Laporan dari Singapura

Saleh Husein Bawa Jejak Budaya Arab di Proyek Residensi Singapura

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 28 Jan 2016 16:35 WIB
Foto: Tia Agnes
Gillman Baracks - Sejarah keluarga dan jejak budaya Arab menjadi fokus perhatian seniman Saleh Husein sampai sekarang ini. Selama tiga bulan mendatang, pria yang akrab disapa Ale akan melakukan residensi di NTU Centre for Contemporary Art (CCA) Singapore. Serta karya seni buatannya sedang dipamerkan di Singapore Art Museum (SAM) di eksibisi 'Time of Others' sampai 28 Februari mendatang.

Pencarian Ale bermula ketika teman ayahnya mempertanyakan latar belakang dari marga Husein. Lambat laun, dari setiap pameran dan biennale (pameran seni dua tahunan) Ale menampilkan karya bertemakan kultural Arab.

Kemudian, dia memajang sejarah temuannya tentang politik warga peranakan Arab di era 1930-an. Ale pun menemukan satu tulisan di Harian Matahari pada 1 Agustus 1934. Dari tulisan itu, ada ajakan Abdurrahman Baswedan bagi sesama warga keturunan Arab untuk mengikuti kewarganegaraagn, 'di mana saya lahir, di situlah Tanah Airku'.

Simak: Merasakan Sensasi Koleksi Langka Andy Warhol ala Sirkus di Gillman Baracks!

Pemikiran ini kemudian dibahas dalam Konferensi Pemuda Keturunan Arab, 4-5 Oktober 1934 di Semarang, yang berujung pada deklarasi Sumpah Pemuda Keturunan Arab sebagai bentuk dedikasi terhadap tanah air Indonesia, dan pendirian Partai Arab Indonesia sebagai wadah politik untuk mendukung perjuangan kemerdekaan nusantara. Penjelajahan Saleh Husein berlanjut pada Partai Arab Sosialis Indonesia.



"Gimana orang-orang Arab beradaptasi di lingkungan sekitarnya. Kalau kita melihat budaya China di sini memang bagus tapi orang-orang Arab juga beradaptasi di tempat yang mereka tinggali dan sekarang saya sedang mencari tahu di Singapura," ucapnya kepada detikHOT saat ditemui di Gillman Baracks, pekan lalu.

Kala itu, gitaris White Shoes and The Couples Company (WSATCC) sedang memajang hasil penemuan sementaranya dari residensi di Singapura. Dia menjelaskan bahwa perjalanannya bukan hanya dari persoalan pribadi. "Tapi saya meruntun perjalanan dari kakek dan orang-orang Arab lainnya," lanjut Ale.

Residensinya pun mengalami perjalanan flashback dari Indonesia, Singapura, India, lalu ke Handramaut. Ale pun berencana ingin melakukan perjalanan sampai ke Handramaut. "Setelah itu risetnya selesai. Tapi Maret nanti kayak open studio di sini juga."

Karya-karya yang masih berlangsung dan on progress tersebut baru akan ditampilkannya tiga bulan lagi. Setelahnya, kata Ale, kemungkinannya dia akan memajang karya di Tanah Air. Meski begitu, karya yang dipajang di 'Time of Others' memiliki makna yang terdalam bagi Ale.



"Gimana mereka sebagai warga keturunan Arab, menasionalkan dirinya. Ada satu keputusan yang mereka anggap tuh orang Indonesia, tapi riset saya belum membicarakan soal politik, border, identitas, aturan, dan masih banyak lagi yang mau diriset," ujarnya terkekeh.

Lulusan Seni Lukis Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pernah menggelar pameran tunggalnya 'Riwayat Saudagar' di RURU Gallery Jakarta (2012). Lewat 'Time of Others', karyanya ditampilkan di Singapore Art Museum, National Museum of Art Osaka Jepang, Museum of Contemporary Art Tokyo Jepang. Di tahun 2014, dia pernah berpartisipasi di Roppongi Art Night Exhibition di MORI Museum Tokyo Jepang, dan lain-lain.  

(tia/mmu)