detikHot

art

Tuak Terakhir Si Pitung

Minggu, 27 Jan 2019 17:15 WIB Bahtiar Rifa'i - detikHot
Margreet van Till saat berbicara dalam Seminar Internasional dengan tema Pitung, Banten and the Dutch di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Foto: (Bahtiar Rivai/detikcom) Margreet van Till saat berbicara dalam Seminar Internasional dengan tema 'Pitung, Banten and the Dutch' di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Foto: (Bahtiar Rivai/detikcom)
Jakarta -

Napas si Pitung megap-megap tersendat sulit bicara. Nyawanya tinggal sejengkal dari tenggorokan karena peluru emas Schout Hinne menembus dadanya. "Gua haus, minum Hinne," pintanya.

"Elo menang sekarang. Elo sebenarnya baik, tapi anjing-anjing elo yang jahat Hinne. elo mesti bae-bae ama orang kampung," kata Si Pitung berpesan. Ia tewas di tangan seorang kepolisian Belanda di Batavia.

Itulah potongan adegan film Si Pitung yang diperankan Dicky Zulkarnaen garapan sutradara Nawi Ismail yang dirilis tahun 1970. Film ini menjadi populer dan melahirkan beberapa sekuel. Sebut saja Si Pitung Banteng Betawi (1971), Si Pitung Beraksi Kembali (1976), dan Pembalasan Si Pitung (1977).

Baca juga: Celeng Manyura


Bagi warga Betawi, cerita si Pitung jadi legenda perlawanan terhadap kompeni Belanda. Bahkan di Marunda, Jakarta Utara dibuatkan museum untuk mengenang kisah-kisahnya.

Sejarawan Belanda Margreet van Till mengatakan kisah si Pitung menjadi repertoar pencerita di tanah Betawi. Mengutip sebuah disertasi mahasiswa Universitas Indonesia, Palupi Damardiri, Pitung dilahirkan di Rawabelong Desa Pengumben dekat ke Stasiun Palmerah.

Semasa muda, ia belajar di pesantren Haji Naipin sambilan berjual kambing. Namun, suatu hari ia pernah jadi korban pencurian yang malah memicunya untuk melakukan pembalasan. Ada yang bilang ia mencuri karena hutang, dan ada yang menganggap Pitung ingin menjadi seorang jagoan.

"Bersama Dji-ih, Rais, dan Jebul, si Pitung membentuk gerombolan lalu merancang perampokan ke rumah Haji Sapiudin," tulis Margreet di buku berjudul Batavia Kala Malam, Polisi, Bandit dan Senjata Api sebagaimana dikutip detikcom.

Berdasarkan catatan masa kolonial akhir abad ke-19 di koran berbahasa Melayu, Hindia Olanda pada 18 Juni 1892, suatu kali schout Tanah Abang pernah menggeledah rumah gerombolan si Pitung di Kampung Sukabumi, Kebayoran. Di sana ditemukan barang curian jas hitam topi schout dan seragam yang diduga untuk penyamaran. Penggeledahan di lain waktu juga menemukan uang 125 gulden berikut hasil rampokan rumah H Sapiudin yang disembunyikan di bawah tanah.

Margreet menulis, pada Agustus 1892, Pitung dan beberapa gerombolannya ditangkap karena meminta uang keamanan 50 ringgit ke kepala desa Kebayoran. Tapi, pada 1893 awal tahun, ia melarikan diri dari penjara Meester Cornelis. Dari situ, namanya jadi terkenal dan membuat kepala Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pening. Kepala si Pitung dan Dji-ih lalu dihargai 400 gulden bagi siapapun yang bisa menangkap.



Di pelarian, Pitung sempat melakukan sejumlah aksi termasuk penembakan penyelidik kepolisian Djeram Latip. Perampokan seorang perempuan bernama Mie dan pencurian sarung bernilai ratusan gulden di kapal seorang saudagar perempuan.

Suatu hari pada 1983, Dji-ih yang sama populernya dengan Pitung terjangkit penyakit. Ia yang dalam pelarian masuk ke kampung di kawasan Kebayoran. Namun karena tercium juragan kampung lantas melaporkan pada seorang demang. Dji-ih lalu digerebek dan tak bisa melawan meski ada 2 revolver di tangan.

"Ia demang Kebajoran yang menciduk Dji-ie. Setelah itu schout Meester Cornelis dicari untuk membantu membawa laki-laki itu ke penjara. Selama perjalanan banyak yang menonton," tulis Margreet dari kutipan surat kabar Java-bode 15 Agustus 1983.

Mendengar kabar itu, juragan yang menangkap Dji-ih rupanya diawasi oleh Pitung. Dalam satu kesempatan, juragan ini dituliskan jadi korban pelurunya Pitung.

Kejadian ini lantas membuat Hinne melakukan pengejaran. Pada Oktober 1893, berdasarkan seorang informan mengatakan bahwa Pitung sedang menuju perkuburan di Tanah Abang. Ia kemudian dipancing ke daerah Meester Cornelis. Di situ, Hinne yang sudah siap dengan pasukan melakukan pengepungan. Terjadilah baku tembak dengan Pitung yang memakai celana pendek dan sarung revolver.

Baca juga: Memburu Jaeni


Di pertempuran itu, Pitung tertembak di bagian lengan dan tersungkur akibat peluru yang menembus dadanya hingga jatuh. Saat Hinne mendekat, Pitung yang belum kehabisan tenaga menembakkan peluru namun bisa dihindari. Tembakan itu dibalas sebutir peluru ke bawah punggung si Pitung oleh pengawal Hinne.

Pitung yang sekarat kemudian dilarikan ke rumah sakit. Di perjalanan, katanya ia sempat bernyanyi-nyanyi riang di hadapan pengawal. Sebelum tewas bahkan meminta tuak dengan es.

"Tepat sebelum kematiannya, ia masih sempat meminta tuak dengan es. Menurut koran berbahasa Belanda, itu dikabulkan. Namun menurut koran Melayu Hindia Olanda permintaannya ditotak," tulis Margreet.


(bri/doc)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com