Sebelumnya, Ria telah menerima karyanya tersebut dari penerbit, Gramedia Pustaka Utama. Dikemas dalam sampul coklat kemerahan, tulisan βRumah Hujanβ didesain sedemikian rupa dengan latar ormanen rumah joglo dan ukiran bunga-bunga. Di bagian tengah ada tulisan kecil, βsebuah novel dan cerita-cerita lainnyaβ. Terdengar tidak lazim?
Ria pun menjelaskan, novelnya ini memang dikembangkan dari karya sebelumnya yang berbentuk cerita pendek. βDi antara sekian banyak cerita pendek yang pernah saya tulis, ada beberapa kisah yang mengusik dan bermukim di benak saya bertahun-tahun lamanya, menunggu dalam sunyi untuk dilahirkan kembali,β tutur perempuan yang dalam kesehariannya memimpin kantor redaksi sebuah majalah seni di Jakarta itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ria melukiskan novelnya sebagai βkisah cinta yang melankolis, sedih, dan dibumbui sentuhan misteriβ. Dikisahkan, Dayu, seorang pelukis, baru saja membeli sebuah rumah kayu kuno, memindahkannya dari tempat asalnya di Purwodadi, Jawa Tengah ke Jakarta.
Ternyata kehadiran rumah yang kemudian difungsikan sebagai studio bagi lukisan-lukisannya itu membuat Dayu dikejar-kejar berbagai mimpi dan kejadian aneh. Tak hanya menimpa dirinya, namun berbagai misteri itu juga dialami oleh orang-orang terdekatnya.
Menurut editor βRumah Hujanβ Hetih Rusli, lewat karyanya kali ini Dewi Ria Utari menampilkan kisah horor dengan cara yang berbeda. βNovel ini bertema horor dan romance. Kebanyakan penulis horor atau pun thriller itu ingin menakut-nakuti pembaca, tapi Rumah Hujan tidak,β ujarnya.
βDi balik kisah horor yang bagus biasanya ada kisah tragis, dan itu yang digali oleh novel ini,β tambah Hetih seraya memuji gaya bertutur Dewi Ria Utari yang dinilainya tenang, mengalir, santai dan tanpa beban.
(mmu/mmu)











































