Di hari-hari biasanya dia riang bermain dan berceloteh. Bu Cipa membuka lemari es, mengambil kunyit dan mengoleskannya di batang hidung Paci.

Sudah jam sepuluh, rumah masih berantakan, kertas-kertas tisu bekas Pak Kup mengelap ingus bertebaran di sana-sini, kamar seperti kapal pecah, pakaian kering belum dilipat, baju-baju Paci belum terseterika, kantong-kantong sampah di pinggir dapur belum dibuang. Paci masih menangis. Padahal dia baru mengerjakan satu hal; memasak bubur wortel untuk Paci, yang kemudian Paci tidak mau memakannya.

Sore harinya, Bu Cipa merasakan pileknya semakin parah, tubuhnya semakin tak bertenaga. Dia lalu menyusui Paci. Kali ini bayi itu tertidur. Bu Cipa mencoba mengerjakan pesanan ilustrasi. Paci kembali terbangun dan menangis. Bu Cipa menggendong Paci dan mengajak bayi itu makan. Paci hanya makan empat sendok bubur wortel. Ketika disuap lagi, dia sudah menyemburkan makanannya. Bu Cipa merasakan matanya semakin panas, tenggorokannya semakin sakit, kepalanya semakin nyut-nyut, dan lelehan ingusnya sudah menghabiskan enam sapu tangan. Dia berpikir, dari semua sakit ringan yang menyiksa barangkali pilek salah satunya.

Tengah hari ketika Bu Cipa mengelap badan Paci, dia mencium bau tahi kering di dalam kamar mandi, bau sangat parah, bahkan hidungnya yang tersumbat ingus itu pun masih ditembusinya. Sambil menggendong Paci, Bu Cipa memeriksa sudut-sudut kamar mandi, tidak ada di sana. Di saringan pembuangan kamar mandi tidak ada juga. Bu Cipa lalu melongok lubang toilet. Seonggok kotoran cokelat di dalam sana belum tersiram. Bu Cipa memencet tombol pembilas kloset.

Pukul sebelas malam, Pak Kup sudah kembali. Rumah masih berantakan, kamar seperti kapal pecah, pakaian kering belum dilipat, baju-baju Paci belum terseterika, pakaian kotor makin menumpuk, kantong-kantong sampah belum dibuang. Tisu-tisu bekas Pak Kup mengelap ingus belum dipungut, piring kotor sudah tercuci. Besok hari libur kantor, pikir Bu Cipa. Dia ingin tidur, dan berharap karena besok libur Pak Kup akan membantu membereskan rumah malam ini.

Jelang tidur, Bu Cipa membayangkan kantong-kantong sampah sudah dibuang suaminya. Tisu-tisu bekas ingus sudah dibersihkan. Pakaian kotor sudah tergiling di mesin cuci dan rumah telah disapu. Sehingga Bu Cipa menghitung, jika itu semua dibantu Pak Kup, dia tinggal menjemur, menyeterika, memasak, dan mengerjakan ilustrasi. Bu Cipa ingat lelucon kawannya, sulit menjadi tambah pintar setelah menikah dan memiliki bayi-bayi, karena jangankan membaca buku, menyisir rambut sendiri saja hampir tak sempat. Dulu Bu Cipa tak percaya lelucon kawannya itu, karena waktu itu dia masih lajang.

Bu Cipa bangun jam sembilan pagi. Semalam dia terbangun sembilan belas kali menyusui Paci sedikit-sedikit. Rumah masih berantakan, kertas-lertas tisu bekas Pak Kup mengelap ingus masih bertebaran, pakaian kotor masih menumpuk, pakaian belum dilipat, baju-baju Paci belum terseterika, kantong-kantong sampah di pinggir dapur belum dibuang.

Pilek Bu Cipa dan Paci semakin parah. Rumah mereka di pinggiran kota, tidak ada layanan kesehatan terdekat. Lagipula Bu Cipa merasa sangat lemas untuk keluar rumah. Bu Cipa membangunkan Pak Kup.

"Bangun! Tolong bantu beres-beres, rumah sudah kayak kapal pecah." Pak Kup mengangguk sebentar lalu menutup matanya kembali. Bu Cipa menunggu. Pak Kup belum bangun. Hati Bu Cipa semakin kesal.

"Bangun, bantu aku bereskan rumah!" Bu Cipa menggoyang kaki Pak Kup.

"Iya, sebentar lagi," Pak Kup kembali tidur.

