Dengan motif yang disengaja, unik, dan menggunakan material khusus sebenarnya Tindar memiliki konsep. Dia membicarakan persoalan krisis migran, eksplorasi identitas, dan karya yang berbicara tentang toleransi hidup beragama. Akar-akar yang dibuatnya seakan tumpah di halaman-halaman, tersembunyi di teks, dan semua potongan karya tampak mencolok.
Dilansir dari situs pribadinya, Jumat (18/11/2016), Tindar menjelaskan tentang karyanya. "Saya suka berpikir tentang sesuatu yang akan berubah, bahwa perubahan itu akan membuat segala sesuatu berubah. Konsep tentang Kesadaran Agama sudah dibuat dari tahun 2012 tapi pesan perdamaiannya untuk masa yang akan mendatang, dan seterusnya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Tindar/pribadi |
Tindar bukan seorang seniman yang memiliki latar belakang seni murni. Dia mendapatkan gelar sarjana di Manajemen Bisnis. Setelah lulus di tahun 2008, ia mulai mencoba-coba menjadi seorang seniman.
"Saya tidak selalu tertarik belajar seni, meski saya suka menggambar. Terkadang saya tidak menikmatinya sebagai seorang anak," lanjutnya.
Foto: Tindar/pribadi |
Pesan-pesan perdamaian yang ditorehkan di karyanya ditulis Tindar di lembaran-lembaran kitab di atas kanvas. Dia menuliskan halaman Alkitab, Al Quran, dan Taurat, lalu menggambar akar-akar pepohonan yang membuatnya jadi lebih estetik. Sejak 2012, Tindar sudah menggelar pameran tunggal dan kolektif di banyak negara, seperti Paris, London, Milan, Istanbul, Palermo, Roma, dan lain-lain.
Simak karya selengkapnya di situs pribadi Tindar di sini http://tindar.it/
(tia/mmu)












































Foto: Tindar/pribadi
Foto: Tindar/pribadi