"Bangun! Kau pikir cuma dirimu yang sakit pilek? Cuma dirimu yang capek? Aku juga punya pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sebentar lagi siang, dan aku belum memasak." Pak Kup membuka mata lalu meraih ponselnya di sisi bantal, mengeceknya. Lama sekali. Bu Cipa makin hilang kesabaran.

"Kau pikir kau tinggal di rumah ibumu, walaupun kau tidur sampai kiamat tak ada yang membangunkanmu, dan setelah kau bangun, makanan dan kobokan sudah disiapkan untukmu? Ini hari libur, lakukan sesuatu yang berguna," Bu Cipa mulai berkata kasar. Pak Kup tidak membalas, dan masih menatap ponselnya.

"Kalau kerja ya kerja saja, jangan perhitungan," Pak Cipa menyahut.

"Ya, aku harus mengurus anak, mengurus rumah, dan juga mencari uang."

"Jadi kau ingin suami kaya? Sudah sana, kau menikah dengan anaknya Bakrie!" Pak Kup menyahut.

Paci menangis. Dia memandangi Pak Kup, lalu ganti memandangi Bu Cipa. Pak Kup menggendong Paci membawa masuk ke dalam kamar; kamar yang kacau, seprei yang tergulung, bantal yang berhamburan, mainan bayi di sana-sini.

Pak Kup membuka Youtub, mencarikan video bayi buat Paci. Bu Cipa membersihkan rumah. Menggiling pakaian kotor. Memasak sup sayur. Memasak ayam kecap. Menanak nasi di mesin penanak.

Sudah pukul satu siang, popok Paci yang kepenuhan belum diganti dari tadi pagi, entah kenapa Paci tidak menangis berada di dekat Pak Kup sehingga beberapa pekerjaan rumah tangga bisa Bu Cipa selesaikan. Bu Cipa masuk ke kamar, menggendong Paci, dan membawanya ke kamar mandi. Bunyi air membuat Pak Kup datang ke sana.

"Jangan dimandikan, pileknya masih parah begitu, kau tidak kasihan kepada anakmu,"

"Jadi kau yang kasihan kepada anakmu dengan memberinya ponsel dan sejak tadi kau bersamanya, kau bahkan tidak mengganti popoknya," balas Bu Cipa ketus.

"Kenapa kau tidak tidur lagi lalu kau bangun langsung makan, lalu tidur lagi?! Kenapa baru kena pilek saja kau sudah lupa menyiram berakmu?! Punguti semua tisu-tisu bekas ingusmu itu, kau pikir kau punya babu di rumah ini!"

Omelan Bu Cipa membuat Paci terdiam. Bu Cipa masih terus bicara. "Pilek itu tidak akan membunuhmu, lakukan sesuatu, badanku juga lemas dengan pilekku sendiri."

Semakin Bu Cipa banyak bicara, semakin Pak Kup malas melakukan apa pun. Protes Bu Cipa membuat Pak Kup tidak menyentuh masakan Bu Cipa, padahal sop sayur dengan ceker ayam kampung itu adalah kesukaannya. Pertengkaran mereka telah melenyapkan selera makannya. Bu Cipa juga tidak menyuruhnya pergi makan. Pak Kup pergi tidur ke ruang tamu. Bu Cipa dan Paci masuk kamar.

***

Pak Kup yang tidur sejak jam dua siang, terbangun saat pukul dua belas malam. Pak Kup memang punya kebiasaan tidur lama di hari libur. Dia pernah beberapa kali tidur selama 24 jam. Dari dalam kamar, Bu Cipa mendengar sungkup mesin penanak nasi yang dibuka. Denting sendok, lalu suara kunyahan, lalu bunyi air, lalu sunyi. Bu Cipa keluar kamar pura-pura pipis. Dia mendapati Pak Kup sudah pergi tidur lagi.

Paginya di hari Minggu, Bu Cipa bangun dengan pilek yang semakin menyiksa. Dia mendapati piring kotor, pakaian yang belum dijemur, baju-baju Paci belum terseterika, kantong-kantong sampah belum dibuang, tisu-tisu bekas Pak Kup mengelap ingus masih bertebaran, dan Pak Kup masih tidur. Bu Cipa membanting termos kopi Pak Kup. Paci tertawa melihat termos perak itu menggelinding di lantai.

Erni Aladjai bergiat di Bois Pustaka (salah satu simpul Pustaka Bergerak Indonesia) di desanya, menulis dan meneliti; bukunya yang telah terbit antara lain kumpulan cerpen Ning di Bawah Gerhana (2013) dan novel Kei (2013)


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed